Protes Pusat Detensi Delaney Hall Newark Memanas, Mogok Makan ICE
ORBITINDONESIA.COM – Protes pusat detensi imigrasi Delaney Hall di Newark memasuki hari ketiga, saat ratusan tahanan ICE melanjutkan mogok makan dan mogok kerja. Di luar pagar, demonstran memasang penghalang dan berupaya menghambat kendaraan yang diduga akan memindahkan para tahanan.
Bentrokan akhir pekan memuncak ketika agen ICE menggunakan semprotan merica, baton, dan kendaraan lapis baja untuk membubarkan massa. Foto dan video memperlihatkan Senator Andy Kim membilas mata setelah terpapar semprotan merica dalam konfrontasi pada Senin.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)
Sejak Jumat, demonstrasi di Delaney Hall kerap dihadiri pejabat lokal, termasuk beberapa anggota Kongres dan Gubernur Mikie Sherrill. Sejumlah pejabat mengaku ditolak masuk selama akhir pekan Memorial Day, memicu pertanyaan tentang transparansi pengelolaan fasilitas.
Pada Selasa pagi, lebih dari 30 petugas federal berbaris di dekat mobil lapis baja, banyak yang mengenakan rompi antipeluru bertuliskan ICE. Di sisi lain, massa membawa poster dan menggunakan pengeras suara untuk menekan aparat.
Di pintu masuk, demonstran menempatkan penghalang plastik oranye dan sesekali membukanya agar mobil bisa lewat. Mereka menyatakan sebagian besar kendaraan diizinkan masuk, tetapi mereka memantau van yang dicurigai membawa tahanan untuk dipindahkan.
Penyelenggara dari koalisi Eyes on ICE, Kara Morillo, menyebut banyak atau bahkan seluruh dari sekitar 300 tahanan tetap melanjutkan mogok hingga Selasa pagi. Rep. Rob Menendez mengatakan ia mengetahui akses tablet dan telepon bagi para pemogok dan tahanan lain dicabut dalam sehari terakhir.
Surat terbuka yang ditandatangani hampir 300 tahanan awal bulan ini menyatakan mereka hidup dalam kondisi buruk dan hak due process mereka diabaikan. Mereka menyoroti akses kesehatan yang minim dan makanan yang mereka sebut “menyiksa”.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)
Peristiwa di Delaney Hall memperlihatkan dua krisis yang bertumpuk: krisis kondisi detensi dan krisis akuntabilitas aparat. Ketika mogok makan dijawab dengan pembatasan komunikasi, ruang kontrol publik ikut menyempit.
Di lapangan, gesekan kecil berubah menjadi tarik-menarik penghalang, lalu menjadi simbol perebutan kendali atas “siapa yang boleh bergerak dan siapa yang harus diam”. Teriakan “Quit your job!” kepada barisan petugas menunjukkan protes bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal legitimasi moral penegakan.
Senator Andy Kim menulis bahwa para tahanan memprotes “kurangnya due process, makanan menjijikkan, dan perlakuan buruk”, sementara keluarga dan advokat meminta pertolongan di luar. Ia menilai pengerahan kendaraan lapis baja dan agen bersenjata “menuangkan bensin ke api”, serta menyebut ada warga sipil ditaklukkan dan agen menembakkan pepper balls serta semprotan merica.
DHS membantah ada orang yang terkena langsung proyektil pepper-ball, dan menyatakan petugas memberi “perintah verbal yang sah” kepada “perusuh” untuk membubarkan diri. DHS juga menyebut demonstran menghalangi rute keluar, sehingga agen memakai “kekuatan minimum” untuk melindungi diri, publik, dan properti federal.
Di titik ini, narasi resmi dan narasi warga berhadapan tanpa wasit yang dipercaya bersama. Ketika akses pejabat terpilih dibatasi, publik kehilangan salah satu mekanisme verifikasi paling sederhana di negara demokrasi.
Gubernur Mikie Sherrill menyatakan ia juga ditolak masuk pada Senin, dan menulis bahwa para tahanan adalah “ayah, ibu, putra, dan putri” yang layak diperlakukan bermartabat. Penolakan itu, menurutnya, justru menambah pertanyaan tentang apa yang “coba disembunyikan dari pandangan publik”.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)
Kasus Delaney Hall adalah pelajaran tentang bagaimana negara bisa terlihat kuat, tetapi rapuh dalam legitimasi. Kendaraan lapis baja dan rompi antipeluru mungkin menertibkan jalan, namun tidak otomatis menjawab tuduhan makanan buruk, layanan kesehatan minim, dan proses hukum yang pincang.
Langkah mencabut akses tablet dan telepon, jika benar meluas, terasa seperti menghukum komunikasi, bukan menyelesaikan masalah. Dalam konteks mogok makan, pemutusan kanal informasi justru memperbesar risiko, karena keluarga dan pengacara makin sulit memantau kondisi fisik para tahanan.
Kontroversi pemindahan Martin Soto memperlihatkan dimensi lain: pemindahan tahanan dapat menjadi strategi untuk memecah solidaritas dan melemahkan pengawasan. Demonstran berusaha menghalangi transfer pada Minggu, sementara DHS menyebut “agitators” menghambat kendaraan dan mengklaim berhasil memindahkan Soto ke Elizabeth Contract Detention Facility.
Menendez mengatakan ICE “bertekad memindahkan Martin dengan cara apa pun”, dan ia menunggu 18 jam tanpa diizinkan masuk sebelum akhirnya bertemu Soto di Elizabeth. Ia juga mengingatkan pedoman ICE hingga tahun lalu menyebut anggota Kongres dapat mengunjungi fasilitas tanpa pemberitahuan, tetapi akses itu kini coba dibatasi dengan alasan keamanan.
ACLU New Jersey menyebut ada perintah pengadilan Maret yang membatasi pemindahan Soto, meski dokumen itu tampaknya hanya melarang pemindahan keluar New Jersey. DHS menyebut Soto “didakwa penyerangan” tanpa rincian, dan pertanyaan tentang alasan pemindahan belum dijawab tuntas.
Dalam situasi seperti ini, kata-kata “keamanan” mudah menjadi payung untuk menutup semua pintu. Padahal, keamanan sejati di fasilitas detensi justru lahir dari standar hidup manusiawi, akses kesehatan, ventilasi memadai, dan prosedur hukum yang dapat diaudit.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)
Protes Delaney Hall dan mogok makan tahanan ICE menunjukkan bahwa isu imigrasi tidak hanya soal perbatasan, tetapi juga soal cara negara memperlakukan manusia yang berada dalam kuasanya. Menendez menyebut banyak tahanan tidak mengancam publik, dan menggambarkan masalah ventilasi, akses kesehatan, serta makanan yang tidak memenuhi kebutuhan diet tertentu.
Jika tuduhan-tuduhan ini benar, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi satu fasilitas, melainkan kredibilitas sistem. Pertanyaannya sederhana namun menentukan: ketika akses publik dibatasi, siapa yang memastikan bahwa martabat manusia tidak ikut dikunci di balik pintu besi?
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)