Penghentian Program Frigat F126 untuk Angkatan Laut Jerman Tandai Perubahan Signifikan Pengadaan AL di Eropa

Konsep frigat F126 yang dibatalkan Jerman.

Konsep frigat F126 yang dibatalkan Jerman.

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM - Penghentian mendadak program frigat kelas F126 Niedersachsen oleh Jerman menandai perubahan arah paling signifikan dalam pengadaan angkatan laut di Eropa sejak Perang Dingin, yang secara mendasar mengubah postur peperangan anti-kapal selam NATO di wilayah Laut Baltik dan Sayap Utara yang kian menjadi ajang perebutan pengaruh.

Kementerian Pertahanan Jerman secara resmi menghentikan program bernilai miliaran euro tersebut pada 24 Juni 2026, setelah menyimpulkan bahwa konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding, tidak lagi mampu menyelesaikan pembuatan enam kapal perang tersebut sesuai dengan parameter biaya, jadwal, maupun risiko operasional yang dapat diterima.

Keputusan Berlin tersebut seketika menghanguskan investasi sekitar €2,3 miliar (US$2,48 miliar) yang sebelumnya telah dikucurkan untuk integrasi perangkat lunak, tahap awal konstruksi, pengembangan sistem tempur, dan persiapan industri terkait inisiatif pengadaan angkatan laut terbesar Jerman sejak Perang Dunia II.

Pembatalan tersebut secara bersamaan memicu peralihan strategis ke arah delapan frigat MEKO A-200-DEU buatan perusahaan galangan kapal Jerman, ThyssenKrupp Marine Systems.

Langkah ini mencerminkan doktrin 'Zeitenwende' yang lebih luas, yang memprioritaskan kesiapan tempur yang cepat dibandingkan proyek-proyek pertahanan yang ambisius secara teknologi namun mengalami penundaan operasional.

Kegagalan program frigat F126 menggarisbawahi bagaimana operasi hibrida Rusia yang berkelanjutan di kawasan Baltik, pengerahan kapal selam yang kian meluas, serta meningkatnya ancaman sabotase terhadap infrastruktur bawah laut yang vital, memaksa angkatan laut NATO untuk memprioritaskan kemampuan peperangan anti-kapal selam yang dapat dikerahkan secara segera.

Inspektur Angkatan Laut Jerman (Deutsche Marine), Vice Admiral Jan Christian Kaack, memandang perubahan keputusan pengadaan ini sebagai suatu kebutuhan operasional.

Ia berargumen bahwa konfigurasi MEKO A-200-DEU mampu memenuhi kewajiban utama Jerman dalam peperangan anti-kapal selam sekaligus menjaga jadwal kemampuan penangkalan maritim NATO sebelum akhir dekade ini.

Perubahan arah ini juga menyoroti keretakan yang kian melebar dalam ekosistem industri pertahanan Eropa, di mana Jerman semakin memprioritaskan ketahanan industri nasional dan arsitektur angkatan laut modular setelah bertahun-tahun program pengadaan multinasional mengakibatkan lonjakan biaya, kegagalan integrasi, serta penundaan pengiriman yang berkepanjangan.

Berdasarkan rencana pengadaan yang telah direvisi dan sedang menunggu persetujuan Bundestag, Berlin berniat mengakuisisi empat frigat MEKO A-200-DEU pertama dengan nilai sekitar €6,3 miliar (US$6,8 miliar), sembari mempertahankan opsi untuk empat kapal tambahan senilai €5,3 miliar (US$5,72 miliar).

Perkiraan total biaya program untuk delapan frigat MEKO tersebut akan mencapai sekitar €11,6 miliar (US$12,53 miliar), jauh lebih rendah dibandingkan estimasi biaya sebesar €18 miliar (US$19,44 miliar) yang diperlukan untuk menyelamatkan dan merampungkan program enam kapal F126.

Selain itu, pembatalan tersebut merupakan kemunduran geopolitik yang signifikan bagi ambisi galangan kapal angkatan laut Belanda di pasar pertahanan Eropa yang kian berkembang.

Ini sekaligus memperkuat basis industri angkatan laut dalam negeri Jerman melalui peningkatan ketergantungan pada TKMS dan rantai pasok maritim domestik.

Yang paling signifikan, perubahan arah pengadaan ini menunjukkan bagaimana negara dengan perekonomian terbesar di Eropa tersebut kini memandang jadwal kesiapan angkatan laut, kemampuan peperangan anti-kapal selam, dan ketersediaan kekuatan sebagai faktor yang lebih menentukan secara strategis, dibandingkan mengejar konsep frigat generasi mendatang yang terlalu ambisius dan rentan terhadap kelumpuhan birokrasi maupun industri.***