Lelang Gitar Johnny Marr: The Smiths, No Time To Die
ORBITINDONESIA.COM – Lelang gitar Johnny Marr segera melepas hampir 100 instrumen, termasuk yang dipakai di “This Charming Man” milik The Smiths dan lagu tema James Bond Billie Eilish “No Time To Die”. Kepada BBC, Marr menegaskan ia tak ingin studio kerjanya berubah menjadi museum, meski perpisahan ini ia akui akan “emosional”.
Johnny Marr menerima gitar pertamanya saat berusia empat tahun, berupa “mainan kayu kecil” yang dibeli di toko perlengkapan jahit di Manchester. Dari titik itu, ia membentuk The Smiths bersama Morrissey pada 1982 dan ikut mendefinisikan era indie dengan bunyi gitar berkilau yang berakar pada pop Inggris namun menolak klise.
Setelah The Smiths bubar pada 1987, Marr menjelma kolaborator lintas generasi, dari The Pretenders, Talking Heads, hingga Oasis, Beck, Modest Mouse, dan Franz Ferdinand. Ia juga tampil sebagai tamu spesial di konser stadion satu kali Gorillaz, lalu menyiapkan album solo kelima “The Age Of Everything”.
Keputusan menjual koleksi ini menguat ketika ia menulis buku “Marr’s Guitars” pada 2023. Proses memotret dan memamerkan gitar-gitar itu membuatnya merasa aneh bila semuanya kembali ke gudang penyimpanan.
Ada 95 lot yang akan dipamerkan di Christie’s New York dan London sepanjang musim panas, sebelum dilelang di London pada 17 September. Estimasi harga berkisar £1.000 hingga £150.000, angka yang menegaskan gitar kini diperlakukan sebagai artefak budaya sekaligus aset investasi.
Di antara sorotan utama ada Rickenbacker 330 Jetglo (1982) yang terdengar di “This Charming Man” dan “What Difference Does It Make”. Gitar itu bahkan muncul di sampul single debut Oasis “Supersonic”, setelah Marr meminjamkannya kepada Noel Gallagher saat sesi “Definitely Maybe”.
Ada pula Telecaster green burst (1984), hadiah dari istri Marr, yang dikenang karena tampil di BBC Top of the Pops pada Mei 1984 ketika The Smiths membawakan “Heaven Knows I’m Miserable Now”. Detail semacam ini mengubah gitar dari sekadar benda menjadi penanda momen televisi pop Inggris yang membentuk ingatan kolektif.
Martin D-28 (1971) 12-string menjadi alat tulis dan rekam bagi klasik The Smiths seperti “There Is a Light That Never Goes Out”, “Well I Wonder”, dan “Cemetry Gates”. Cherry Gibson Les Paul Standard (1984) adalah gitar terakhir yang ia pakai di panggung bersama The Smiths, lalu sempat dipinjam Bernard Sumner dari New Order untuk merekam “Regret”.
Yang paling kontemporer adalah Fender Johnny Marr Signature Jaguar Comet Sparkle (2017), salah satu desain kustom yang ia rancang sejak 2012. Gitar ini dipakai tur 2018 dan digunakan merekam “No Time To Die” milik Billie Eilish, memperlihatkan jembatan langsung antara indie 1980-an dan pop global abad ke-21.
Marr juga menyatakan akan menyumbangkan harga palu dari 10 lot untuk The Guide Dogs for the Blind Association dan The National Autistic Society. Ini memberi dimensi etis pada lelang, meski tetap tak menghapus fakta bahwa pasar koleksi musik sering menguntungkan mereka yang sudah punya modal besar.
Alasan Marr terdengar sederhana namun tajam: ia menolak fetisisme nostalgia yang membekukan kreativitas. Ketika studio menjadi museum, musisi berisiko hidup dari masa lalu, bukan dari rasa ingin tahu yang melahirkan lagu baru.
Namun lelang juga mengungkap paradoks industri musik modern, ketika benda yang dulu dipakai untuk kerja harian kini berubah menjadi komoditas bernilai enam digit. Estimasi hingga £150.000 memperlihatkan bagaimana “sejarah” dapat dimonetisasi, dan akses pada sejarah itu cenderung dimiliki kolektor, bukan pemain muda.
Di sisi lain, Marr menawarkan narasi tandingan yang lebih demokratis: ia membayangkan gitar-gitar itu dimiliki orang di Belfast, Dundee, atau Tokyo, lalu dicintai seumur hidup. Kalimat itu penting karena memindahkan pusat makna dari “pajangan” ke “praktik”, dari vitrin kaca ke meja latihan.
Keputusan ini juga bisa dibaca sebagai cara Marr mengatur ulang warisan The Smiths tanpa terjebak drama internal band. Ia membiarkan musik tetap hidup lewat tangan orang lain, sementara ia sendiri membuka ruang—secara harfiah dan kreatif—untuk fase berikutnya.
Lelang gitar Johnny Marr bukan sekadar kabar koleksi langka, melainkan perdebatan tentang bagaimana kita memperlakukan benda-benda yang membentuk sejarah musik. Ia memilih melepas, karena inspirasi baginya lebih bernilai ketika berpindah tangan daripada ketika diam di gudang.
Pertanyaannya, apakah pasar lelang akan benar-benar mengantar gitar itu ke musisi yang membutuhkannya, atau justru menguncinya di ruang privat yang lebih sunyi dari museum. Di titik itulah warisan budaya diuji: apakah ia hidup sebagai bunyi, atau mati sebagai status. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)