Kebangkitan Pengaruh Iran dan Dukungan Poros Perlawanan di Timur Tengah
Hamidreza Azizi. The Axis of Resistance: Iran, Israel, and the Struggle for the Middle East. Penerbit: Polity Press, Mei 2026.
ORBITINDONESIA.COM - Buku The Axis of Resistance: Iran, Israel, and the Struggle for the Middle East merupakan salah satu kajian paling mutakhir mengenai strategi regional Iran dan konflik geopolitik yang membentuk Timur Tengah kontemporer.
Hamidreza Azizi, seorang akademisi dan analis kebijakan luar negeri Iran yang banyak meneliti keamanan regional, berusaha menjelaskan bagaimana konsep "Axis of Resistance" (Poros Perlawanan) berkembang dari slogan revolusioner menjadi jaringan kekuatan transnasional yang mampu memengaruhi keseimbangan politik dan militer di Timur Tengah.
Menurut Azizi, Poros Perlawanan bukanlah aliansi formal seperti NATO. Ia lebih merupakan jaringan politik, militer, dan ideologis yang dipimpin Iran dan mencakup berbagai aktor negara maupun non-negara.
Di dalam jaringan ini terdapat antara lain: Hizbullah di Lebanon, Hamas, berbagai milisi Syiah di Irak, kelompok Houthi di Yaman, serta pemerintah Suriah di bawah Bashar al-Assad.
Azizi menjelaskan bahwa jaringan tersebut dibangun secara bertahap sejak kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979, ketika para pemimpin Iran mulai memandang diri mereka sebagai pusat perlawanan terhadap dominasi Barat dan Israel di kawasan.
Dari Revolusi ke Strategi Regional
Salah satu argumen utama buku ini adalah bahwa kebijakan luar negeri Iran tidak dapat dipahami hanya melalui kacamata nasionalisme atau kepentingan negara semata.
Menurut Azizi, pemimpin Iran menggabungkan tiga unsur sekaligus: Ideologi revolusi Islam; kepentingan keamanan nasional Iran; dan ambisi membangun pengaruh regional.
Ketiga unsur tersebut kemudian melahirkan strategi yang memungkinkan Iran memperluas pengaruhnya tanpa harus terlibat langsung dalam perang konvensional. Alih-alih mengirim pasukan besar ke luar negeri, Iran membangun jaringan sekutu lokal yang memiliki tujuan politik sejalan dengan Teheran.
Israel sebagai Musuh Strategis
Buku ini juga menguraikan mengapa Israel menempati posisi sentral dalam narasi Poros Perlawanan.
Bagi banyak kelompok dalam jaringan tersebut, Israel dipandang bukan sekadar negara, tetapi simbol dari tatanan regional yang ingin mereka ubah.
Azizi menunjukkan bahwa konflik Iran-Israel berkembang dari persaingan ideologis menjadi konfrontasi keamanan yang semakin nyata melalui: perang bayangan (shadow war), operasi intelijen, serangan siber, pembunuhan ilmuwan nuklir, hingga konflik terbuka yang melibatkan sekutu masing-masing pihak.
Salah satu bagian menarik buku ini membahas peran Qasem Soleimani. Azizi menggambarkan Soleimani sebagai arsitek utama jaringan Poros Perlawanan modern.
Melalui Pasukan Quds dari Islamic Revolutionary Guard Corps, Soleimani membangun hubungan erat dengan berbagai kelompok di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman.
Menurut buku ini, pengaruh Soleimani tidak berhenti setelah kematiannya akibat serangan drone Amerika Serikat pada 2020. Struktur yang ia bangun tetap bertahan dan bahkan berkembang.
Konflik yang Melampaui Timur Tengah
Azizi juga berargumen bahwa persaingan Iran-Israel tidak lagi hanya menjadi isu regional. Konflik tersebut kini terkait dengan: rivalitas Amerika Serikat dan Iran, kebangkitan China, kepentingan Rusia di Timur Tengah, keamanan energi global, serta perubahan tatanan dunia pasca-hegemoni Amerika.
Karena itu, setiap eskalasi antara Iran dan Israel berpotensi memiliki dampak global.
Inti buku ini adalah bahwa Poros Perlawanan bukan fenomena sementara, melainkan salah satu aktor geopolitik paling berpengaruh di Timur Tengah abad ke-21.
Azizi menolak pandangan yang melihat kelompok-kelompok tersebut sekadar sebagai "proxy" Iran yang sepenuhnya dikendalikan dari Teheran. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa masing-masing aktor memiliki kepentingan lokal sendiri, meskipun tetap terhubung melalui visi politik dan keamanan yang sama.
Buku ini penting karena membantu menjawab sejumlah pertanyaan yang sering muncul dalam liputan Timur Tengah:
Mengapa Iran memiliki pengaruh besar di luar wilayahnya?
Bagaimana Hizbullah, Hamas, dan milisi Irak terhubung satu sama lain?
Mengapa Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial?
Mengapa konflik Gaza, Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman sering kali saling terkait?
Mengapa perang Iran-Israel tidak pernah benar-benar berdiri sendiri?
Kesimpulan
The Axis of Resistance adalah buku yang berupaya menjelaskan anatomi kekuasaan Iran di Timur Tengah melalui jaringan sekutu, ideologi, dan strategi keamanan yang dibangun selama lebih dari empat dekade.
Bagi pembaca yang ingin memahami konflik Iran-Israel secara lebih mendalam, buku ini menawarkan kerangka analisis yang membantu melihat kawasan bukan sebagai kumpulan konflik terpisah, melainkan sebagai satu arena geopolitik yang saling terhubung. #
*Satrio Arismunandar, Dewan Pakar SCSC (South China Sea Council). Kontak WA: 081286299061. ***