Trump Mengatakan Akan Segera Menyatakan Selat Hormuz sebagai Wilayah AS
ORBITINDONESIA.COM - Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS, sebuah langkah yang meningkatkan retorikanya terkait jalur air vital yang mengangkut sebagian besar pasokan minyak dunia.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa Amerika Serikat sedang bersiap untuk menghantam Iran dengan keras secara ekonomi.
Sebelumnya, di tengah upaya Washington dan Teheran untuk merundingkan pengakhiran konflik yang telah berlangsung selama enam bulan, Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa AS akan menerapkan langkah-langkah keras terhadap Teheran yang "belum pernah terjadi sebelumnya", paling cepat mulai pekan depan.
Menurut pakar Kenneth Katzman, hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan bahwa tekanan ekonomi lebih lanjut dari AS akan memaksa pemerintah Iran untuk mengubah arah kebijakannya.
"Sangat sulit untuk mengetahui apa maksudnya dengan hal itu," ujar mantan analis senior Iran di Congressional Research Service AS tersebut, menanggapi klaim Menteri Keuangan Scott Bessent bahwa AS memiliki instrumen ekonomi yang belum pernah digunakan sebelumnya.
"Satu-satunya cara untuk melangkah lebih jauh dari sekadar blokade laut adalah dengan memperluasnya menjadi blokade darat juga; langkah ini memang akan menimbulkan penderitaan, namun menambah beban penderitaan bagi rakyat Iran," ujarnya.
Namun, Katzman berpendapat bahwa strategi dasarnya tetap tidak berubah. "Premisnya masih sama. Bahwa memberikan tekanan ekonomi akan membuat rezim tersebut mengambil keputusan yang berbeda, atau runtuh, atau menyerah."
"Dan selama empat dekade terakhir, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa cara itu akan berhasil," katanya. "Jadi, menurut saya tidak ada pakar—termasuk saya sendiri—yang meyakini bahwa langkah itu akan sukses."
Konfrontasi Trump dengan Iran: sebuah 'kampanye ketahanan luar biasa'
Kampanye tekanan terbaru Trump terhadap Iran tidak memiliki tujuan yang jelas dan pada akhirnya dapat memaksa presiden AS untuk mundur, kata mantan Duta Besar AS sekaligus penasihat kebijakan Timur Tengah Gedung Putih, Mark Ginsburg.
"Situasinya adalah pemerintahan ini tidak memiliki rencana akhir (endgame). Kita tidak tahu apa yang direncanakan presiden," ujarnya kepada Al Jazeera.
Ginsburg menggambarkan konfrontasi tersebut sebagai "kampanye ketahanan luar biasa" dan "permainan adu nyali ekonomi" (*game of economic chicken*), seraya mempertanyakan pihak mana yang akan bergerak lebih dulu sebelum keduanya saling berbenturan.
"Menurut saya, pada akhirnya pemerintah AS-lah yang akan menyerah sebelum pemerintah Iran melakukannya," ujarnya. Ginsburg mengatakan Trump pada akhirnya bisa saja memberikan konsesi akibat tekanan politik dalam negeri menjelang pemilihan paruh waktu AS.
"Publik Amerika muak dengan situasi yang terjadi, namun Donald Trump tidak bisa begitu saja melepaskan diri dari hal ini karena, pada akhirnya, pihak Iran sebenarnya sedang mempermainkannya," ujarnya. ***