Sel Sintetis SpudCell: Terobosan Artificial Life dan Seleksi Alam

Fox News

Fox News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Sel sintetis bernama SpudCell diklaim sebagai sistem buatan paling mirip kehidupan sejauh ini, karena mampu tumbuh, menggandakan materi genetik, lalu membelah. Tim University of Minnesota menyebutnya lompatan menuju artificial life, sekaligus memantik pertanyaan baru tentang batas aman rekayasa makhluk buatan.

Para ilmuwan di University of Minnesota melaporkan mereka membangun sel sintetis paling menyerupai sel hidup yang pernah dibuat. Sistem ini dirakit sepenuhnya dari komponen non-hidup yang didefinisikan secara kimia, bukan dimodifikasi dari organisme yang sudah hidup.

Dalam laporan yang diunggah Kamis sebagai preprint di bioRxiv, riset ini belum melewati penelaahan sejawat. Para peneliti menyebut target besar bioengineering adalah membangun sistem biokimia yang melintasi ambang dari kimia menuju kehidupan.

Mereka mengklaim SpudCell sebagai “sel minimal pertama” yang memiliki siklus sel, pertumbuhan dan pembelahan yang dikodekan secara genetik, serta terhubung dengan seleksi dan kompetisi. Klaim ini penting karena banyak proyek “sel minimal” sebelumnya masih bergantung pada kerangka organisme hidup.

SpudCell memiliki genom sekitar 90.000 pasangan basa yang memungkinkan produksi protein, replikasi DNA, “makan”, tumbuh, dan membelah menjadi sel anak. Dengan kata lain, fungsi inti yang sering dipakai untuk mendefinisikan kehidupan berhasil disimulasikan dalam paket laboratorium.

Namun sistem ini belum mandiri di alam nyata. Sel sintetis tidak dapat bertahan di luar kondisi laboratorium yang sangat terkontrol, membutuhkan nutrisi dari luar, serta komponen khusus untuk tumbuh dan membelah.

Ketergantungan paling mencolok adalah pada ribosom yang dimurnikan dari bakteri E. coli. Ini berarti “mesin penerjemah” protein masih dipinjam dari kehidupan yang sudah ada, bukan dibuat sepenuhnya dari nol.

Tim juga menyisipkan mutasi genetik yang membuat sebagian SpudCell tumbuh lebih cepat. Setelah beberapa generasi, sel yang lebih cepat menghasilkan keturunan lebih banyak dan makin dominan, memperlihatkan bentuk dasar seleksi alam.

Di titik ini, narasinya bergeser dari sekadar “sel bisa membelah” menjadi “populasi bisa berevolusi”. Para peneliti menyebutnya tonggak menuju evolvability, yaitu kemampuan sistem untuk beradaptasi lewat variasi dan seleksi.

Tetapi ada angka yang membatasi euforia tersebut. Setelah lima generasi, hanya sekitar 30% sel anak mewarisi genom sintetis lengkap, sehingga stabilitas pewarisan masih rapuh.

Kerapuhan itu menunjukkan bahwa pembagian genom saat pembelahan belum presisi. Jika pewarisan saja belum konsisten, maka klaim menuju organisme buatan yang kokoh masih jauh dari garis finis.

Karena itu, riset lanjutan difokuskan pada membuat sel lebih swasembada. Targetnya mencakup regenerasi lebih banyak mesin molekuler sendiri, memperbaiki distribusi genom saat pembelahan, dan membiarkan mutasi muncul alami alih-alih disuntikkan peneliti.

SpudCell memaksa publik menatap ulang pertanyaan lama dengan alat baru: kapan “kimia kompleks” pantas disebut “hidup”. Ketika pertumbuhan, replikasi, pembelahan, dan seleksi bisa direkayasa dari komponen non-hidup, batas definisi menjadi lebih politis daripada biologis.

Di satu sisi, ini membuka jalan bagi “organisme sepenuhnya buatan” untuk aplikasi bioteknologi, seperti pabrik mikro untuk obat, enzim industri, atau biosensor. Di sisi lain, setiap peningkatan otonomi memperbesar risiko, karena sistem yang makin mampu bereplikasi juga makin sulit dikendalikan.

Para penulis sendiri menegaskan kebutuhan mendesak kerangka keselamatan dan keamanan untuk rekayasa sel sintetis masa depan. Pernyataan ini penting karena isu biosafety dan biosecurity sering tertinggal dibanding kecepatan inovasi.

Fakta bahwa riset ini masih preprint juga perlu dibaca dengan kepala dingin. Publik berhak kagum, tetapi juga berhak menunggu verifikasi komunitas ilmiah sebelum menyimpulkan bahwa “kehidupan buatan” sudah tercipta.

SpudCell adalah demonstrasi kuat bahwa banyak ciri kehidupan dapat disusun dari bahan non-hidup, meski belum menghasilkan artificial life yang mandiri dan berkelanjutan. Ketika hanya 30% sel anak membawa genom lengkap dan ribosom masih “menumpang” dari E. coli, kita melihat betapa sulitnya menyalin keajaiban sel hidup yang paling sederhana sekalipun.

Namun justru di situlah nilai jurnalistiknya: terobosan ini bukan akhir, melainkan cermin tentang apa yang masih belum kita pahami. Jika suatu hari sel sintetis benar-benar otonom, apakah kita siap dengan aturan, etika, dan tanggung jawab yang menyertainya. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juli 2026)