Rekor Penonton Piala Dunia AS vs Belgia: Rating Fox Meledak

ABC News - Breaking News, Latest News and Videos

ABC News - Breaking News, Latest News and Videos

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pertandingan Piala Dunia AS vs Belgia di babak 16 besar memecahkan rekor sebagai siaran sepak bola paling banyak ditonton dalam sejarah televisi Amerika Serikat. Fox melaporkan 30 juta orang menyaksikan laga yang dimenangi Belgia 4-1 pada Senin malam di Seattle.

Menurut Fox, puncak penonton pertandingan AS vs Belgia menembus lebih dari 36,8 juta orang pada rentang 21.15–21.30 Waktu Timur. Angka ini muncul dari rating awal yang diumumkan pada Selasa, sehingga masih berstatus sementara.

Rekor tersebut melampaui capaian laga AS vs Bosnia-Herzegovina pada pekan sebelumnya yang ditonton 26,4 juta orang. Bagi Fox, ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa sepak bola sedang menggeser batas tradisional pasar olahraga AS.

Jika 30 juta penonton menjadi patokan, maka lonjakan dari 26,4 juta berarti naik sekitar 13,6 persen dalam waktu kurang dari sepekan. Kenaikan cepat ini menunjukkan efek “taruhan besar” babak gugur, ketika satu kesalahan berarti pulang.

Fox juga mencatat laga Portugal vs Kroasia di babak 32 besar ditonton 11,1 juta orang, tertinggi dalam sejarah siaran berbahasa Inggris di AS untuk laga Piala Dunia tanpa tim AS, final dikecualikan. Puncaknya bahkan melampaui 16 juta penonton karena akhir pertandingan yang kacau dan dramatis.

Dua data itu memberi petunjuk bahwa magnet Piala Dunia tidak semata bergantung pada patriotisme penonton AS. Drama, reputasi bintang, dan momen-momen “tak terduga” kini menjadi mata uang utama televisi olahraga.

Namun ada sisi lain yang patut dibaca: Fox menekankan “preliminary ratings”, yang berarti angka bisa terkoreksi. Meski begitu, pola besarnya sulit dibantah, karena rekor bergeser dua kali dalam hitungan hari berdasarkan laporan jaringan yang sama.

Rekor penonton Piala Dunia di AS seharusnya dibaca sebagai perubahan kebiasaan, bukan sekadar euforia sesaat. Ketika pertandingan tanpa tim AS pun mencetak 11,1 juta penonton, sepak bola jelas sedang membangun basis yang lebih dewasa dan lebih setia.

Tetapi narasi “sepak bola sudah menang di Amerika” juga terlalu cepat jika hanya bertumpu pada satu turnamen. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga penonton tetap hadir di luar Piala Dunia, ketika tidak ada atmosfer nasionalisme dan jadwal pertandingan tidak selalu ramah prime time.

Di sisi industri, angka 36,8 juta pada puncak penayangan menegaskan nilai iklan dan hak siar yang kian mahal. Ini bisa mendorong liputan lebih serius, namun juga berisiko menjadikan pertandingan sekadar komoditas rating ketimbang pengalaman olahraga yang utuh.

Data Fox tentang laga AS vs Belgia dan Portugal vs Kroasia menunjukkan satu hal: Piala Dunia mampu mengubah sepak bola menjadi “acara nasional” di layar Amerika. Rekor demi rekor lahir bukan hanya karena tim AS, melainkan karena drama kompetisi yang memaksa orang berhenti menggulir layar dan menatap pertandingan.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: setelah sorak babak gugur mereda, apakah Amerika akan tetap menonton sepak bola dengan intensitas yang sama. Atau rekor ini hanya kilatan sesaat yang kembali padam ketika kalender olahraga domestik mengambil alih panggung.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juli 2026)