Review Confessions II Madonna: Sekuel Confessions on a Dancefloor Dipuji

ORBITINDONESIA.COM – Review Confessions II Madonna sudah membuat kritikus “menari” bahkan sebelum albumnya rilis 3 Juli. Sekuel Confessions on a Dancefloor ini disebut sebagai karya terbaik Madonna dalam 20 tahun, meski beberapa catatan tetap muncul.

Artikel sumber menulis bahwa sekuel yang sangat dinanti dari album dance Madonna tahun 2005, “Confessions on a Dancefloor,” belum dirilis, tetapi sudah memantik pujian luas. Ulasan untuk album studio ke-15 sang Queen of Pop menyebut proyek ini membuat para kritikus antusias dan terkesan.

Roisin O’Connor dari The Independent menyorot satu benang merah: Madonna “melepaskan” beban lama, merujuk lirik yang menyuruh “let it go.” O’Connor menilai momen itu terasa nyata ketika Madonna membahas ganjalan yang dulu tak terucap dengan putrinya, Lourdes, di lagu “The Test.”

O’Connor juga menyebut Madonna menerima kenyataan bahwa sosok pemain gitar di St Mark’s Place yang berwajah seperti Marlon Brando “bukan untuknya.” Ia menyimpulkan, sikap “melapaskan” itu menghasilkan musik terbaik Madonna dalam dua dekade.

Alexis Petridis dari The Guardian memberi nilai empat dari lima bintang dan menilai Madonna jauh lebih “di rumah” di ranah dance yang ia kuasai. Ia membandingkannya dengan eksperimen Madonna sebelumnya, seperti memasukkan trap di “Rebel Heart” atau duet dengan Maluma di “Madame X” yang dianggap mencoba menempel pada tren pop Latin.

Petridis menangkap kepercayaan diri album ini dari keputusan membiarkan bagian instrumental berjalan panjang seperti gaya remix 12 inci. Ia juga menilai liriknya lebih berani, karena Madonna tampak cukup nyaman untuk rentan, meski masih ada sedikit gaya pamer “B—h-I’m-Madonna.”

Namun, Petridis menegaskan ini “bukan semuanya kabar baik.” Ia mengkritik durasi album yang hampir 10 menit lebih panjang dari album pertama dan merasa ada beberapa track house yang bisa dipangkas, termasuk “Love Sensation” dan “School.”

Artikel sumber menyebut single “Danceteria” sebagai yang paling dekat dengan “Hung Up” dari album 2005. Petridis menilai, meski mungkin tidak sebaik “Confessions on a Dance Floor,” album ini tetap yang terbaik sejak era itu dan bisa menarik kembali pendengar yang sempat meninggalkan Madonna.

NME melalui Nick Levine juga memberi empat dari lima bintang dan menyebut Madonna membuat album paling vital dalam lebih dari dua dekade. Levine menekankan Madonna menarik benang dari masa lalu, baik secara personal maupun musikal, dan “grande dame” ini masih tahu cara membuat publik bergerak.

BBC lewat Mark Savage menilai 30 menit pertama album ini “impeccable,” tetapi ada “sedikit lemak” di bagian tengah. Savage menambahkan proyek ini sangat autobiografis, menyentuh karier panjang “Material Girl,” relasi yang dulu “tegang” dengan Lourdes, hingga wafatnya sang saudara, Christopher.

Gelombang pujian untuk Confessions II memperlihatkan satu hal: publik rindu Madonna yang tidak sekadar mengejar tren, tetapi memimpin lantai dansa dengan identitasnya sendiri. Ketika kritik menyebut ia “lebih at home,” itu terdengar seperti pengakuan bahwa eksperimen lintas-genre kadang membuat persona Madonna tampak terpecah.

Di sini, “kembali” tidak dibaca sebagai mundur, melainkan sebagai rekonsiliasi dengan warisan yang ia bangun sendiri. Narasi “let it go” juga terasa sebagai strategi artistik: emosi pribadi dijadikan mesin ritme, bukan sekadar catatan harian yang ditumpahkan tanpa bentuk.

Catatan soal durasi dan track yang kurang menonjol penting dibaca sebagai peringatan klasik untuk album modern yang ingin terasa “besar.” Di era streaming, panjang album sering menggoda, tetapi kritik Petridis mengingatkan bahwa ketatnya kurasi justru bisa membuat album dance lebih tajam dan lebih sering diputar ulang.

Jika ulasan-ulasan ini akurat, Confessions II Madonna bukan hanya nostalgia untuk penggemar “Confessions on a Dancefloor,” tetapi juga bukti bahwa pop veteran bisa terdengar segar lewat kejujuran. Rilis 3 Juli akan menjadi ujian: apakah energi “comeback” ini bertahan di telinga publik yang serba cepat.

Pada akhirnya, daya tarik Madonna sering muncul ketika ia berani mengakui kehilangan, lalu mengubahnya menjadi gerak. Pertanyaannya, setelah ia “melepaskan,” apa yang akan ia bangun berikutnya dari ruang kosong yang ditinggalkan? (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juli 2026)