Lambung Kapal Dulu, Rudal Kemudian: Mengapa Angkatan Laut ASEAN Mengadakan Kapal Perang Sebelum Senjatanya Tiba

Kapal perang TNI AL, KRI Brawijaya.

Kapal perang TNI AL, KRI Brawijaya.

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM - Di seluruh Asia Tenggara, tren yang berkembang semakin terlihat dalam program modernisasi angkatan laut: negara-negara mengakuisisi dan mengoperasikan kapal perang canggih jauh sebelum mereka menerima paket rudal dan senjata lengkapnya.

Praktik ini tidak terbatas pada satu angkatan laut saja. Dari Filipina dan Indonesia hingga Malaysia, beberapa negara ASEAN kini mengoperasikan kapal perang permukaan modern yang sebagian dipersenjatai atau masih menunggu sistem senjata utama.

Meskipun kapal-kapal itu sendiri memiliki sensor canggih, sistem manajemen tempur, dan peluncur, banyak yang masih dalam keadaan transisi di mana potensi tempur penuhnya belum sepenuhnya terungkap.

Munculnya Strategi "Lambung Kapal Lebih Dulu"

Kapal perang modern telah menjadi sangat mahal. Biaya kapal itu sendiri hanyalah satu bagian dari persamaan. Rudal anti-kapal canggih, rudal permukaan-ke-udara, torpedo, persediaan amunisi, pelatihan, infrastruktur pemeliharaan, dan pekerjaan integrasi dapat menambah ratusan juta dolar pada program pengadaan.

Akibatnya, banyak negara ASEAN telah mengadopsi apa yang sering digambarkan oleh analis pertahanan sebagai pendekatan "Kapal Terlebih Dahulu" atau "Dilengkapi untuk Tetapi Belum dengan".

Di bawah strategi ini, pemerintah memprioritaskan pengadaan kapal dan sistem tempurnya terlebih dahulu sambil menunda beberapa pembelian senjata ke siklus anggaran mendatang.

Logikanya sederhana: angkatan laut dapat mulai melatih awak, mengembangkan doktrin operasional, dan membangun kemampuan armada sambil menunggu kontrak rudal dan pengiriman amunisi diselesaikan.

Filipina: BRP Miguel Malvar

Fregat kelas Miguel Malvar baru Angkatan Laut Filipina mewakili salah satu kapal tempur permukaan paling modern di Asia Tenggara.

Dirancang dengan sistem radar canggih, kemampuan perang anti-kapal selam, dan Sistem Peluncuran Vertikal, kelas ini dimaksudkan untuk membawa rudal pertahanan udara VL MICA, rudal anti-kapal C-Star, dan torpedo Blue Shark.

Namun seperti banyak program regional, diskusi terus berlanjut mengenai kecepatan integrasi senjata dan penyebaran rudal. Meskipun platform itu sendiri sudah beroperasi, persenjataan lengkap yang direncanakan masih dalam proses realisasi penuh.

Indonesia: KRI Brawijaya

Indonesia menghadapi situasi serupa dengan KRI Brawijaya yang baru saja dioperasikan, salah satu kapal perang tercanggih di negara itu.

Kapal tersebut mulai beroperasi sebagai bagian dari upaya modernisasi angkatan laut Jakarta yang ambisius, tetapi integrasi penuh semua sistem rudal yang direncanakan masih merupakan proses yang sedang berlangsung.

Pengalaman Indonesia menyoroti tantangan umum: membangun dan mengoperasikan kapal seringkali dapat dicapai lebih cepat daripada pengadaan, integrasi, dan sertifikasi sistem rudal yang canggih.

Malaysia: Kelas Maharaja Lela

Pengalaman Malaysia mungkin merupakan contoh yang paling dramatis. Kelas Maharaja Lela dirancang untuk menjadi tulang punggung armada permukaan masa depan Angkatan Laut Kerajaan Malaysia.

Namun, penundaan konstruksi selama bertahun-tahun diikuti oleh kemunduran lain ketika Norwegia dilaporkan membatalkan otorisasi ekspor untuk paket Rudal Serang Angkatan Laut (NSM) yang ditujukan untuk kelas tersebut.

Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa salah satu kapal perang tercanggih Malaysia dapat mulai beroperasi tanpa senjata anti-kapal utamanya, memaksa Kuala Lumpur untuk mengevaluasi solusi alternatif.

Mengapa Angkatan Laut ASEAN Melakukan Hal Ini

Beberapa faktor menjelaskan mengapa tren ini semakin umum di seluruh kawasan.

Keterbatasan anggaran tetap menjadi faktor terbesar. Sebagian besar anggaran pertahanan ASEAN harus menyeimbangkan modernisasi angkatan laut dengan prioritas yang bersaing seperti pertahanan udara, pengadaan pesawat tempur, modernisasi angkatan darat, dan kebutuhan ekonomi domestik.

Keterlambatan rantai pasokan juga menjadi tantangan yang signifikan. Sejak pandemi COVID-19 dan ketegangan geopolitik berikutnya, produsen pertahanan di seluruh dunia telah mengalami jangka waktu produksi yang lebih lama untuk rudal dan amunisi.

Integrasi teknologi menghadirkan hambatan lain. Rudal modern harus diintegrasikan dengan sistem manajemen tempur, sensor, peluncur, dan jaringan pengendalian tembakan. Bahkan setelah pengiriman, pengujian dan sertifikasi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun mungkin diperlukan sebelum suatu sistem menjadi sepenuhnya operasional.

Risiko Strategis

Kelemahan dari pendekatan "Lambung Kapal Terlebih Dahulu" jelas terlihat.

Sebuah kapal perang mungkin memiliki sensor canggih, fitur siluman, dan sistem tempur, namun masih kekurangan senjata yang dibutuhkan untuk sepenuhnya memanfaatkan kemampuan tersebut. Di kawasan yang menghadapi peningkatan sengketa maritim dan persaingan angkatan laut yang semakin meningkat, hal ini dapat menciptakan kesenjangan kemampuan sementara.

Kapal fregat modern tanpa persenjataan rudal lengkap tetap berharga untuk patroli, misi kehadiran, dan pelatihan, tetapi tidak dapat memberikan tingkat pencegahan yang sama seperti kapal tempur yang bersenjata lengkap.

Realitas Regional, Bukan Masalah Nasional

Situasi yang melibatkan kapal kelas Miguel Malvar milik Filipina, KRI Brawijaya milik Indonesia, dan Maharaja Lela milik Malaysia menunjukkan bahwa ini bukanlah masalah yang unik bagi satu negara saja. Sebaliknya, hal ini mencerminkan realitas keuangan, industri, dan logistik yang dihadapi oleh banyak angkatan laut negara berkembang dan negara-negara kekuatan menengah.

Kabar baiknya adalah bahwa kapal-kapal ini dirancang sejak awal untuk mengakomodasi sistem senjata canggih. Setelah pengiriman rudal, integrasi, dan sertifikasi selesai, kapal-kapal tersebut akan menjadi aset yang jauh lebih mumpuni.

Namun untuk saat ini, modernisasi angkatan laut ASEAN semakin ditandai oleh realitas umum: negara-negara berhasil memperoleh kapal perang modern, tetapi dalam banyak kasus, rudal tiba lebih lambat daripada kapal itu sendiri. ***