Tabrakan Galaksi dan Angin Bintang: Kunci Galaksi Mati Muda
ORBITINDONESIA.COM – Tabrakan galaksi di alam semesta awal ternyata bukan sekadar drama kosmik, melainkan pemicu “angin bintang” yang dapat mematikan pembentukan bintang. Data James Webb Space Telescope (JWST) dan ALMA pada sistem CRISTAL-02 menguatkan dugaan bahwa galaksi bisa “hidup cepat, mati muda” hanya dalam rentang ratusan juta tahun.
Artikel sumber menjelaskan paradoks kosmologi yang kini sering dibahas: pengamatan JWST menunjukkan galaksi menjadi sangat masif dalam 1 miliar tahun pertama setelah Big Bang. Lebih mengejutkan, banyak di antaranya sudah berhenti membentuk bintang dan menjadi quiescent sekitar 1 miliar tahun kemudian.
Sebelumnya, “angin galaksi” lama dicurigai sebagai pelaku yang memadamkan kelahiran bintang. Namun astronom kekurangan bukti langsung bahwa mekanisme ini benar-benar efektif pada fase sangat dini sejarah kosmik.
Tim internasional memotret CRISTAL-02 sebagaimana wujudnya sekitar 1 miliar tahun setelah Big Bang dengan JWST dan teleskop radio ALMA di Gurun Atacama. Sistem ini adalah gabungan beberapa galaksi, dengan massa bintang sekitar 10 miliar kali Matahari, menandai tahap lanjut tabrakan multigalaksi.
Yang paling mencolok adalah “cerobong” gas raksasa, panjangnya hampir menyaingi sistem galaksinya, melaju ratusan mil per detik dan lolos ke ruang antargalaksi. Total gas yang terhembus diperkirakan setara 1,5 miliar massa Matahari, angka yang menandakan hilangnya bahan baku pembentuk bintang dalam skala ekstrem.
Menurut penulis studi, hembusan ini dipicu ledakan pembentukan bintang yang cepat sekaligus kematian bintang masif dalam supernova. Dalam tabrakan galaksi, awan gas besar tersengat gelombang kejut, lalu melahirkan bintang-bintang raksasa yang mati hanya dalam beberapa juta tahun.
Angin radiasi dari bintang muda dan sisa bintang yang meledak kemudian mengacaukan gas molekuler dingin. Gas yang seharusnya runtuh oleh gravitasi untuk membentuk bintang baru justru terenergikan dan tercerai-berai sebelum sempat “mengandung” generasi berikutnya.
Rebecca Davies dari Swinburne University of Technology menyatakan, “Galaksi ini memiliki angin kuat yang mengeluarkan materi dua kali lebih cepat daripada laju galaksi membentuk bintang.” Temuan ini dipublikasikan 10 Juni di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, dan menjadi salah satu bukti observasional paling langsung tentang pemadaman bintang oleh angin yang digerakkan bintang.
CRISTAL-02 diperkirakan membentuk sekitar 260 bintang bermassa Matahari per tahun, tiga kali lebih tinggi dari galaksi bermassa dan seusia serupa. Namun, ia juga kehilangan lebih dari 500 massa Matahari per tahun, sekitar 20 kali lebih cepat daripada galaksi masif tipikal.
Andreas Faisst dari Caltech menegaskan, “Kita tidak tahu banyak tentang bagaimana galaksi pertama berhenti membentuk bintang. Pekerjaan ini secara langsung menunjukkan proses itu sedang berlangsung.” Ia menambahkan, jika aliran keluar berlanjut, gas akan habis dalam kurang dari 100 juta tahun, sekejap dalam skala astrofisika.
Tim juga membandingkan aliran keluar CRISTAL-02 dengan 99 contoh lain yang membentang selama 12 miliar tahun sejarah kosmik. Hasilnya, efisiensi outflow relatif konstan dari masa ke masa, meski sifat internal galaksi berubah seiring alam semesta menua dan mengembang.
Temuan ini penting untuk memperbaiki simulasi kosmologi yang berusaha menjelaskan mengapa alam semesta terlihat seperti sekarang. Jika umpan balik (feedback) berupa angin galaksi terbukti stabil lintas zaman, model evolusi galaksi perlu menempatkannya sebagai “aturan main” yang konsisten, bukan pengecualian.
Di titik ini, “tabrakan galaksi” tidak lagi terdengar seperti peristiwa yang hanya menambah massa dan menyalakan pesta bintang. Ia juga tampak seperti mekanisme seleksi alam kosmik: pertumbuhan yang terlalu cepat justru memicu kondisi yang menguras gas, lalu mematikan masa depan galaksi itu sendiri.
Namun ada catatan kritis yang tidak boleh ditutup-tutupi, yakni kemungkinan peran lubang hitam aktif. Simulasi sebelumnya menyiratkan outflow dari black hole dapat bertahan ratusan juta tahun setelah pembentukan bintang berhenti, sedangkan outflow yang digerakkan starburst akan mereda ketika “bahan bakar” bintang baru habis.
Para peneliti sendiri tidak menyingkirkan skenario bahwa outflow CRISTAL-02 mungkin berasal dari lubang hitam yang kebetulan sedang tidak aktif saat diamati. Ini membuat kesimpulan paling jujur bukan “bintang menang, lubang hitam kalah,” melainkan bahwa alam semesta mungkin memakai beberapa tombol sekaligus untuk mematikan galaksi.
Davies menyebut hampir setengah galaksi masif awal berinteraksi dengan galaksi tetangga, sehingga fenomena ini kemungkinan luas, bukan kebetulan. Jika benar, maka “galaksi mati di alam semesta awal” bukan teka-teki aneh, melainkan konsekuensi statistik dari semesta muda yang padat, gaduh, dan sering bertabrakan.
Menariknya, kisah ini juga memberi cermin bagi masa depan Bima Sakti. Faisst memperkirakan tabrakan Bima Sakti dan Andromeda sekitar 4,5 miliar tahun lagi dapat memicu starburst dan angin bintang kuat, lalu meninggalkan galaksi elips besar yang quiescent.
Terjemahan pesan ilmiah CRISTAL-02 ke bahasa manusia sederhana: pertumbuhan yang agresif bisa membawa kehancuran yang cepat. Alam semesta awal mungkin penuh galaksi yang “mewah” dalam massa, tetapi rapuh dalam pasokan gas.
Di balik gambar JWST yang memukau, ada pelajaran tentang batas, umpan balik, dan harga dari percepatan. Jika galaksi bisa kehabisan masa depan karena terlalu cepat membakar dan mengusir sumber dayanya, pertanyaannya menjadi reflektif: dalam skala apa pun, seberapa sering kemajuan yang tak terkendali justru menyiapkan kesunyian berikutnya? (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)