Spider-Man Terbaru Diterpa Seruan Boikot, Bukan karena Ceritanya, tetapi karena Sosok Produsernya
ORBITINDONESIA.COM - Film Spider-Man: Brand New Day bahkan belum resmi tayang di bioskop, tetapi sudah lebih dulu menjadi bahan perdebatan di media sosial. Bukan karena alur cerita, kualitas visual, atau pilihan pemerannya, melainkan karena keterlibatan salah satu produser film tersebut yang memicu kontroversi di tengah memanasnya konflik Gaza.
Dalam beberapa hari terakhir, berbagai unggahan di platform X, Instagram, Facebook, hingga TikTok ramai menyerukan boikot terhadap film terbaru Spider-Man itu.
Seruan tersebut muncul setelah sebagian aktivis pro-Palestina menyoroti keterlibatan Avi Arad, produser veteran Hollywood kelahiran Israel yang telah lama menjadi salah satu tokoh penting di balik franchise Spider-Man.
Bagi sebagian pengkritik, Avi Arad dinilai memiliki sikap yang mendukung Israel dalam perang di Gaza. Atas dasar itu, mereka mengajak masyarakat untuk tidak menonton Spider-Man: Brand New Day sebagai bentuk protes.
Menurut mereka, membeli tiket film tersebut sama saja dengan memberikan dukungan finansial kepada sosok yang mereka anggap berpihak pada operasi militer Israel.
Kontroversi ini memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik kini semakin merambah dunia hiburan global. Sebuah film yang pada dasarnya merupakan karya fiksi tentang pahlawan super tiba-tiba ikut terseret dalam perdebatan politik internasional.
Namun demikian, penting dicatat bahwa sasaran utama kampanye boikot bukanlah Marvel Studios maupun Sony Pictures sebagai rumah produksi film tersebut. Kritik lebih banyak diarahkan kepada Avi Arad sebagai salah satu produser. Selain Arad, film ini juga diproduseri oleh Kevin Feige, Amy Pascal, dan Rachel O'Connor.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Sejak perang Gaza kembali memanas, berbagai kampanye boikot terhadap individu, perusahaan, hingga produk hiburan yang dianggap memiliki hubungan dengan Israel terus bermunculan.
Dunia perfilman Hollywood pun tidak luput dari dampaknya. Sejumlah aktor, sutradara, festival film, hingga rumah produksi pernah menjadi sasaran protes dari kelompok pro-Palestina maupun kelompok pro-Israel.
Meski demikian, besarnya gaung kampanye di media sosial belum tentu berbanding lurus dengan dampaknya terhadap industri film. Hingga kini belum ada bukti kuat bahwa seruan boikot terhadap Spider-Man: Brand New Day telah memengaruhi prospek komersialnya secara signifikan.
Bahkan, sejumlah analis industri perfilman memperkirakan film tersebut tetap akan mencatat pembukaan (opening weekend) yang kuat di box office global. Hal itu tidak lepas dari besarnya basis penggemar Spider-Man yang telah terbentuk selama bertahun-tahun serta tingginya antusiasme publik terhadap kelanjutan kisah Peter Parker di Marvel Cinematic Universe.
Kasus ini kembali menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah cara publik berinteraksi dengan industri hiburan. Film kini tidak lagi dinilai semata dari kualitas cerita atau kemampuan para aktornya.
Identitas produser, pandangan politik para pelaku industri, hingga posisi mereka terhadap isu-isu global dapat ikut memengaruhi persepsi sebagian penonton.
Pada akhirnya, kontroversi Spider-Man: Brand New Day menjadi contoh bagaimana batas antara hiburan dan politik semakin kabur. Di era digital, sebuah film superhero pun tidak sepenuhnya bisa lepas dari dinamika konflik internasional.
Namun, apakah seruan boikot di media sosial akan benar-benar memengaruhi keberhasilan film tersebut di bioskop, jawabannya baru akan terlihat ketika angka penjualan tiket mulai berbicara. ***