TPS Surabaya Susun Sustainability Report: ESG, GRI, Digitalisasi Pelabuhan

ORBITINDONESIA.COM – TPS Surabaya menegaskan strategi bisnis berkelanjutan lewat Sustainability Report yang merangkum program ESG, dari mangrove hingga elektrifikasi alat bongkar muat. Langkah ini dikuatkan melalui pelatihan penyusunan Sustainability Report berbasis GRI Standards 2021 agar pelaporan kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan makin transparan.

Di industri pelabuhan, kata “berkelanjutan” sering terdengar seperti slogan yang mudah ditempel, tetapi sulit dibuktikan dalam angka dan dampak. Karena itu, Sustainability Report menjadi medan uji: apakah program benar-benar mengubah proses bisnis, atau sekadar merapikan citra.

PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) memilih jalur formal dengan menempatkan program bertahap dan konsisten sebagai bahan laporan kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan. Pada 4 Mei di Pelindo Place, 26 karyawan dari berbagai unit mengikuti pelatihan penyusunan Sustainability Report untuk memastikan data dan narasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Di atas kertas, pelatihan ini terdengar administratif, namun konteksnya strategis. Standar GRI 2021 menuntut perusahaan membuktikan topik material berbasis dampak, bukan sekadar daftar kegiatan yang terlihat “hijau”.

TPS menonjolkan program lingkungan yang mudah diverifikasi secara fisik, yaitu konservasi mangrove di area kerja 22,7 hektare. Perusahaan juga menyebut budidaya 10.000 bibit mangrove yang siap panen setiap 4–6 bulan, dengan klaim manfaat sebagai penyerap karbon dan pelestari biota.

Namun, publik biasanya tidak hanya menanyakan “berapa hektare” dan “berapa bibit”, melainkan juga “berapa ton CO2e yang diserap” dan “metodologi apa yang dipakai”. Tanpa metrik kuantitatif yang bisa diaudit, narasi carbon sink berisiko berhenti sebagai cerita baik yang sulit dibandingkan antar-periode.

Di sisi pengurangan emisi, TPS menggarisbawahi elektrifikasi alat utama bongkar muat: Container Crane (CC) selesai 2016, sedangkan Rubber Tyred Gantry (RTG) ditarget rampung April 2026. Ini penting, karena elektrifikasi biasanya berdampak langsung pada konsumsi BBM, emisi, serta biaya operasi jangka panjang.

Tetapi elektrifikasi juga memindahkan pertanyaan ke sumber listrik dan efisiensi grid. Jika listrik masih dominan berbasis fosil, maka pengurangan emisi bersih harus dihitung dengan faktor emisi listrik, bukan hanya pengurangan solar di lapangan.

TPS menambahkan program panel surya untuk penerangan kantor, penghijauan area terminal, dan pengelolaan limbah. Rangkaian ini memberi sinyal bahwa perusahaan mencoba menyusun portofolio ESG, bukan bertumpu pada satu proyek unggulan saja.

Menariknya, artikel menekankan bahwa seluruh inisiatif “dicatat menggunakan pengetahuan akuntansi” agar manfaatnya diketahui. Ini mengarah pada tren global: ESG tidak lagi diperlakukan sebagai kegiatan CSR terpisah, melainkan sebagai bagian dari manajemen kinerja dan pengambilan keputusan.

Di ranah tata kelola, TPS menempatkan transparansi sebagai inti, dan Sustainability Report sebagai medium akuntabilitas. Senior Manager Finance and Risk Management TPS, Jeanny Harjono, menegaskan, “The Sustainability Report has a strategic role in documenting and communicating the implementation of TPS's sustainable programs as a form of corporate accountability to regulators, shareholders, business partners, customers, and the community.”

Digitalisasi layanan juga diposisikan sebagai bagian dari governance dan keterbukaan informasi publik (KIP). TPS menyebut Web Access & Clique 247, Online Container Damage Report, Automatic Damage Detection System, hingga Vessel Report, yang diklaim meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan.

Namun, digitalisasi bukan otomatis transparansi, karena transparansi menuntut akses yang setara dan data yang dapat dipahami pengguna. Indikator yang relevan adalah: apakah waktu layanan turun, keluhan berkurang, biaya transaksi menipis, dan audit trail benar-benar memudahkan penelusuran insiden.

Untuk aspek sosial dan kepatuhan operasional, TPS menampilkan layanan bernilai tambah seperti fumigasi, inspeksi, hingga pemindaian kontainer. Ini memperkuat argumen bahwa sustainability di pelabuhan juga menyangkut keselamatan, keamanan, dan kelancaran arus barang, bukan semata urusan lingkungan.

Pelatihan GRI 2021 di TPS menunjukkan satu hal: era ESG yang “cukup niat baik” sudah lewat. Perusahaan kini dinilai dari seberapa rapi data, seberapa jujur mengakui dampak, dan seberapa konsisten menutup celah antara target dan realisasi.

Di titik ini, Sustainability Report bisa menjadi senjata ganda. Ia bisa menjadi kompas perubahan, tetapi juga bisa menjadi katalog aktivitas jika tidak disertai indikator kinerja utama yang tajam dan dapat diverifikasi.

TPS sudah punya modal kuat berupa program yang konkret: mangrove, elektrifikasi CC dan RTG, serta digitalisasi. Tantangannya adalah menaikkan level pembuktian, misalnya dengan baseline emisi, capaian pengurangan tahunan, intensitas energi per boks, serta keterlacakan dampak sosial pada pekerja dan komunitas sekitar.

Publik juga berhak menagih konsistensi antara narasi dan keputusan bisnis. Jika sustainability benar-benar “terintegrasi”, maka ia harus tampak dalam belanja modal, manajemen risiko, standar vendor, dan target layanan, bukan hanya di halaman laporan.

TPS Surabaya sedang membangun jembatan antara kerja lapangan dan bahasa akuntabilitas melalui Sustainability Report berbasis GRI Standards 2021. Jika jembatan itu kokoh, pelabuhan tidak hanya menjadi simpul logistik, tetapi juga simpul kepercayaan.

Pertanyaan akhirnya sederhana namun menentukan: apakah angka-angka ESG TPS kelak akan cukup kuat untuk diuji publik, bukan hanya cukup indah untuk dibaca. Di situlah sustainability berubah dari kewajiban pelaporan menjadi etika bisnis yang nyata. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juni 2026)