Jenderal L.B. Moerdani vs B.J. Habibie, dan Batalnya Penjualan Helikoper Super Puma Buatan IPTN ke Iran
ORBITINDONESIA.COM - Pada dekade 1980-an, ketika Perang Irak-Iran tengah berkecamuk dan membelah aliansi global, sebuah episode menarik—sekaligus menegangkan—terjadi di pusat kekuasaan Orde Baru.
Di ruang sidang Bina Graha, Menteri Negara Riset dan Teknologi B.J. Habibie, sang teknokrat kesayangan yang selalu berpikir visioner, dengan penuh percaya diri menyampaikan laporannya di hadapan Presiden Soeharto: IPTN telah sukses menjual dua skuadron helikopter Super Puma ke Iran.
Bagi kalangan sipil, ini adalah sebuah lompatan teknologi dan diplomasi perdagangan. Namun, di mata komunitas intelijen militer, laporan tersebut menyalakan alarm kewaspadaan.
Jenderal L.B. Moerdani, tokoh sentral intelijen yang instingnya selalu diliputi skeptisisme terukur, menangkap adanya keanehan.
Di sebuah rapat intelijen tertutup di Tebet, Benny Moerdani menginstruksikan jajarannya: informasi ini menuntut analisis dan sintesis yang tajam. Operasi observasi dan orientasi segera digelar.
Temuan intelijen saat itu membuka tabir yang mengejutkan. Habibie, secara senyap, berencana mempersenjatai helikopter-helikopter Super Puma tersebut dengan peluru kendali mematikan, Exocet, sebelum dikirim ke Teheran.
Pertanyaan mendasar dalam diplomasi militer pun muncul: apakah Prancis dan Jerman, sebagai pemegang otoritas rudal Exocet, memberikan lampu hijau untuk mempersenjatai Iran? Di hadapan Pak Harto, Habibie mengklaim, "Ya."
Benny Moerdani tidak lantas percaya pada klaim sang menteri. Untuk mencari kebenaran faktual, ia memerintahkan orang kepercayaannya, Teddy Rusdy, melakukan verifikasi lapang langsung ke jantung Eropa.
Teddy, perwira intelijen yang memiliki jejaring pribadi kuat dengan para petinggi industri pertahanan global, segera mengeksekusi misi tersebut. Bergerak cepat menumpang pesawat Concorde dari Singapura pada pukul tujuh pagi, Teddy mendarat di Paris.
Keesokan harinya, tepat pukul sebelas siang waktu setempat, seorang pejabat tinggi Euromissile Prancis secara khusus mendatangi hotel tempat Teddy menginap.
Jawabannya singkat namun berakibat fatal bagi rencana sang teknokrat: Prancis sama sekali tidak pernah menyetujui penjualan senjata itu ke Iran.
Lebih jauh lagi, apabila Jakarta bersikeras melanjutkannya, Indonesia akan berhadapan dengan konsekuensi serius—di-blacklist dan dituntut secara hukum oleh NATO.
Berbekal fakta krusial ini, L.B. Moerdani menghadap ke Cendana keesokan harinya. Di sinilah kita kembali menyaksikan bagaimana Soeharto mengelola kekuasaan dan kekecewaannya melalui gestur politik khas Jawa.
Mendengar laporan intelijen yang mematahkan klaim menterinya, Presiden Soeharto merespons tanpa kata-kata keras. Soeharto hanya tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan tapi pasti. Perlahan-lahan, senyum itu lenyap dari wajahnya.
Dalam bahasa kekuasaan Soeharto, hilangnya senyum itu adalah sebuah titah yang tak terbantahkan. Rencana penjualan helikopter itu pun kandas seketika.
Sebagai catatan penutup dalam sejarah kecil ini, sebuah sumber menyebutkan bahwa pihak Iran sejatinya sudah melakukan proses pembayaran.
Namun, realitas geopolitik dan ketajaman mata intelijen militer membuktikan bahwa ambisi teknologi tidak bisa dibiarkan berjalan melampaui pagar diplomasi dan kalkulasi keamanan negara.
(Sumber: Catatan sejarah oleh Jani Sari II. Disarikan dari buku "70 Tahun Teddy Rusdy", hal. 522)***