Dimas Supriyanto: AHY Lebih Ganteng, Lalu Apa?
Oleh Dimas Supriyanto, jurnalis senior
ORBITINDONESIA.COM - Ada gejala menarik dalam politik Indonesia menjelang Pilpres 2029. Sebagian pengagum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tampaknya telah menemukan ukuran baru untuk menentukan siapa yang layak menjadi presiden: ketampanan, keanggunan, gaya bicara dan kesan elite.
Menurut logika ini, AHY lebih layak menjadi wakil presiden berikutnya, dibanding Gibran Rakabuming Raka karena AHY lebih ganteng, lebih rapi, lebih tenang, lebih elegan dan yang paling menarik - AHY lebih "terlihat seperti presiden".
Maaf, tetapi kalau begitu kita tidak sedang memilih presiden. Kita sedang memilih “cover majalah politik”.
AHY memang tampan. Tidak ada masalah dengan fakta itu. Ia juga mempunyai pendidikan, pengalaman militer, pengalaman politik, pengalaman pemerintahan dan posisi penting sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.
Semua itu modal yang sah.
Tetapi ada satu pertanyaan yang seharusnya membuat para pengagumnya berhenti sejenak: Di mana bukti bahwa ketampanan dan keanggunan itu lebih kuat daripada mandat elektoral?
Mari kita bicara dengan angka : Pada Pilgub DKI Jakarta 2017, AHY-Sylviana Murni memperoleh 937.955 suara atau 17,05 persen. Mereka berada di posisi ketiga, jauh di belakang Ahok-Djarot dengan (42,99%) dan Anies-Sandiaga dengan 39,95 %.
Karena tidak masuk dua besar, AHY tersingkir dan tidak ikut putaran kedua.
Tidak perlu menghina AHY karena kekalahan itu. Tetapi jangan pula menghapusnya dari CV politik hanya karena sekarang fotonya terlihat sangat cocok untuk baliho kepresidenan.
Sekarang lihat Gibran. Pada Pilkada Solo 2020, Gibran-Teguh memperoleh 225.451 suara (86,53%). Lawannya memperoleh 13,45 %.
Sekarang silakan kembali kepada pertanyaan tadi: Siapa yang lebih mempunyai bukti bahwa dirinya mampu memenangkan kepercayaan pemilih? Jawabannya tentu tidak otomatis "Gibran pasti lebih hebat".
Demokrasi tidak bekerja sesederhana itu.
Tetapi juga tidak masuk akal mengatakan AHY lebih layak hanya karena ia terlihat lebih elegan.
Di sinilah standar ganda para pengagum AHY menjadi lucu. Gibran dikatakan "anak Jokowi". Dan mengenyampingkan AHY adalah anak SBY. Gibran dianggap naik karena bapaknya. Tetapi nama SBY jelas bukan beban politik yang ringan dalam perjalanan AHY menjadi Ketua Umum Demokrat.
Gibran dituduh tidak memiliki legitimasi karena memperoleh panggung dari dinasti politik. Tetapi apakah seseorang yang menjadi ketua umum partai karena berada di pusat dinasti politik keluarganya otomatis terbebas dari persoalan dinasti? Tentu tidak.
Kalau nepotisme adalah masalah, ukur dengan standar yang sama. Jangan ketika nama belakangnya Yudhoyono disebut "legacy", tetapi ketika nama belakangnya Rakabuming disebut "nepotisme".
Jangan ketika satu anak presiden disebut "penerus tradisi", sementara anak presiden lainnya disebut "produk bapaknya".
Itu bukan analisis politik. Itu fanatisme yang mengenakan jas. Dan di sinilah persoalan AHY sebenarnya menjadi jauh lebih menarik.
AHY tidak perlu menjadi Gibran. Ia juga tidak perlu membuktikan bahwa dirinya lebih ganteng, lebih elegan atau lebih "presidensial".
Ia - Agus Harimurti Yudhoyono harus membuktikan sesuatu yang jauh lebih sulit: bahwa rakyat Indonesia mempunyai alasan untuk memilihnya.
Kalau AHY memang memiliki kapasitas lebih besar, tunjukkan melalui prestasi pemerintahan. Kalau dia memiliki visi lebih baik, jelaskan kebijakannya.
Kalau dia lebih mampu memimpin Indonesia, tunjukkan rekam jejaknya. Jangan menjadikan wajah sebagai program pembangunan.
Jangan menjadikan jas sebagai visi-misi. Dan jangan menjadikan keturunan sebagai sertifikat kompetensi.
Gibran memang mempunyai persoalan politiknya sendiri. Pengaruh Jokowi dalam karier politiknya adalah fakta yang tidak perlu disangkal. Tetapi justru karena itu, Gibran harus diuji dengan kinerja selama menjadi Wakil Presiden.
AHY juga mempunyai persoalan politiknya sendiri. Nama SBY jelas merupakan modal besar dalam kariernya. Karena itu, AHY juga harus diuji berdasarkan apa yang ia lakukan dengan modal tersebut. Pada akhirnya, Pilpres 2029 bukan pertandingan antara anak SBY melawan anak Jokowi.
Bukan pertandingan antara wajah tampan melawan wajah biasa. Bukan pula kompetisi siapa yang paling pantas difoto dengan latar Istana. Indonesia membutuhkan presiden, bukan model katalog politik.
Jadi kepada para pengagum AHY yang berkata, "Lihat saja, AHY lebih ganteng, lebih elegan, lebih meyakinkan daripada Gibran," jawabannya sederhana:
Indonesia tidak sedang memilih menantu. Indonesia sedang memilih pemimpin. ***