ANALISIS - Arab Saudi Terjepit: Mulai Playing Victim, Makkah dan Madinah Dijadikan Alasan
ORBITINDONESIA.COM - Setelah AS dan Israel menolak permintaan Bin Salman untuk menyerang Houthi Yaman, Ben Salman kemarin bertolak ke Mesir minta bantuan El-Sisi.
El-Sisi adalah Jenderal hasil kudeta Mesir 2013 lalu yang didukung Saudi, UAE, AS, Israel dll. Mohammed Bin Salman minta support ke Sisi karena sudah menemui jalan buntu.
Tapi, Sisi hanya berjanji membantu dengan retorika, pada dasarnya, Mesir tidak akan bisa membantu Saudi melawan Houthi, terlalu berisiko bagi Mesir.
Dalam 24 jam terakhir, Saudi melakukan serangan ke Houthi sebanyak 80 kali, tapi itu sama sekali tidak mengubah kondisi di lapangan, Houthi terus menguasai banyak wilayah dan mempertahankan dominasi mereka di wilayah yang sudah mereka rebut.
Israel, AS, beberapa negara Eropa, dan juga para petinggi militer negara Arab, saat ini terus melakukan koordinasi untuk mengambil langkah memukul mundur Houthi.
Pertempuran di Yaman saat ini, Antara arab Saudi berkolaborasi dengan militer AS, Israel, Eropa, dan beberapa negara Arab lain, melawan Houthi sendiri yang hanya didukung oleh Iran.
Arab Saudi saat ini dalam kondisi kritis, kecerobohan Arab Saudi melanggar gencatan senjata dengan Houthi bulan Juli lalu ketika mereka memulai pertama pengeboman terhadap bandara Sanaa, sekarang harus dibayar Saudi dengan mahal.
Kota-kota di Arab Saudi dalam 48 jam terakhir dihajar oleh rudal balistik Houthi dan drone. Mulai dari kota Jeddah, Dammam, Qatif, Najran, Abha, dll.
Selain kota-kota besar di Saudi diserang, Houthi juga menyerang pangkalan militer King Khalid Arab Saudi dan menyerang pipa jalur minyak penting Arab Saudi yang mengalirkan minyak 7 juta barel per hari. Pipa minyak ini saat ini shutdown, pengiriman minyak Saudi berhenti.
Houthi juga terus menyerang kapal-kapal Saudi yang melintas di Bab Al-Mandeb, pelayaran kapal-kapal Saudi di Bab Al-Mandeb saat ini berhenti dan memukul ekonomi mereka.
Houthi berjanji akan melakukan serangan lebih besar ke Arab Saudi jika Arab Saudi terus melakukan serangan ke Yaman, Saudi dalam 5 hari terakhir telah melakukan 300 serangan udara ke Yaman walaupun gagal menaklukkan Houthi.
Untuk menarik simpati dunia Islam dan global, Arab Saudi kemudian merilis laporan bahwa Houthi ingin melakukan serangan ke Makkah dan Madinah. Ini semacam provokasi false flag untuk menjelekkan nama Houthi dan mencari simpati dunia karena sudah terdesak.
Houthi dan Iran sejak puluhan tahun lalu telah menegaskan, bahwa Makkah dan Madinah bukan wilayah sasaran serangan. Houthi juga menyerang kota-kota lain di Arab Saudi dalam konteks membalas 300 serangan udara Arab Saudi tadi ke Yaman. Saudi playing victim dan bawa-bawa nama Makkah dan Madinah untuk kepentingan politik mereka.
Kondisi terjepit saat ini, membuat Saudi tidak tahu harus minta bantuan kepada siapa secara nyata. AS dan Israel tidak mau terlibat, Mesir tidak mungkin membantu. Pakta pertahanan dengan Pakistan dan Turki juga tidak jalan.
Turki dan Pakistan terang-terangan telah mengatakan tidak akan terlibat dalam melawan Houthi. Kerangka kerja sama pakta Mekkah tidak termasuk urusan seperti ini.
Kejahatan Arab Saudi, UEA, AS, Israel, dkk ketika bersekutu menyerang Yaman sejak sepuluh tahun lalu sampai saat ini akan dibayar dengan harga yang mahal.
Konyolnya, AS dan Israel menolak membantu Saudi dan Saudi saat ini tidak memiliki teman mana pun yang mau turun langsung melawan Houthi, dan mengamankan keamanan Arab Saudi.
Jika eskalasi nanti meningkat, Houthi akan menyerang kota Riyadh dan pusat pemerintah Arab Saudi. Kota ini saat ini dijaga ketat oleh sistem pertahanan udara AS, dari Patriot, THAAD dll.
Rudal balistik Houthi saat ini sudah terbukti gagal dihalau oleh sistem pertahanan udara AS yang dipasang di Arab Saudi. Jika eskalasi meluas, maka Riyadh akan dibombardir oleh Houthi.
Negara -negara monarki Arab selama ini adalah teman dekat Israel, penjaga Israel, dan pendukung utama kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.
Negara-negara monarki Arab terutama Arab Saudi, UEA, Kuwait, Bahrain, Yordania, dll adalah partner pertahanan dan keamanan di bawah payung pelindung AS. Negara-negara tersebut membayar jasa keamanan kepada AS. Sebagian lagi menerima dana bantuan luar negeri AS setiap tahun seperti Yordania dan Mesir.
Monarki Arab sama sekali tidak peduli terhadap dunia Islam apalagi Palestina, bantuan mereka ke Palestina hanya simbolik untuk menipu dunia Islam. Sejatinya, di belakang layar, monarki Arab adalah pembantu Israel dan AS dalam menguatkan kebijakan luar negeri mereka di Timur Tengah.
Palestina bisa punya peluang merdeka justru diawali dengan runtuhnya monarki-monarki Arab, yang saat ini menjadi mitra strategis Israel dan AS.
Oleh karena itulah, monarki-monarki Arab sangat takut dengan gejolak dan tuntutan kebebasan dari rakyat. Mereka takut kerajaan kebohongan mereka tumbang satu persatu seperti dalam Arab Spring lalu.
Dalam konteks inilah, kenapa Ikhwanul muslimin di dunia Arab diberantas habis oleh Arab dengan bantuan Israel dan AS. Baik di Mesir dan di negara negara lain terutama di timur tengah. Semua kebijakan ini terus dipelihara, tujuannya untuk menjaga status quo monarki Arab agar terus bisa bermitra dengan Israel dan AS.
(Tengku Zulkifli Usman)