Kesepakatan Minyak Venezuela: Pentagon Jadi Investor di Era Trump

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kesepakatan minyak Venezuela mendadak menyeret Pentagon ke peran yang tak lazim: calon pemegang hingga 35% kepemilikan pasif lewat skema warrant pada perusahaan mitra swasta. Presiden Donald Trump mengatakan kesepakatan itu diamankan oleh Pete Hegseth dan Marco Rubio untuk mengakses miliaran barel cadangan minyak melalui kemitraan bisnis.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Pada 2022, Pentagon membentuk Office of Strategic Capital (OSC) untuk berinvestasi demi meningkatkan produksi industri pertahanan AS yang dinilai tertinggal. Kini, kantor itu menjadi ujung tombak kesepakatan minyak AS–Venezuela dengan mitra swasta yang didirikan Alejandro Betancourt López, figur kuat sekaligus kontroversial dalam bisnis internasional.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Kesepakatan memberi Pentagon opsi hingga 35% kepemilikan pada induk perusahaan North American Blue Energy Partners melalui warrant, serta akses preferensial atas minyak yang diproduksi. Warrant itu disebut “penny warrants”, yakni bisa dikonversi menjadi saham dengan biaya sangat kecil, sering hanya 1 sen.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Gedung Putih menegaskan kesepakatan ini “tanpa biaya bagi Amerika Serikat”, berbeda dari praktik umum warrant yang biasanya ditukar dengan bantuan bernilai seperti bailout maskapai saat pandemi. Namun, kritik datang dari Senator Jack Reed yang menyebut langkah ini sebagai penyalahgunaan kekuasaan dan uang pembayar pajak, serta menuntut dasar hukum dan rincian finansial.

Terjemahan ringkas artikel sumber: OSC awalnya menyalurkan pinjaman berbunga rendah untuk memperkuat produksi strategis domestik, lalu di era Trump sering meminta warrant selain pelunasan pinjaman. Wewenang pinjaman OSC membengkak dari 1 miliar dolar menjadi 200 miliar dolar, terutama setelah legislasi kebijakan domestik besar yang disahkan Kongres pada Juli 2025.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Direktur OSC kini David Lorch, eks Cerberus Capital Management milik Stephen A. Feinberg, wakil menteri pertahanan yang menyetujui kesepakatan-kesepakatan OSC. OSC pernah mengumumkan pinjaman 620 juta dolar ke Vulcan Elements dan 80 juta dolar ke ReElement Technologies untuk magnet dan mineral kritis, namun terseret kritik karena dugaan kedekatan finansial dengan Donald Trump Jr., serta ReElement mundur karena kesulitan memenuhi uji tuntas federal.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Juru bicara Pentagon Sean Parnell menyatakan OSC “tidak mengambil kepemilikan ekuitas”, tetapi pernyataan Gedung Putih justru menyebut opsi stake 35% melalui warrant. Selain warrant, pemerintah AS dijamin 20% produksi minyak “pada biaya produksi”, sementara Departemen Luar Negeri punya hak penolakan pertama untuk 80% sisanya.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Peran Departemen Luar Negeri sebagai pembeli minyak dinilai tidak lazim, karena perdagangan minyak biasanya dilakukan perusahaan dan pedagang, serta pengisian stok pemerintah umumnya memerlukan otorisasi termasuk dari Kongres dan ditangani Departemen Energi. Gedung Putih juga menyebut AS punya hak veto atas penunjukan anggota dewan, dan mayoritas dewan harus warga negara AS.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Gedung Putih mengatakan ladang “inkremental” yang kini diawasi perusahaan Betancourt sebelumnya dikendalikan/dioperasikan entitas Rusia atau China, atau pebisnis dekat pemimpin lama Venezuela. Betancourt pernah mendapat kontrak minyak tanpa tender di Venezuela dan diselidiki di Spanyol serta Swiss atas dugaan pencucian uang dan penggelapan pajak, meski pengacaranya menyatakan ia tidak pernah didakwa di yurisdiksi mana pun.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Seorang sumber menyebut Rubio ingin Betancourt kembali ke Venezuela untuk mengurus kesepakatan dan produksi, sehingga Departemen Luar Negeri menekan Swiss dan Inggris agar melonggarkan pembatasan perjalanan terhadapnya. Betancourt menyatakan kesepakatan akan membuka potensi Venezuela demi keuntungan warga Venezuela dan Amerika.

Kesepakatan minyak Venezuela ini menandai pergeseran fungsi OSC dari “bank pembangunan industri pertahanan” menjadi instrumen geopolitik energi. Kantor yang lahir karena kekhawatiran komponen senjata dibuat di China, kini justru dipakai untuk mengunci pasokan minyak di negara yang rawan guncangan politik.

Skema “penny warrants” adalah titik paling sensitif karena memberi hak beli saham nyaris gratis jika valuasi perusahaan naik. Jika benar pemerintah memperoleh opsi setara 35% pada harga konversi 1 sen, nilai ekonominya bisa sangat besar tanpa mekanisme lelang terbuka.

Gedung Putih menyebut “tanpa biaya”, tetapi “tanpa biaya” tidak sama dengan “tanpa risiko”. Legitimasi federal dapat memudahkan perusahaan menghimpun modal, sekaligus memberi pelindung reputasi terhadap risiko hukum dan volatilitas Venezuela.

Jaminan 20% produksi “pada biaya produksi” juga menggeser logika pasar menjadi logika negara. Ini serupa kontrak offtake strategis, namun ditempatkan dalam paket yang juga membuka pintu kepemilikan, hak veto dewan, dan syarat kewarganegaraan anggota dewan.

Peran Departemen Luar Negeri sebagai pemegang hak penolakan pertama untuk 80% produksi menimbulkan pertanyaan tata kelola. Pembelian minyak untuk stok pemerintah biasanya domain Departemen Energi dan memerlukan otorisasi, sehingga desain ini berpotensi memicu tarik-menarik antar lembaga dan Kongres.

Argumen keamanan nasional yang dipakai pemerintah adalah menggantikan jejak Rusia dan China di ladang-ladang “inkremental”. Namun, mengganti pengaruh asing dengan kemitraan yang melibatkan figur kontroversial juga dapat menciptakan kerentanan baru yang sulit diprediksi.

Catatan investigasi Betancourt di Spanyol dan Swiss menjadi beban reputasi yang nyata, meski belum ada dakwaan. Ketika negara menempelkan “cap persetujuan”, risiko reputasi itu ikut berpindah menjadi risiko politik domestik AS.

Kritik Senator Jack Reed menyorot dua hal: dasar hukum dan syarat finansial. Ini penting karena OSC sebelumnya memberi pinjaman untuk magnet dan mineral kritis, sementara kini masuk ke minyak, sektor yang tidak langsung terkait bottleneck manufaktur senjata.

Kontradiksi pernyataan Pentagon bahwa OSC “tidak mengambil ekuitas” dengan klaim Gedung Putih soal stake 35% memperlebar ruang kecurigaan. Jika pemerintah menyebutnya “bukan ekuitas” karena berbentuk warrant, publik tetap melihatnya sebagai jalur kepemilikan yang setara.

Di sisi lain, realitas teknisnya tidak sederhana karena proyek minyak baru di Venezuela bisa memakan waktu bertahun-tahun sebelum menghasilkan volume berarti. Artinya, manfaat pasokan cepat yang mungkin dibayangkan publik bisa tidak sejalan dengan timeline investasi dan pembangunan lapangan.

Kesepakatan ini tampak seperti eksperimen besar: memadukan kekuatan militer, diplomasi, dan modal negara untuk mengamankan energi. Namun, ketika militer mulai bergerak dari pembeli senjata menjadi “pemegang opsi kepemilikan” di perusahaan minyak, batas antara pertahanan dan bisnis menjadi kabur.

Yang paling mengusik bukan hanya Venezuela atau Betancourt, melainkan preseden. Jika “penny warrants” dapat diberikan “tanpa biaya” sebagai imbalan atas cap pemerintah, apa yang mencegah pola serupa dipakai untuk sektor lain dengan dalih keamanan nasional?

Publik juga berhak bertanya apakah ini strategi energi atau strategi politik. Riwayat OSC yang sempat dikritik karena keterkaitan finansial dengan lingkaran keluarga presiden dalam pembiayaan industri magnet memperkuat persepsi bahwa akses dan kedekatan bisa mengalahkan uji kepatutan.

Dalam narasi besar “mengurangi ketergantungan pada China” dan “menggeser Rusia”, pemerintah seolah menukar satu ketergantungan dengan ketergantungan lain: pada stabilitas rezim Venezuela dan pada kredibilitas mitra bisnis yang kontroversial. Jika salah satu goyah, AS bukan hanya kehilangan pasokan, tetapi juga menanggung dampak reputasi dan tata kelola.

Kesepakatan minyak Venezuela yang melibatkan Pentagon memperlihatkan bagaimana krisis pasokan, perang, dan kompetisi geopolitik mendorong negara bereksperimen dengan instrumen finansial yang dulu jarang disentuh militer. Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah minyak itu akan mengalir, melainkan siapa yang mengawasi, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang menanggung risiko bila skema ini gagal.

Jika keamanan nasional dijadikan alasan untuk mengaburkan akuntabilitas, maka negara bisa menang dalam satu babak tetapi kalah dalam kepercayaan publik. Pada titik itu, yang perlu dipertahankan bukan hanya stok minyak atau amunisi, melainkan juga batas etika dan transparansi dalam kekuasaan. (Orbit dari berbagai sumber, 4 September 2026)