Hoaks Demi Hoaks Menyerang Prabowo, Sparkling Apple Cider Dipelintir

Oleh Agusto Sulistio

ORBITINDONESIA.COM - Belakangan ini ruang media sosial kembali dipenuhi berbagai isu yang diarahkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah soal minuman yang diminum Presiden saat menjamu Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam acara makan malam kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 28 Mei 2025, yang diawali dengan prosesi toast atau salam penghormatan diplomatik antarnegara.

Sebagian pihak langsung menggiring opini seolah minuman yang diminum Presiden adalah minuman keras atau khamar. Bahkan ada yang mencoba membangun persepsi bahwa seorang Presiden di negara mayoritas muslim “berdoa atas nama bangsa” sambil meminum alkohol.

Narasi seperti ini dengan cepat menyebar di media sosial tanpa penjelasan utuh, tanpa verifikasi, dan tanpa keinginan mencari fakta sebenarnya.

Padahal faktanya sangat sederhana.

Minuman yang digunakan dalam jamuan tersebut adalah sparkling apple cider atau jus apel bersoda non-alkohol.

Produk seperti ini memang umum digunakan dalam acara formal internasional sebagai pengganti wine atau champagne alkohol, khususnya untuk tamu atau pejabat yang tidak mengonsumsi alkohol.

Sparkling apple cider dibuat dari 100% jus apel yang dipasteurisasi lalu diberi karbonasi agar menghasilkan sensasi bersoda. Jadi tampilannya memang menyerupai champagne, tetapi substansinya berbeda total karena tidak mengandung alkohol.

Perlu dipahami masyarakat adalah istilah “cider” di dunia internasional memang memiliki dua jenis berbeda, "Sparkling apple cider non-alkohol, hanyalah jus apel bersoda.

Sedangkan Hard cider, hasil fermentasi apel yang mengandung alkohol.

Karena itu, menyimpulkan bahwa Presiden Prabowo meminum khamar hanya karena gelasnya tampak seperti wine glass adalah kesimpulan yang tergesa-gesa dan tidak berdasar.

Apalagi dalam diplomasi internasional, penggunaan gelas dan tata jamuan memang mengikuti standar protokoler kenegaraan dunia. Banyak negara muslim pun melakukan hal yang sama tanpa berarti mengonsumsi alkohol.

Ironisnya, di era media sosial hari ini, sering kali penampilan lebih cepat dihakimi daripada substansi. Foto dipotong, video dipenggal beberapa detik, lalu diberi narasi provokatif agar menimbulkan kemarahan publik. Padahal setelah ditelusuri lebih dalam, faktanya berbeda jauh dari tuduhan yang beredar.

Fenomena seperti ini bukan pertama kali terjadi kepada Presiden Prabowo. Beberapa waktu terakhir, berbagai isu terus dilemparkan oleh pihak-pihak yang tampaknya memang tidak menyukai dirinya.

Mulai dari tuduhan bahwa program makan bergizi gratis dianggap sekadar pencitraan, kebijakan efisiensi anggaran disebut anti-rakyat, hingga langkah pemberantasan mafia impor dan penertiban proyek negara malah dipelintir seolah merugikan masyarakat.

Ketika Presiden memperketat pengawasan proyek dan anggaran negara, muncul tudingan bahwa pemerintah terlalu keras. Padahal publik juga tahu selama bertahun-tahun negeri ini memang menghadapi persoalan broker proyek, permainan tender, mafia impor, hingga kebocoran anggaran yang merugikan negara triliunan rupiah.

Saat pemerintah mencoba membenahi, tentu ada pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu.

Hal yang sama juga terlihat ketika Presiden memberikan bantuan hewan kurban menggunakan fasilitas negara untuk masyarakat. Ada yang menggiring opini negatif seolah itu pemborosan anggaran.

Padahal dalam sejarah pemerintahan Indonesia maupun dunia Islam, para pemimpin memang lazim memberikan bantuan sosial, sedekah, dan hewan kurban kepada rakyatnya sebagai bentuk kepedulian sosial.

Bahkan ketika Presiden aktif menjalin hubungan internasional dengan negara-negara besar demi investasi, perdagangan, dan penguatan ekonomi nasional, sebagian pihak justru memotong momen-momen tertentu untuk membangun persepsi buruk.

Inilah tantangan besar era digital saat ini, informasi sering kalah cepat dibanding opini.

Masyarakat akhirnya perlu lebih bijak dalam menerima setiap isu yang beredar di media sosial.

Jangan sampai kebencian politik membuat orang kehilangan objektivitas dalam melihat fakta. Kritik tentu boleh, bahkan penting dalam demokrasi. Namun kritik yang sehat harus dibangun di atas data, fakta, dan kejujuran, bukan asumsi atau framing.

Karena kalau setiap foto, video, atau potongan acara kenegaraan selalu dicurigai dengan prasangka buruk, maka yang lahir bukan lagi diskusi sehat, melainkan kegaduhan yang sengaja dipelihara.

Soal minuman Presiden Prabowo ini sebenarnya sederhana: yang diminum adalah sparkling apple cider non-alkohol, bukan khamar.

Jadi narasi bahwa Presiden “berdoa atas nama bangsa sambil meminum alkohol” adalah hoaks yang dibangun dari asumsi, bukan fakta.

Kalibata, Sabtu 30 Mei 2026, 21:18 Wib. ***