Kremasi Simbolik Korban Banjir Nepal dan Duka di Pashupatinath

nytimes.com

nytimes.com

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Banjir Nepal memaksa keluarga korban melakukan kremasi simbolik di Pashupatinath, Kathmandu, ketika jenazah tak pernah ditemukan. Di tepi Sungai Bagmati, boneka dari rumput kusha dibakar, seolah menghadirkan tubuh bagi mereka yang hilang.

Selama beberapa hari, tungku kremasi di kompleks kuil tepi sungai Kathmandu menyala tanpa henti. Namun yang dibakar bukan tubuh manusia, melainkan effigy, sosok pengganti dari rumput suci yang dibentuk menyerupai orang terkasih.

Sembilan hari setelah dinding lumpur dan puing menerjang lembah Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet, korban tewas dilaporkan melampaui 1.200 orang. Kerabat dari sekitar 5.000 orang yang hilang terus berpindah dari rumah sakit ke rumah sakit, menunggu kabar, menunggu mukjizat, atau setidaknya kepastian.

Pada Jumat, tim penyelamat masih berpacu mencari korban selamat, termasuk puluhan orang yang diyakini terjebak di dalam terowongan. Tetapi bagi banyak keluarga, rasa pasrah mulai menguat karena waktu berkabung dalam tradisi Hindu Nepal memiliki hitungan yang ketat.

Dalam ritual Hindu di Nepal, masa berkabung berlangsung 13 hari setelah kematian. Jika upacara tidak dilakukan sebelum hari ke-10, hitungan berkabung dianggap kembali dari awal.

Karena itu, sebagian keluarga memilih kremasi simbolik ketika mereka menerima kemungkinan pahit bahwa jasad tak akan pernah kembali. Pejabat kuil menyebut hampir 300 kremasi effigy terjadi dalam tiga hari terakhir di Pashupatinath.

Di antara pelayat, ada Darshan Bhattarai, 15 tahun, yang datang untuk menjalankan upacara terakhir bagi ayahnya, Pushpa Raj Bhattarai, 46 tahun. Ia menjadi wajah dari ribuan keluarga yang terjebak di antara harapan dan fakta bahwa banjir Nepal menghapus jejak manusia dengan cepat.

Darshan tinggal di kota bersama ibunya, Kamala, dan bersekolah di sekolah swasta berkat gaji ayahnya sekitar 300 dolar AS per bulan. Keluarga itu berpindah dari perbukitan timur Nepal ke dataran selatan, lalu ayahnya bekerja di sektor tenaga air dan ditempatkan di Trishuli, wilayah yang hancur oleh banjir.

Banjir ini merusak proyek-proyek hidroelektrik Nepal paling parah, dipicu runtuhnya gletser yang berubah menjadi gelombang lumpur, kerikil, dan air. Sejumlah pekerja tersapu, sementara yang lain terjebak di terowongan, dan tim penyelamat berhari-hari mencari akses masuk.

Seorang kerabat, Sukhdev Khanal, menggambarkan momen ketika telepon ayah Darshan tiba-tiba tidak aktif sebagai pertanda buruk. Ia mengatakan seorang rekan kerja yang keluar untuk merokok selamat, lalu memberi kabar bahwa yang lain tersapu arus.

Setelah seminggu tanpa berita, harapan keluarga memudar dan mereka datang ke Pashupatinath sebelum hari ke-10. Di tepi Bagmati, seorang pendeta, Rishi Neupane, menyiapkan rumput kusha, kayu bakar, beras, ghee, bunga marigold, dan kain kafan.

Pendeta memelintir dan mengikat rumput hingga menyerupai boneka jerami besar. Foto cetak Pushpa Raj diletakkan di atas usungan bambu, lalu effigy ditaruh di atasnya, menciptakan tubuh pengganti yang bisa disentuh dan dilepas.

Kepala Darshan dicukur sebagai tindakan penyucian sebelum menjalankan upacara. Ia membasuh kepala di keran sisi kuil dan duduk di tangga batu, sementara tetangga mencukur rambutnya helai demi helai.

Di tengah hujan yang mulai mengguyur, Darshan tampak datar dan nyaris tanpa ekspresi sepanjang dua jam ritual. Keluarga sempat berlindung, tetapi pendeta dan beberapa pria tetap melanjutkan, seolah ritus harus menembus cuaca dan keraguan sekaligus.

Effigy kemudian diturunkan ke sungai untuk “mandi” pembersihan, dan para pelayat bergiliran memberi penghormatan pada foto. Kakak ipar korban mengangkat ponsel untuk panggilan video, memperlihatkan effigy kepada orang tua korban yang sudah lanjut usia di desa.

Prosesi berlanjut melewati asap kremasi lain menuju pelataran batu tempat pembakaran. Darshan menyalakan api, berjalan memutari effigy yang terbakar dengan ibunya mengikuti, lalu menenggelamkan sebagian abu ke sungai.

Secara sosial, kremasi simbolik adalah mekanisme darurat untuk menutup masa tunggu yang menggerus mental. Secara psikologis, ia adalah kompromi: keluarga memperoleh “penutup”, tetapi pertanyaan tentang kemungkinan korban masih hidup tetap hidup di ruang terdalam.

Kremasi simbolik mengungkap sisi lain dari bencana, yakni bagaimana tradisi bertemu birokrasi pencarian dan keterbatasan teknologi evakuasi. Ketika tubuh tak ditemukan, keluarga dipaksa memilih antara menunggu tanpa ujung atau menuntaskan ritus agar hidup bisa berjalan.

Di sini, waktu bukan sekadar kalender, melainkan perangkat sosial yang mengatur duka dan stabilitas keluarga. Aturan hari ke-10 menunjukkan bagaimana agama menyediakan struktur, tetapi juga menekan keluarga untuk mengambil keputusan di bawah ketidakpastian.

Tragedi ini juga menyorot kerentanan pembangunan di kawasan rawan iklim ekstrem, terutama proyek hidroelektrik yang bergantung pada lanskap glasial. Runtuhnya gletser yang memicu banjir bandang memperlihatkan bahwa risiko iklim bukan lagi “kemungkinan”, melainkan variabel utama yang harus dihitung dalam keselamatan kerja.

Kalimat Praveen Bhattarai, teman masa kecil korban, terasa seperti inti luka kolektif. Ia berkata, melakukan ritus terakhir seperti ini sangat sulit, karena di kedalaman hati keluarga akan selalu ada pertanyaan bahwa mungkin korban masih hidup.

Di tengah nyanyian peziarah “Om namah Shiva!” yang menggema saat keluarga keluar dari kompleks kuil, kontrasnya tajam. Kehidupan religius terus berjalan, sementara seorang anak 15 tahun seperti “ditarik” menuju masa depan yang berat, hampir seperti berjalan dalam tidur.

Banjir Nepal bukan hanya angka 1.200 kematian dan ribuan orang hilang, tetapi juga kisah tentang tubuh yang tak kembali dan duka yang harus diproses tanpa bukti. Kremasi simbolik di Pashupatinath menjadi cara manusia merawat martabat, ketika alam memutus jejak dan negara belum mampu memberi kepastian.

Pertanyaannya kini bukan sekadar siapa yang selamat, tetapi bagaimana masyarakat belajar hidup setelah kehilangan yang tak bisa diverifikasi. Jika effigy dibakar untuk menghadirkan yang tak ada, maka tugas publik berikutnya adalah memastikan bencana semacam ini tidak terus memaksa keluarga memilih “penutup” yang pahit di tengah ketidakpastian. (Orbit dari berbagai sumber, 7 September 2026)