EMTK Bukan Lagi Perusahaan TV? Bisnis Digital Kini Jadi Mesin Uang Terbesarnya
ORBITINDONESIA.COM - Banyak orang masih mengenal EMTK sebagai pemilik SCTV dan Indosiar. Wajar saja. Selama bertahun-tahun, kedua stasiun televisi itu menjadi wajah paling terlihat dari kelompok usaha ini. Namun kalau melihat laporan keuangan terbaru, ada perubahan menarik yang sedang terjadi.
Mesin pertumbuhan EMTK tampaknya tidak lagi berada di layar televisi, melainkan di dunia digital.
Pada kuartal I 2026, pendapatan digital EMTK melonjak lebih dari 300% menjadi Rp2,37 triliun. Angka ini bahkan sudah jauh melampaui pendapatan iklan televisi yang tercatat Rp1,31 triliun. Secara keseluruhan, pendapatan grup meningkat hampir 48% menjadi Rp5,81 triliun.
Data ini menunjukkan bahwa EMTK sedang menjalani transformasi yang cukup menarik. Perusahaan yang dulu identik dengan bisnis penyiaran kini semakin bergantung pada layanan digital, mulai dari Vidio, Bukalapak, Superbank, hingga EMC Healthcare.
Meski masih mencatat rugi bersih akibat berbagai faktor investasi dan ekspansi, posisi kas EMTK tetap sangat kuat, yakni mencapai Rp19,69 triliun. Dalam dunia bisnis, kas sebesar itu ibarat tabung oksigen berukuran raksasa. Ia memberi ruang bernapas yang panjang sekaligus memungkinkan perusahaan terus berinvestasi pada sektor-sektor yang diyakini akan menjadi mesin pertumbuhan masa depan.
Yang menarik justru pertanyaan berikutnya: dari semua lini bisnis itu, mana yang paling berpotensi menjadi andalan EMTK di masa depan?
Vidio memiliki peluang besar karena konsumsi konten digital terus meningkat. Banyak orang kini lebih memilih menonton pertandingan sepak bola, serial, atau film melalui ponsel daripada menunggu jadwal siaran televisi. Bahkan muncul candaan bahwa generasi muda sekarang lebih mengenal aplikasi Vidio daripada nomor kanal televisi di rumah.
Superbank juga menarik untuk diperhatikan. Jika ekosistem Grab, Bukalapak, dan berbagai layanan digital lain semakin terintegrasi, potensi transaksi yang mengalir melalui perbankan digital bisa sangat besar. Dalam ekonomi digital, pihak yang mengelola arus uang sering kali memiliki posisi yang sangat strategis.
Sementara itu, bisnis kesehatan melalui EMC Healthcare menawarkan karakter yang berbeda. Orang mungkin bisa berhenti belanja di marketplace tertentu atau membatalkan langganan hiburan, tetapi kebutuhan kesehatan cenderung terus ada. Dalam jangka panjang, sektor kesehatan sering dianggap sebagai bisnis yang lebih stabil dibandingkan sektor teknologi yang bergerak sangat cepat.
Menariknya, berbagai komentar warganet menunjukkan bahwa banyak orang baru menyadari luasnya kerajaan bisnis EMTK. Sebagian masih mengira perusahaan ini hanya memiliki SCTV dan Indosiar. Ada pula yang baru mengetahui hubungan EMTK dengan Bukalapak dan Superbank.
Fenomena ini menunjukkan bahwa transformasi bisnis sering kali berlangsung jauh lebih cepat daripada persepsi publik. Ketika masyarakat masih melihat EMTK sebagai perusahaan televisi, perusahaan itu diam-diam sedang membangun pijakan yang lebih kuat di dunia digital.
Pelajaran yang bisa diambil cukup sederhana. Dalam bisnis, kesuksesan masa lalu tidak selalu menjamin masa depan. Perusahaan yang bertahan biasanya bukan yang paling besar, melainkan yang paling mampu beradaptasi.
EMTK tampaknya sedang mencoba melakukan hal itu: menggunakan kekuatan yang dibangun dari era televisi untuk membiayai pertumbuhan di era digital.
Apakah strategi ini akan berhasil? Waktu yang akan menjawab.
Namun satu hal sudah terlihat jelas: EMTK hari ini bukan lagi sekadar perusahaan televisi yang memiliki bisnis digital. Ia perlahan berubah menjadi perusahaan digital yang kebetulan masih memiliki televisi.
(Sumber: Trenasia) ***