Mengulas Buku Narudin: Ketika Kritik Sastra Memburu “Makna yang Luput”

Ilustrasi buku "Makna yang Luput: Kritik Kontemporer 63 Buku Puisi" karya Narudin.

Ilustrasi buku "Makna yang Luput: Kritik Kontemporer 63 Buku Puisi" karya Narudin.

Review Buku

ORBITINDONESIA.COM - Ada buku kritik sastra yang membuat kita semakin memahami sebuah karya. Ada pula buku kritik yang membuat kita justru kembali curiga kepada kata-kata yang selama ini kita anggap sederhana. Makna yang Luput: Kritik Kontemporer 63 Buku Puisi karya Narudin termasuk jenis yang kedua.

Diterbitkan Mahara Publishing pada 2017, buku setebal 530 halaman ini membahas 63 buku puisi karya sejumlah penyair Indonesia. Namun, buku ini tidak sekadar menyajikan 63 resensi. Narudin menggunakan puisi-puisi yang dibacanya sebagai semacam laboratorium untuk menguji bahasa, tanda, metafora, struktur, kontradiksi, filsafat, bahkan pengalaman spiritual.

Judul Makna yang Luput sekaligus menjadi pintu masuk untuk memahami proyek kritik Narudin. Ia tampaknya berangkat dari keyakinan bahwa sebuah puisi tidak pernah habis hanya dengan pembacaan di permukaan. Di balik sebuah kata, metafora atau susunan kalimat mungkin terdapat lapisan makna yang tidak segera terlihat.

Ketika membahas Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, misalnya, Narudin menyebut puisi-puisi Sapardi sebagai puisi “pseudo-kosmos-elusif”. Menurutnya, kesederhanaan puisi Sapardi justru menyimpan struktur tertentu yang membutuhkan perangkat pembacaan khusus untuk menangkap gagasan yang tersembunyi di dalamnya.

Dari sini terlihat bahwa Narudin tidak menempatkan kritik sastra sebagai pekerjaan memberi penilaian sederhana—bagus atau buruk, indah atau tidak indah. Ia ingin masuk lebih jauh: bagaimana sebuah puisi membangun maknanya?

Membaca puisi seperti membedah tanda

Salah satu kekuatan buku ini adalah ketelitian Narudin terhadap bahasa. Ia memperhatikan pilihan kata, metafora, hubungan antarbait, repetisi, kontradiksi, bahkan sesuatu yang mungkin dianggap sepele oleh pembaca biasa.

Dalam membaca puisi Syarifuddin berjudul “Tentang Cinta”, misalnya, Narudin tidak berhenti pada tema romantisme. Ia membedah kata-kata seperti “menyengak”, “sengsara”, “menyengat”, “berduri”, dan “darah berceceran”. Ia mempertanyakan mengapa cinta justru dibangun melalui kosakata yang mengandung penderitaan.

Cara membaca semacam ini membuat Narudin lebih mirip seorang forensik teks. Ia membongkar puisi lapis demi lapis untuk mencari bagaimana makna dibentuk.

Dalam pembahasan lain, ia bahkan mempermasalahkan hubungan logis antara sejumlah larik. Pada puisi Ahda Imran, misalnya, ia menguji hubungan antara “tubuh-Ku”, “darah-Ku” dan kata imperatif “minumlah”, lalu menemukan persoalan koherensi dalam konstruksi maknanya.

Di tangan Narudin, puisi bukan sekadar luapan perasaan. Ia adalah konstruksi bahasa yang dapat diperiksa, diuji dan diperdebatkan.

Kritik sastra yang tidak selalu ramah

Hal lain yang menarik adalah keberanian Narudin menjadi kritikus.

Dalam banyak tulisan tentang sastra, terutama ketika yang dibicarakan adalah karya teman atau sesama komunitas, kritik mudah berubah menjadi pujian. Narudin mengambil jalan berbeda. Ia tidak segan menunjukkan kelemahan sebuah puisi.

Dalam membahas karya Marina, misalnya, ia menilai penyair tersebut masih mencari bentuk dan belum sepenuhnya berhasil mempertemukan keterampilan berbahasa dengan kecerdasan puitik.

Bahkan terhadap penggunaan kata-kata yang berasal dari dunia ilmiah, ia bersikap kritis. Kata seperti “plasma” dan “frekuensi” menjadi bagian dari pembahasannya ketika ia menilai sejauh mana kosakata tersebut berhasil bekerja secara puitik.

Sikap semacam ini merupakan kekuatan sekaligus persoalan dalam buku tersebut. Narudin memperlihatkan bahwa kritik sastra seharusnya bukan sekadar ruang untuk saling memuji. Kritik juga harus berani menunjukkan ketika sebuah karya belum selesai secara estetik.

Namun, pada saat yang sama, pembaca dapat mempertanyakan ukuran yang digunakan. Apakah penggunaan kata “plasma” atau “frekuensi” otomatis menjadi problem dalam puisi? Bukankah puisi modern justru kerap berkembang dengan memasukkan bahasa sains, teknologi, politik dan kehidupan sehari-hari?

Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata kata apa yang digunakan, melainkan apakah kata tersebut bekerja secara puitik dalam konteks keseluruhan teks.

Di sinilah pembaca mungkin tidak selalu harus setuju dengan Narudin.

Ketika teori datang terlalu jauh

Narudin memiliki perbendaharaan teori yang luas. Ia bergerak dari semiotika dan linguistik menuju strukturalisme, dekonstruksi, eksistensialisme, fenomenologi, psikologi, estetika dan pemikiran keagamaan.

Nama-nama pemikir besar menjadi bagian dari percakapan kritiknya. Dalam sejumlah pembahasan muncul gagasan-gagasan yang berkaitan dengan Kierkegaard, Sartre, Derrida, Aristoteles, Husserl, Iqbal, Rumi dan pemikir lainnya.

Keluasan ini membuat buku tersebut kaya secara intelektual. Tetapi sekaligus menghadirkan persoalan: kadang-kadang teori terasa lebih besar daripada puisi yang sedang dibicarakan.

Sebuah puisi pendek dapat membawa pembaca menuju eksistensialisme, semiotika, dekonstruksi dan filsafat ketuhanan. Bagi pembaca yang menyukai pergulatan teori, hal ini tentu mengasyikkan. Tetapi bagi pembaca umum, perjalanan tersebut bisa terasa melelahkan.

Ada saat ketika pembaca mungkin merasa bahwa ia sedang membaca kuliah filsafat, bukan kritik puisi.

Namun, justru di situlah karakter Makna yang Luput. Buku ini memang tidak dirancang sebagai kritik sastra populer.

Puisi, filsafat dan spiritualitas

Sisi lain yang menonjol adalah kuatnya dimensi spiritual dalam sejumlah pembacaan Narudin.

Ia tidak melihat sastra semata-mata sebagai permainan bahasa atau produk sosial. Puisi juga dapat menjadi jalan menuju pertanyaan mengenai Tuhan, iman, kematian dan keberadaan manusia.

Dalam pembahasannya terhadap karya Eddy Pramduane, misalnya, Narudin sampai pada kesimpulan bahwa alasan menulis sajak dapat dirumuskan melalui baris, “Dengan sajak aku menghadap Tuhan-ku.”

Di sini sastra memperoleh fungsi yang lebih luas: bukan hanya estetika, tetapi juga pencarian makna.

Perspektif ini membuat Makna yang Luput menarik dibaca dalam konteks tradisi sastra Indonesia yang memiliki hubungan panjang antara puisi, filsafat dan spiritualitas.

Ketika puisi diperlakukan seperti argumen

Namun, ada satu persoalan metodologis yang patut diperhatikan.

Narudin sering menguji puisi dengan ukuran koherensi logis. Ketika menemukan kontradiksi, ia memperlakukannya sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan atau bahkan dikritik.

Pendekatan itu sah sebagai salah satu metode pembacaan. Tetapi puisi tidak selalu bekerja seperti esai filsafat.

Puisi mempunyai hak untuk menggunakan paradoks, ambiguitas, lompatan imajinasi, mimpi dan bahkan ketidaklogisan. Sesuatu yang secara logis tampak bertentangan belum tentu gagal secara puitik.

Karena itu, ketika Narudin menemukan “inkoherensi” dalam sebuah puisi, pembaca masih dapat mengajukan pertanyaan lanjutan: apakah itu benar-benar kesalahan, atau justru strategi artistik penyair?

Pertanyaan semacam inilah yang membuat kritik Narudin menarik untuk diperdebatkan.

Buku kritik yang mengajak pembaca ikut menjadi kritikus

Pada akhirnya, kekuatan terbesar Makna yang Luput justru bukan pada apakah seluruh kesimpulan Narudin benar.

Nilai buku ini terletak pada kemampuannya mendorong pembaca untuk tidak menerima puisi secara pasif.

Narudin mengajak kita memperhatikan sesuatu yang mungkin sebelumnya kita lewati: satu kata, satu metafora, satu repetisi, satu kontradiksi, bahkan hubungan antara judul dan isi.

Dengan begitu, pembaca tidak hanya membaca puisi. Pembaca juga belajar membaca cara dirinya sendiri membaca puisi.

Itulah sebabnya buku ini lebih tepat dipandang sebagai sebuah demonstrasi praktik kritik sastra daripada sekadar kumpulan resensi terhadap 63 buku puisi.

Narudin memperlihatkan bahwa kritik sastra dapat menjadi proses investigasi: dari teks menuju tanda, dari tanda menuju struktur, dari struktur menuju konteks, dan dari konteks menuju pertanyaan yang lebih besar tentang manusia dan keberadaan.

Tetapi ia juga menunjukkan risiko yang melekat dalam pekerjaan seorang kritikus. Ketika perangkat teori terlalu dominan, kritikus bisa saja menemukan makna yang sebenarnya lebih banyak berasal dari horizon pemikirannya sendiri daripada dari teks yang sedang dibaca.

Dan di sinilah paradoks Makna yang Luput menjadi menarik.

Apakah makna yang luput itu memang tersembunyi di dalam puisi? Ataukah ia muncul karena kritikus membawa cahaya tertentu untuk meneranginya?

Pertanyaan tersebut mungkin tidak mempunyai jawaban tunggal. Tetapi justru karena itulah buku Narudin layak dibaca.

Sebab sastra yang baik tidak hanya membuat kita menemukan makna.

Sastra yang baik juga membuat kita sadar bahwa makna selalu mungkin luput dari genggaman. ***