U.S. Open 2026 Shinnecock: Wyndham Clark Menggila, Skor Rendah Mengejutkan

CBS Sports

CBS Sports

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – U.S. Open 2026 di Shinnecock Hills yang diprediksi brutal justru dibuka dengan kejutan: Wyndham Clark melesat 6 under lewat 16 hole dan unggul empat pukulan. Di tengah angin, kabut, dan narasi “skor tinggi”, Clark menghadirkan skor rendah yang membuat lapangan terlihat jinak, setidaknya untuk satu sore.

Menjelang ronde pertama Kamis, percakapan publik berpusat pada satu hal: seberapa parah Shinnecock Hills akan “memakan” para pegolf. USGA bahkan menjanjikan set-up yang lebih konservatif untuk U.S. Open 2026, setelah kritik bahwa mereka “kehilangan kendali” atas lapangan pada 2018.

Hari dimulai dengan penundaan kabut dua jam yang menggeser tee time dan membuat banyak pemain gelombang sore tidak sempat menuntaskan 18 hole. Hujan yang diprediksi tidak turun, sementara angin paling menyiksa justru menghantam gelombang pagi akibat efek penundaan itu.

Akibatnya, papan skor sementara didominasi gelombang akhir yang mendapat kondisi lebih ramah. Dari 17 pemain yang masih under par, hanya enam berasal dari gelombang pagi, dan dari delapan pemain di -2 atau lebih baik, hanya satu yang datang dari pagi: Sam Stevens dengan 68.

Di atas kertas, keuntungan cuaca gelombang sore menjelaskan sebagian cerita, tetapi tidak menjelaskan semuanya. Green yang lebih reseptif, pin yang cenderung ke tengah, dan angin yang mereda memang membantu, namun tetap jarang ada pemain yang bisa menjaga agresi tetap tepat sasaran di Shinnecock.

Clark berbeda karena ia tidak “menang” dengan nekat, melainkan dengan disiplin. Ia menahan diri dari tembakan spekulatif yang biasanya berujung hukuman, lalu menekan saat peluang benar-benar terbuka.

Momen kuncinya terjadi di par-5 hole 5 ketika pukulan keduanya berhenti sekitar 3 kaki dan menghasilkan eagle yang nyaris tap-in, sebagaimana disorot akun resmi U.S. Open. Ini bukan sekadar highlight, tetapi simbol bahwa Clark mengubah peluang langka menjadi dua pukulan bonus di lapangan yang biasanya pelit.

Clark menutup sesi Kamis dengan up-and-down par yang berkualitas dari bunker di hole 7 yang sulit. Ia masih harus menyelesaikan dua hole terakhir pada Jumat pagi, namun targetnya jelas: dua par untuk mengunci 64 yang nyaris tak terbayangkan sebelum turnamen dimulai.

Jika keunggulan empat pukulan itu bertahan setelah semua pemain menyelesaikan ronde pertama, ini menjadi keunggulan ronde pertama terbesar di U.S. Open sejak Tommy Armour memimpin lima pukulan pada 1933. Data historis ini menegaskan betapa tidak lazimnya jarak yang tercipta di turnamen yang biasanya menekan skor hingga rapat.

Di belakang Clark, kelompok -2 berisi nama besar dan cerita kecil yang sama menarik. Jon Rahm, Dustin Johnson, Gary Woodland, Matt Fitzpatrick, Max McGreevy, Ryder Cowen (amatir), dan Sam Stevens berada di posisi T2, menunjukkan kombinasi pengalaman major dan adaptasi kondisi berangin.

Johnson sempat menyentuh -4 sebelum lip-out “horseshoe” yang buruk di hole 6 berubah menjadi double bogey dan merusak momentumnya. Woodland dan Fitzpatrick masih punya peluang birdie saat melanjutkan permainan Jumat pagi, sementara Rahm berusaha mencatat ronde tanpa bogey yang langka di Shinnecock.

Kelompok -1 juga memperlihatkan bagaimana Shinnecock tetap “menagih” di akhir, bahkan ketika cuaca melunak. Rory McIlroy dan Ludvig Åberg sempat memegang keunggulan tunggal pada fase awal, tetapi keduanya mundur, dan McIlroy bahkan bogey di dua hole terakhirnya.

Di par, ada kisah paling aneh sekaligus menggambarkan volatilitas U.S. Open: Keith Mitchell mencetak 70 dengan split 41-29 setelah start dari hole 10. Menurut Justin Ray, ia menjadi pemain pertama yang menembak di atas 40 dan di bawah 30 pada dua nine berbeda dalam ronde yang sama di U.S. Open.

Sementara itu, para favorit pun tidak kebal dari hari yang “biasa saja” tetapi mahal di major. Scottie Scheffler dan Cameron Young berada di +2, dengan Scheffler menjalani hari buruk dari tee dan harus scrambling untuk bertahan pada 72.

Di +3, nama-nama besar seperti Brooks Koepka, Collin Morikawa, Jordan Spieth, dan Justin Rose justru berada di luar garis cut sementara. Ini menegaskan pola major terbaru: papan skor rapat, tetapi kesalahan kecil langsung memindahkan pemain dari “konten” ke “kejar-kejaran”.

Di sisi lain spektrum, sang juara bertahan J.J. Spaun terpuruk dengan 77 atau +7 dan tertinggal 13 pukulan dari puncak. Shinnecock mungkin tidak memproduksi “carnage” seperti masa lalu, tetapi tetap kejam bagi siapa pun yang kehilangan kontrol dasar.

Kejutan terbesar ronde pertama bukan hanya skor Clark, melainkan runtuhnya asumsi kolektif bahwa Shinnecock akan otomatis menghasilkan angka tinggi. Ketika USGA menjanjikan set-up konservatif, publik tetap menunggu drama “lapangan mengamuk”, padahal perubahan kecil pada pin, green, dan jadwal cuaca bisa menggeser seluruh narasi.

Namun, menyederhanakan semuanya menjadi “untung gelombang sore” juga tidak adil. Banyak pemain gelombang akhir tetap terpental kembali setelah melewati -2, sementara Clark bertahan karena memilih tempat menyerang dengan disiplin dan meminimalkan pukulan yang memaksa hero shot.

Ronde ini juga mengingatkan bahwa U.S. Open modern bukan hanya ujian kekuatan, tetapi ujian manajemen risiko. Pada lapangan seperti Shinnecock, keunggulan sering datang dari keputusan yang membosankan, lalu satu atau dua pukulan luar biasa yang dieksekusi tanpa ragu.

Ronde pertama U.S. Open 2026 di Shinnecock Hills menghadirkan paradoks: lapangan yang ditakuti justru membuka celah bagi skor rendah, tetapi hanya bagi mereka yang membaca momen dengan tepat. Wyndham Clark menulis pesan paling keras, bahwa fokus dan selektivitas bisa mengalahkan reputasi lapangan.

Masih ada tiga ronde, dan Shinnecock terkenal bisa berubah watak dalam satu hembusan angin. Pertanyaannya kini bukan lagi “berapa banyak korban”, melainkan “siapa yang cukup sabar untuk tidak menjadi korban berikutnya”. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Juni 2026)