Trump ke Mount Rushmore: Wacana Wajah Kelima dan Politik Memori
ORBITINDONESIA.COM – Donald Trump kembali ke Mount Rushmore, dan wacana menambahkan wajahnya lagi-lagi mencuat. Namun para ahli dan catatan pemahatnya menyebut batu monumen itu nyaris mustahil menampung “wajah kelima.”
Patung raksasa George Washington, Thomas Jefferson, Theodore Roosevelt, dan Abraham Lincoln berdiri menjulang di Mount Rushmore, South Dakota. Trump datang pada Jumat untuk flyover, pidato, dan pesta kembang api jelang perayaan 250 tahun Amerika.
Gagasan wajah Trump di Rushmore sudah lama ia lempar sebagai candaan, isyarat media sosial, hingga disebut “ide bagus.” Ia bahkan pernah berkata kepada Gubernur South Dakota saat itu, Kristi Noem, “Ini mimpi saya memiliki wajah saya di Mount Rushmore.”
Noem mengaku sempat tertawa, sebelum menyadari Trump serius. “Saya mulai tertawa,” kata Noem kepada Argus Leader (2018), “Dia tidak tertawa, jadi dia benar-benar serius.”
Di periode kedua, Trump juga menonjolkan selera dan gaya arsitektur di Washington, DC. Ia bahkan sudah punya bandara di Florida yang kini memakai namanya, memperlihatkan bagaimana simbol publik bisa dipakai untuk mengukuhkan citra politik.
Namun, untuk Rushmore, hambatan utamanya bukan sekadar politik atau izin, melainkan geologi. Pemahat Gutzon Borglum menulis pada 1936 bahwa batu di sana memiliki keterbatasan “serius.”
“Saya ragu mungkin mengubah komposisi, yang sudah tetap, dengan cara apa pun untuk memasukkan kepala kelima,” tulis Borglum. Artinya, bahkan jika ada dukungan politik, monumen itu sendiri menolak ditambahi.
Meski begitu, Menteri Dalam Negeri Doug Burgum yang membawahi National Park Service menyatakan “tentu” ada ruang untuk wajah Trump. Pernyataan ini memperlihatkan bagaimana otoritas administratif dapat mencoba menabrak batas teknis demi pesan politik.
Di Kongres, sekutu Trump, Rep. Anna Paulina Luna dari Florida, mengajukan RUU untuk mengatur pemahatan tersebut. Luna menyebutnya akan “mencerminkan warisan besarnya yang menjulang,” tetapi RUU itu macet dan nyaris mustahil lolos Senat tanpa suara Demokrat.
Kontras paling tajam muncul jika dibandingkan dengan kunjungan Trump pada 2020. Saat itu Amerika berada dalam pandemi global tanpa vaksin, dan ketegangan rasial memuncak setelah kematian George Floyd.
Dalam pidato 2020, Trump menyinggung Covid-19 secara singkat dan berterima kasih kepada petugas dan ilmuwan yang “bekerja tanpa lelah untuk membunuh virus.” Namun arah pidato segera berubah menjadi serangan terhadap “cancel culture” yang ia sebut “senjata politik” dan “definisi totalitarianisme.”
“Bangsa kita menyaksikan kampanye tanpa belas kasihan untuk menghapus sejarah kita, mencemarkan pahlawan kita, menghapus nilai-nilai kita, dan mengindoktrinasi anak-anak kita,” kata Trump kala itu. Ia juga menuduh “massa marah” berusaha merobohkan patung pendiri bangsa dan menodai memorial suci.
Pidato itu tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi cetak biru kampanye budaya Trump pada 2020 dan 2024. Artikel sumber menyebut pergeseran sentimen publik ikut mendorong kemenangan Trump pada 2024, lalu membuka jalan agenda budaya yang lebih agresif pada periode kedua.
Di titik ini, Mount Rushmore berfungsi sebagai panggung, bukan sekadar taman nasional. Ia menjadi layar raksasa untuk narasi “masa lalu yang mulia” versus dorongan mengkaji sisi gelap sejarah.
Ironinya, catatan sejarah Rushmore juga menyimpan kontroversi, termasuk keterkaitan pemahatnya dengan Ku Klux Klan sebagaimana disinggung artikel. Ketika monumen dipakai untuk mengunci satu versi sejarah, pertanyaan tentang siapa yang disisihkan justru makin keras.
Di bawah tatapan empat presiden itu pula Trump pada 2020 mengumumkan rencana “Garden of American Heroes.” Perintah eksekutifnya sempat dicabut era Biden, lalu dihidupkan kembali pada 2025, tetapi hingga kini patung-patungnya belum terwujud meski lahan sudah disiapkan di West Potomac Park, Washington, DC.
Wacana menambah wajah Trump di Mount Rushmore lebih penting sebagai simbol daripada proyek konstruksi. Ini adalah upaya menegosiasikan status: dari mantan presiden menjadi figur “setara pendiri,” bahkan ketika monumen itu sejak awal dirancang sebagai kanon terbatas.
Di era politik identitas dan perang budaya, monumen bukan lagi benda mati. Ia berubah menjadi alat klaim moral, seolah siapa yang terpahat di batu otomatis menang dalam debat tentang Amerika yang “sejati.”
Namun batu yang “tak bisa” ditambah justru mengungkap batas kekuasaan yang paling jujur. Ketika geologi menolak, publik dipaksa melihat bahwa tidak semua warisan dapat dipahat lewat kehendak politik.
Di sisi lain, dukungan pejabat seperti Burgum dan manuver RUU Luna menunjukkan kecenderungan baru: negara ikut memproduksi mitologi kontemporer. Ini bukan sekadar mengingat sejarah, melainkan merancang ingatan masa depan.
Jika tujuan politiknya adalah mengunci narasi kejayaan, maka risiko terbesarnya adalah melahirkan reaksi sebaliknya. Semakin keras simbol dipaksakan, semakin besar dorongan publik untuk memeriksa ulang siapa yang dipuja dan atas biaya siapa.
Trump boleh kembali ke Mount Rushmore untuk perayaan 250 tahun Amerika, tetapi perdebatan utamanya bukan soal kembang api. Yang dipertaruhkan adalah siapa yang berhak menjadi wajah permanen sebuah bangsa, dan bagaimana sejarah dipakai sebagai senjata politik.
Mount Rushmore mengajarkan satu hal yang sederhana: batu bisa memahat memori, tetapi memori juga bisa mengikis legitimasi. Mungkin pertanyaan paling penting bukan “apakah Trump bisa ditambahkan,” melainkan “mengapa kita selalu ingin menambah pahlawan, alih-alih memahami luka.”
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Juli 2026)