Pilpres Kolombia dan Trauma Konflik Bersenjata: Cepeda vs de la Espriella
ORBITINDONESIA.COM – Pilpres Kolombia 2026 kembali dibayangi trauma konflik bersenjata, ketika korban perang seperti Blanca Nubia Monroy dan Sigifredo López takut negara tergelincir ke masa paling gelapnya. Monroy memegang tato timbangan keadilan yang dulu dipakai mengidentifikasi jenazah putranya, sementara López masih dihantui tembakan yang menewaskan rekan-rekannya saat ia disandera gerilyawan.
Kenangan enam dekade konflik bersenjata Kolombia masih terasa seperti luka terbuka di tubuh dan ingatan para korban. Dalam pemilu paling terpolarisasi dalam beberapa tahun, pemilih memilih antara aktivis perdamaian Iván Cepeda dan pengacara Abelardo de la Espriella yang didukung Donald Trump.
Pertarungan bersenjata antara gerilyawan Marxis, militer Kolombia, dan paramiliter sayap kanan telah membuat lebih dari 10 juta orang menjadi korban, atau satu dari lima warga Kolombia, menurut registri pemerintah. Data itu mencakup pembunuhan, penculikan, pengungsian paksa, dan pelanggaran lain yang membentuk politik Kolombia hingga kini.
Meski ada perjanjian damai 2016 dengan FARC, konflik masih menyala di banyak wilayah. Tema perang, damai, dan rasa aman menjadi poros utama pilihan pada hari pemungutan suara.
Polarisasi tentang cara menangani kekerasan “sudah mendidih selama puluhan tahun,” kata Elizabeth Dickinson dari International Crisis Group. Ia mengingatkan logika “kami versus mereka” berbahaya di negara dengan sejarah panjang kekerasan politik, karena percikan bisa menyala kapan saja.
Cepeda berjanji melanjutkan agenda “total peace” Presiden Gustavo Petro dengan merundingkan pakta damai bersama berbagai kelompok kriminal, dari mafia narkoba hingga pemberontak bersenjata. Strategi ini diniatkan mengubah cara negara menangani konflik, tetapi menuai kritik karena gencatan senjata dianggap memberi ruang kelompok bersenjata memperkuat diri.
De la Espriella menawarkan kebalikan yang tegas, yakni ofensif habis-habisan terhadap kejahatan dengan meniru “perang terhadap geng” ala Presiden El Salvador Nayib Bukele. Keberhasilan Bukele menurunkan pembunuhan menarik perhatian regional, namun juga memicu tuduhan pelanggaran HAM yang menjadi peringatan bagi Kolombia.
Di bawah Petro, kelompok bersenjata memakai drone, serangan bom menambah korban sipil, dan satu kandidat presiden dibunuh pada Juni 2025. Pada Mei, Palang Merah Internasional menyebut dampak konflik bersenjata terhadap warga sipil selama setahun terakhir mencapai titik terburuk dalam satu dekade.
Pekan ini, ELN mengumumkan gencatan senjata sementara agar tidak mengganggu pemilu. Kelompok kriminal lain tidak memberi janji serupa, sehingga risiko kekerasan tetap menjadi latar mencekam.
Monroy, 67 tahun, menanggung luka yang sangat personal dari operasi militer masa lalu. Putranya, Julián Oviedo Monroy, hilang pada 2008 bersama pemuda miskin lain di pinggiran Bogotá, lalu ditemukan dalam kuburan rahasia di timur laut yang dilanda konflik.
Jenazah itu dikenali lewat tato, dan Monroy meniru tato tersebut sebagai penghormatan yang terus ia tatap setiap hari. “Rasanya seperti dia masih ada di sini,” katanya, sambil menunduk melihat tato dan foto putranya di dompet.
Kematian Julián termasuk dalam skandal “false positives,” yakni eksekusi di luar hukum terhadap warga sipil yang kemudian dipalsukan sebagai kombatan musuh. Skandal ini terutama terjadi pada 2002–2008 di era Presiden Álvaro Uribe, dan pengadilan perdamaian pasca-2016 dibentuk untuk membongkar kebenaran kelam itu.
Sejumlah perwira keamanan berpangkat tinggi mengakui pembunuhan tersebut dan meminta maaf di tribunal perdamaian, tetapi de la Espriella berjanji membongkar pengadilan itu. Monroy mengkritik kekerasan yang meningkat di era Petro, namun ia juga takut pada janji kampanye de la Espriella yang mengancam akan “menghabisi” target militer “seperti kecoak, seperti tikus.”
“Semoga orang ini tidak berkuasa, karena ‘false positives’ akan jadi kenyataan lagi,” ujar Monroy tentang de la Espriella. Ia akhirnya condong mendukung Cepeda, meski berharap pendekatan terhadap kelompok kriminal tetap tegas.
López, 62 tahun, membawa jenis trauma yang berbeda, yakni neraka penculikan tujuh tahun oleh FARC pada 2002–2009. Saat itu ia anggota dewan daerah, ketika gerilyawan menetapkan politisi sebagai target militer dan menculiknya bersama 11 legislator lain.
Ia berada dalam sel isolasi pada 2007 ketika rekan-rekannya dibantai oleh pemberontak, dan bunyi tembakan itu terus menghantuinya. Kasus López menjadikannya simbol penyintas, dalam sejarah FARC yang menculik lebih dari 21.000 orang selama lima dekade konflik.
Kini ia tinggal di Cali dengan pengawalan negara karena ancaman pembunuhan, dan ia melihat kekerasan meningkat dalam empat tahun terakhir. Karena itu, meski mengaku berhaluan kiri, López mendukung de la Espriella.
“Kolombia sedang diculik,” kata López, menilai prioritas utama adalah memulihkan rasa aman dengan kekuatan sah negara. Ia menolak gagasan bahwa “total peace” bisa dimenangkan lewat negosiasi dengan kriminal, dan menganggap korban kini “dikorbankan lagi” oleh situasi yang memburuk.
Dua kisah ini memperlihatkan ironi demokrasi Kolombia, yakni korban yang sama-sama takut kekerasan justru memilih resep yang berlawanan. Yang satu takut negara mengulang kekerasan aparat, yang lain takut negara melemah hingga kekerasan bersenjata makin menjadi.
Pilpres Kolombia 2026 bukan sekadar kontestasi Cepeda versus de la Espriella, melainkan referendum emosional tentang memori dan rasa aman. Ketika satu pihak menjanjikan negosiasi dan pihak lain menjanjikan penindakan, korban perang mengingatkan bahwa salah langkah dapat menciptakan luka baru.
Pelajaran paling keras dari “false positives” dan penculikan massal adalah bahwa negara bisa gagal dengan dua cara, yakni terlalu brutal atau terlalu rapuh. Pertanyaannya, bisakah Kolombia menemukan jalan tengah yang tegas pada kriminal, namun tetap taat hukum dan menghormati martabat manusia?
Jika pemilu hanya memindahkan ketakutan dari satu kubu ke kubu lain, perdamaian akan tetap menjadi slogan, bukan pengalaman hidup. Pada titik itu, yang dipertaruhkan bukan siapa yang menang, melainkan apakah generasi baru akan mewarisi harapan atau mengulang trauma. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Juni 2026)