Self-care dan Performative Wellness: Saat Istirahat Jadi Beban
ORBITINDONESIA.COM – Self-care kini sering berubah jadi tekanan, ketika performative wellness membuat orang merasa bersalah jika tidak “produktif” saat istirahat. Dari skor tidur, suplemen magnesium, sampai jurnal yang mangkrak, banyak rutinitas justru menambah cemas alih-alih menenangkan.
Di banyak kota besar, budaya kerja dan budaya konten bertemu lalu melahirkan satu tuntutan baru: menjadi versi terbaik setiap hari. Istirahat tidak lagi netral, karena harus “berkualitas,” “mindful,” dan bisa dibuktikan.
Dalam wawancara, Dr. Alok Kulkarni, Senior Consultant Psychiatrist di Manas Institute of Mental Health and Neurosciences, menyebut kita telah mengubah istirahat menjadi bentuk kerja lain. Ia menilai rasa bersalah saat rehat bukan naluri alami, melainkan produk budaya yang terus dipelihara.
Masalahnya bukan pada rutinitas itu sendiri, melainkan pada relasi kita dengan rutinitas tersebut. Ketika self-care menjadi daftar tugas, ia kehilangan fungsi dasarnya: memulihkan.
Dr. Kulkarni membedakan “perbaikan diri” yang sehat dengan dorongan “memperbaiki diri” yang kompulsif. Yang sehat cenderung tenang, fleksibel, dan bisa ditinggalkan tanpa drama jika tidak membantu.
Yang tidak sehat, kata dia, beraroma malu, memaksa, dan tidak pernah puas. Uji paling sederhana adalah dampaknya: apakah praktik itu menurunkan kecemasan, atau justru menaikkannya.
Media sosial mempercepat pergeseran ini karena algoritma menyukai narasi transformasi. Konten “before-after” dan “healing journey” tampil sebagai standar, sehingga hidup biasa terasa seperti tertinggal.
Data global memperlihatkan konteks yang sejalan: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1 dari 8 orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Sementara itu, laporan APA Stress in America dalam beberapa tahun terakhir konsisten menunjukkan stres tetap tinggi dan banyak orang merasa kewalahan oleh ketidakpastian dan tuntutan hidup.
Di ruang digital, self-care sering dibungkus sebagai konsumsi: jurnal yang “tepat,” suplemen yang “wajib,” dan rutinitas pagi yang “ideal.” Dr. Kulkarni menyebut versi online ini cenderung terlihat, instagrammable, dan komersial.
Akibatnya, perhatian dan energi yang seharusnya dilindungi justru terkuras untuk mengelola citra pemulihan. Orang tidak hanya lelah, tetapi juga lelah karena merasa harus membuktikan bahwa mereka sedang tidak lelah.
Self-care yang berubah menjadi performa adalah wajah lain dari hustle culture, hanya berganti kostum. Istirahat dipaksa punya tujuan, seolah berhenti tanpa manfaat terukur adalah kemalasan.
Di titik ini, bahasa “wellness” bisa menjadi alat disiplin sosial yang halus. Ia membuat kegagalan terasa personal, padahal sumber tekanannya sering struktural: jam kerja panjang, biaya hidup, dan banjir informasi.
Karena itu, pertanyaan paling jujur bukan “apakah saya sudah cukup merawat diri,” melainkan “apakah ini benar-benar membuat saya lebih baik.” Jika jawabannya hanya “setidaknya saya berusaha,” mungkin yang bekerja adalah rasa takut, bukan kebutuhan.
Genuine self-care, menurut Dr. Kulkarni, biasanya membosankan dan privat. Ia bisa berupa tidur lebih awal, berkata tidak tanpa penjelasan, duduk diam tanpa memproses apa pun, atau benar-benar tidak melakukan apa-apa.
Ketika perawatan diri tidak butuh audiens, ia kembali menjadi milik kita. Ketika ia butuh pembuktian, ia mudah berubah menjadi proyek tanpa akhir.
Mungkin yang paling radikal hari ini adalah malam yang tidak dioptimalkan: tanpa pelacak suasana hati, tanpa target langkah, tanpa rasa bersalah. Dr. Kulkarni mengingatkan bahwa istirahat sejati tidak memerlukan agenda dan tidak perlu pembenaran.
Self-care bukan lomba, dan kesehatan mental bukan konten yang harus diperbarui setiap hari. Jika istirahat yang tidak “berhasil” tetap istirahat, beranikah kita membiarkan diri menjadi manusia biasa, tanpa narasi kemajuan atau kegagalan?
(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juni 2026)