Denny JA: Ketika Hidup Lebih Kompleks Ketimbang Doktrin Agama

Ilustrasi dua misionaris menghadapi realita kehidupan.

Ilustrasi dua misionaris menghadapi realita kehidupan.

Opini

Catatan dari London (7)

KETIKA HIDUP LEBIH KOMPLEKS KETIMBANG DOKTRIN AGAMA

- Musical Theater: The Book of Mormon di West End

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Dua misionaris muda tiba dari Amerika dengan jas putih yang rapi, kitab suci di tangan, dan keyakinan bahwa mereka membawa jawaban.

Yang menyambut mereka bukan rasa ingin tahu, melainkan sebuah nyanyian. Penduduk desa menyanyikannya bersama-sama dengan riang, seolah itu lagu penghibur.

Mafala Hatimbi, tetua desa, menjelaskan artinya kepada dua tamu yang kebingungan itu. Kalimat tersebut adalah umpatan yang ditujukan langsung kepada Tuhan.

Ia lalu menyebut alasannya satu per satu. Delapan puluh persen penduduk desa hidup dengan HIV. Seorang panglima perang berkeliaran dengan senjata. Kelaparan datang tanpa musim.

Menyanyikan kalimat itu, katanya, adalah cara mereka bertahan.

Seribu penonton tertawa. Saya ikut tertawa.

Lalu tawa itu berhenti di tenggorokan saya sendiri. Sebab di balik lelucon paling kasar malam itu, ada pertanyaan yang tidak lucu sama sekali: ketika hidup terlalu berat, apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia dari agamanya?

Pada detik itulah saya merasa, bukan hanya para tokoh di atas panggung yang sedang diuji. Kita semua sedang diuji. Sebab hidup sering kali jauh lebih rumit daripada doktrin agama yang kita hafal.

-000-

Saya menyaksikan The Book of Mormon di West End, London. Ini sebuah musikal yang sejak pertama kali dipentaskan di Broadway pada 2011 langsung menuai pujian sekaligus kontroversi. Ditulis oleh Trey Parker, Matt Stone, dan Robert Lopez, karya ini meraih sembilan Tony Awards serta Olivier Award sebagai Best New Musical.

Namun yang membuatnya istimewa bukanlah penghargaan itu. Yang membuatnya terus hidup ialah keberaniannya menggunakan komedi untuk mengajukan pertanyaan paling serius tentang iman, penderitaan, dan makna hidup.

Kisahnya mengikuti dua misionaris muda Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Elder Kevin Price percaya diri, disiplin, dan yakin Tuhan telah menyiapkan masa depan yang indah baginya. Pasangannya, Elder Arnold Cunningham, kikuk, gugup, dan lebih pandai berimajinasi daripada menghafal kitab sucinya.

Mereka berharap diutus ke tempat yang nyaman. Kenyataannya, mereka dikirim ke sebuah desa miskin di Uganda yang diteror panglima perang, dihantui AIDS, dan dikepung kemiskinan.

Penduduk desa tidak bertanya tentang surga. Mereka bertanya bagaimana bertahan hidup sampai esok pagi.

Hanya satu suara yang bergerak ke arah lain. Nabulungi, putri sang tetua desa, menyanyikan mimpinya tentang sebuah tempat jauh yang ia dengar dari para misionaris. Ia mengejanya salah — Sal Tlay Ka Siti. Ia membayangkan kota tempat lalat tidak hinggap di mata bayi dan setiap orang punya cukup makanan.

Penonton tertawa mendengar salah eja itu. Namun lagu itu bukan lelucon. Nabulungi tidak sedang mencari doktrin yang benar. Ia sedang mencari alasan untuk percaya bahwa besok mungkin berbeda.

Price tetap menyampaikan ajaran sebagaimana tertulis. Hampir tak seorang pun tertarik. Cunningham kemudian melakukan sesuatu yang sama sekali tidak diajarkan di pusat pelatihan misionaris.

Ia mencampurkan kisah Kitab Mormon dengan Alkitab, Star Wars, The Lord of the Rings, Star Trek, dan berbagai cerita rekaan lain.

Secara teologis semuanya berantakan. Namun justru melalui cerita-cerita yang dekat dengan imajinasi mereka, masyarakat mulai mendengarkan. Mereka tertawa, memperoleh harapan, dan menemukan keberanian untuk menjalani hidup.

Di situlah letak ironi musikal ini. Cerita yang tidak akurat secara doktrinal justru membuka ruang bagi perubahan hidup, sementara ajaran yang sangat akurat gagal menyentuh hati orang-orang yang sedang terluka.

Pertanyaan terbesar yang dibawa pulang penonton bukanlah apakah semua kisah itu benar secara historis. Pertanyaannya jauh lebih mengganggu. Ketika hidup berada di ambang kehancuran, apakah manusia pertama-tama membutuhkan kepastian, atau justru harapan yang membuatnya sanggup bertahan?

-000-

Yang paling mengguncang saya bukan kelucuannya. Saya memang tertawa bersama ribuan penonton di Prince of Wales Theatre. Namun setiap kali tawa mereda, muncul keheningan yang jauh lebih dalam.

Di sekeliling saya, tawa masih bergulung dari berbagai sudut teater. Ada pasangan lanjut usia yang saling menepuk bahu sambil tertawa, sekelompok mahasiswa yang bertepuk tangan, dan beberapa penonton yang diam menatap panggung setelah lagu berakhir.

Datang dengan latar belakang keyakinan yang berbeda, tetapi malam itu kami dipertemukan oleh pertanyaan yang sama tentang rapuhnya kehidupan manusia.

Saya teringat begitu banyak perdebatan agama yang saya saksikan sepanjang hidup. Orang memperdebatkan ayat, sejarah, dan doktrin dengan semangat luar biasa. Namun ketika berhadapan dengan mereka yang kehilangan anak, pekerjaan, rumah, atau harapan, kemenangan argumentasi sering kali terasa begitu kecil.

Saya tidak menangkap pesan bahwa musikal ini menganggap kebenaran tidak penting. Yang saya tangkap justru lebih halus. Kebenaran yang gagal menghadirkan belas kasih perlahan kehilangan daya hidupnya. Sebaliknya, belas kasih sering kali menjadi pintu yang membuat manusia perlahan menemukan kebenaran.

-000-

Ada tiga alasan mengapa The Book of Mormon layak dikenang jauh melampaui kontroversinya.

Pertama, manusia tidak hidup hanya oleh fakta. Manusia juga hidup oleh makna. Penduduk desa di Uganda tidak sedang mencari perdebatan teologis. Mereka mencari alasan untuk tetap bangun esok pagi di tengah perang, penyakit, dan kematian.

Kedua, musikal ini mengkritik kepastian yang berlebihan. Elder Price datang dengan keyakinan bahwa ia telah memiliki hampir semua jawaban. Kehidupan memperlihatkan kenyataan yang jauh lebih rumit.

Ia belajar bahwa iman yang dewasa bukanlah keyakinan bahwa kita selalu benar, melainkan kerendahan hati untuk terus belajar ketika realitas mengguncang seluruh kepastian.

Ketiga, dunia tidak terutama berubah oleh mereka yang memiliki argumen paling kuat. Dunia lebih sering berubah oleh mereka yang bersedia hadir ketika orang lain menderita. Kehadiran yang tulus kerap lebih menyembuhkan daripada penjelasan yang paling cemerlang.

-000-

Saat lampu teater menyala kembali, saya tetap duduk beberapa menit. Saya tidak sedang memikirkan kontroversi musikal itu. Yang terus berputar dalam benak saya justru tiga pertanyaan sederhana.

Apakah selama ini saya lebih sibuk mempertahankan kebenaran daripada menghadirkan kasih? Apakah saya cukup rendah hati ketika pengalaman hidup mengguncang keyakinan yang selama ini saya anggap pasti?

Dan ketika seseorang datang membawa luka, apakah saya benar-benar hadir sebagai sahabat, atau hanya datang membawa jawaban?

Saya meninggalkan Prince of Wales Theatre dengan langkah yang lebih lambat daripada ketika datang. Di luar, lampu-lampu West End tetap berkilau. Wisatawan memenuhi trotoar, restoran masih ramai, dan London berjalan seperti biasa.

Namun dalam diri saya, sesuatu telah bergeser.

-000-

Ada dua buku yang memperkaya pembacaan terhadap musikal ini.

Yang pertama adalah Fear and Trembling karya Søren Kierkegaard. Melalui kisah Abraham dan Ishak, Kierkegaard menunjukkan bahwa iman tidak berhenti pada kepastian intelektual.

Iman adalah keberanian berjalan bersama Tuhan ketika seluruh jawaban belum tersedia. Perspektif ini membantu kita melihat bahwa pertanyaan terbesar musikal tersebut bukanlah siapa yang paling benar, melainkan bagaimana manusia tetap setia pada makna ketika hidup dipenuhi paradoks.

Buku kedua ialah The Uses of Enchantment karya Bruno Bettelheim. Bettelheim menjelaskan bahwa dongeng bertahan selama berabad-abad bukan terutama karena dapat dibuktikan secara historis, melainkan karena simbol dan cerita memberi makna bagi jiwa manusia.

Kisah-kisah itu membantu manusia menghadapi ketakutan, kehilangan, harapan, dan kematian dengan cara yang tidak mampu dilakukan oleh data semata. Gagasan ini membantu menjelaskan mengapa sebuah cerita yang fiktif sekalipun dapat menggerakkan hidup jauh melampaui sekadar penyampaian fakta.

-000-

Tentu saja pembacaan seperti ini dapat mengundang keberatan. Bila manfaat sebuah kisah lebih ditekankan daripada kebenaran historisnya, agama berisiko berubah menjadi sekadar terapi psikologis. Tanpa fondasi kebenaran, setiap cerita dapat dibenarkan selama dianggap membawa manfaat.

Keberatan itu layak dihargai. Tidak ada peradaban yang dapat bertahan bila melepaskan diri dari komitmen terhadap kebenaran.

Namun menurut saya, The Book of Mormon tidak mengajak kita memilih antara kebenaran dan kasih. Musikal ini justru mengingatkan bahwa keduanya harus berjalan bersama.

Kebenaran memberi arah agar manusia tidak tersesat. Kasih memberi kehidupan agar kebenaran tidak berubah menjadi batu yang melukai sesama.

Barangkali karena itulah Yesus lebih sering hadir di tengah orang-orang yang terluka daripada di tengah mereka yang sibuk memenangkan perdebatan. Ia tidak mengurangi arti kebenaran. Ia memperlihatkan bahwa kebenaran mencapai puncaknya ketika menjelma menjadi kasih yang hidup.

Namun hari ini, pencarian akan jawaban tidak lagi berhenti pada ruang-ruang teologi. Manusia modern bergegas berpaling pada algoritma, menggeledah data demi menemukan kepastian yang makin melenyapkan kepekaan rasa.

-000-

Lompatan ke era kecerdasan buatan kini menghadirkan paradoks serupa. Algoritma memberikan kepastian data dan jawaban instan, persis seperti doktrin kaku yang menawarkan formula tanpa empati.

Namun, data tanpa jiwa gagal merawat rasa hampa. Seperti masyarakat desa di Uganda, manusia modern tak sekadar membutuhkan kalkulasi presisi, melainkan kehadiran yang mampu mendengar luka dan menyalakan harapan di tengah ketidakpastian.

Saya datang ke Prince of Wales Theatre sebagai penonton sebuah komedi musikal. Saya pulang membawa satu wajah yang tidak bisa saya lupakan: seorang perempuan muda yang salah menyebut nama kota impiannya, dan tetap berjalan ke arah itu.

Barangkali begitulah cara iman bekerja pada sebagian besar manusia. Bukan sebagai peta yang akurat, melainkan sebagai alasan untuk melangkah.

Pada akhirnya, Tuhan mungkin tidak pertama-tama bertanya seberapa banyak kebenaran yang kita menangkan, melainkan seberapa banyak kasih yang kita hidupkan.*

London, 28 Juli 2026

REFERENSI

1. Fear and Trembling. Søren Kierkegaard. Penguin Classics. 1843.

2. The Uses of Enchantment: The Meaning and Importance of Fairy Tales. Bruno Bettelheim. Vintage Books. 1976.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/1Dkmtb2Tpq/?mibextid=wwXIfr