Film Werner Herzog Bucking Fastard di Venice Film Festival 2026
ORBITINDONESIA.COM – Film Werner Herzog Bucking Fastard mencuri perhatian di Venice Film Festival ketika Rooney Mara dan Kate Mara memerankan dua saudari yang berbicara serempak. Pemutaran perdana dunia di Lido berujung tepuk tangan berdiri hampir tujuh menit, sementara tanggal rilis AS belum diumumkan.
Terjemahan akurat artikel sumber: Di Venesia, Italia (AP), saudari Rooney dan Kate Mara memerankan saudari yang berbicara serempak dalam film baru Werner Herzog berjudul Bucking Fastard, yang tayang perdana dunia pada Kamis di Festival Film Venesia. Sutradara Jerman berusia 83 tahun itu pernah bertemu sepasang kembar yang berbicara serempak sekitar 45 tahun lalu, yakni Greta dan Freda Chaplin, yang berpakaian sama dan menjadi sensasi tabloid di Inggris pada 1980-an karena kasus penguntitan.
Terjemahan berlanjut: Mereka memicu sebuah ide, tetapi ide itu tertidur selama puluhan tahun karena dibatasi “keterbatasan realitas.” Lalu seseorang menyarankan bahwa tokohnya tidak harus kembar: bagaimana jika yang memerankan adalah saudari Mara, dan gagasan itu mendadak hidup hingga Herzog menulis skenario dalam lima hari.
Terjemahan berlanjut: Ceritanya sepenuhnya rekaan; Mara bersaudari memerankan Jean dan Joan Holbrooke, dua tokoh fiksi yang menempuh perjalanan literal dan spiritual untuk menemukan tempat mereka di dunia. Herzog hadir di Lido bersama Rooney dan Kate Mara serta Orlando Bloom, yang memerankan pria yang menjadi objek afeksi keduanya, dan film itu belum memiliki tanggal rilis di AS.
Terjemahan berlanjut: Rooney Mara mengatakan awalnya menakutkan memainkan “orang yang sama,” tetapi kedekatan seumur hidup menciptakan dunia tak terucap di antara mereka, dan ia belum pernah tertawa sebanyak itu saat syuting. Kate Mara menilai berbicara serempak terasa seperti lagu, sangat musikal, dan terjadi alami; bahkan karena cepatnya mereka menangkapnya, Herzog memotong rencana latihan dua minggu menjadi lima hari dan meminta mereka bertemu di Irlandia “di depan kamera saya.”
Terjemahan berlanjut: Herzog juga antusias bekerja dengan Bloom dan melihatnya keluar dari citra “pujaan remaja,” seraya menyebutnya kini “bucking fastard.” Bloom mengatakan Herzog “menciptakan ruang sakral agar keajaiban terjadi,” dan menyebut hadir di Festival Film Venesia membahas film dengan Herzog sebagai puncak karier aktor.
Terjemahan berlanjut: Herzog mendedikasikan film itu untuk mendiang David Lynch; saat mengedit, ia berharap Lynch bisa menjadi penonton pertama. Herzog berkata mereka saling memahami secara mendalam meski berbeda, dan ia berharap dapat memutar balik waktu untuk mengundang Lynch malam itu, tetapi hal tersebut tidak mungkin.
Kata kunci “Werner Herzog” dan “Venice Film Festival” kembali bertemu dalam sebuah peristiwa yang menegaskan daya tahan auteur, bahkan ketika industri makin dikuasai algoritma dan waralaba. Sub-keyword “Rooney Mara Kate Mara” dan “Orlando Bloom” berfungsi sebagai jembatan pemasaran, tetapi inti beritanya justru ada pada cara Herzog menghidupkan ide 45 tahun yang sempat mandek.
Detail bahwa skenario ditulis dalam lima hari adalah data kecil yang berbicara keras tentang metode kerja Herzog yang intuitif dan agresif. Ini bukan sekadar romantisasi “genius spontan,” melainkan strategi: menutup celah keraguan sebelum realitas produksi kembali membatasi imajinasi.
Kisah Greta dan Freda Chaplin menjadi referensi aktual yang memperlihatkan bagaimana fenomena sosial dapat beralih fungsi menjadi bahan bakar sinema. Tabloid 1980-an, kasus penguntitan, dan sensasi publik adalah konteks yang keras, lalu dipindahkan Herzog menjadi perjalanan “literal dan spiritual” yang lebih puitik.
Keputusan mengganti kembar dengan dua saudari yang bukan kembar adalah manuver kreatif yang menggeser “keaslian” menjadi “kemungkinan.” Di sini, realisme biologis dikalahkan oleh realisme emosional, karena Mara bersaudari punya memori bersama yang bisa memproduksi sinkronisasi tanpa harus identik secara fisik.
Pernyataan Rooney tentang “dunia tak terucap” menandai bahwa film ini mungkin bekerja lewat bahasa tubuh dan ritme, bukan sekadar dialog. Kate menyebutnya “musikal,” dan itu memberi petunjuk bahwa unison bukan gimmick, melainkan struktur bunyi yang mengatur relasi kuasa, kedekatan, dan konflik.
Tepuk tangan berdiri hampir tujuh menit adalah indikator resepsi festival yang penting, meski tidak otomatis berarti sukses komersial. Namun di ekosistem festival, durasi ovasi sering menjadi sinyal awal bagi distributor, terutama ketika film belum punya tanggal rilis AS.
Masuknya Orlando Bloom memperkuat kontras: bintang arus utama diminta keluar dari persona “heartthrob,” lalu diberi label baru oleh Herzog, “bucking fastard.” Kalimat itu terdengar kasar dan jenaka, tetapi juga mengisyaratkan upaya sutradara memecah citra publik aktor agar penonton mau melihatnya sebagai karakter, bukan merek.
Dedikasi untuk David Lynch menambahkan lapisan sejarah sinema yang lebih luas, karena keduanya sama-sama dikenal menantang logika naratif konvensional. Herzog mengakui perbedaan, tetapi menekankan “pemahaman mendalam,” yang mengarah pada solidaritas antarsineas yang bekerja di pinggir arus utama.
Bucking Fastard tampak seperti eksperimen tentang identitas yang tidak diserahkan pada genetika, melainkan pada kebiasaan, ritme, dan kedekatan. Ketika dua saudari berbicara serempak, penonton dipaksa bertanya: apakah individu itu selalu tunggal, atau bisa menjadi “dua yang satu” tanpa harus patologis?
Herzog juga seolah sedang mengkritik cara publik mengonsumsi keanehan, dari tabloid 1980-an hingga budaya viral hari ini. Ia mengambil bahan yang dulu dieksploitasi sebagai sensasi, lalu mengubahnya menjadi perjalanan eksistensial, sehingga “yang aneh” tidak lagi jadi objek ejekan, melainkan pintu masuk empati.
Namun ada risiko estetika: unison bisa menjadi trik yang memukau di awal, lalu melelahkan bila tidak disokong kedalaman konflik. Karena itu, keberhasilan film ini kemungkinan ditentukan oleh seberapa jauh perjalanan spiritual Jean dan Joan benar-benar memaksa mereka retak, bukan hanya kompak.
Di sisi lain, keputusan memotong latihan dari dua minggu menjadi lima hari memperlihatkan keyakinan Herzog pada spontanitas. Ini bisa menghasilkan kejujuran yang segar, tetapi juga bisa membuat performa bergantung pada chemistry alami, bukan pada penemuan detail melalui proses.
Yang menarik, Bloom menyebut “ruang sakral” yang diciptakan Herzog, seolah set film menjadi ritual, bukan pabrik. Pernyataan itu menguatkan citra Herzog sebagai sutradara yang memimpin dengan atmosfer, dan atmosfer sering kali lebih menentukan daripada penjelasan plot.
Di Venice Film Festival, Werner Herzog menghadirkan film yang lahir dari ide lama, dipicu ulang oleh kenyataan sederhana: saudari tidak harus kembar untuk terdengar seperti satu suara. Rooney Mara, Kate Mara, dan Orlando Bloom menjadi kendaraan bagi pertanyaan yang lebih besar tentang identitas, citra publik, dan cara sinema menebus sensasi menjadi makna.
Dedikasi kepada David Lynch menutup lingkaran: film sebagai upaya melawan waktu, meski waktu tak bisa diputar kembali. Jika Bucking Fastard benar-benar berhasil, ia akan membuat kita pulang dengan satu kegelisahan yang produktif: berapa banyak bagian diri kita yang sebenarnya terbentuk oleh orang terdekat, bukan oleh diri kita sendiri?
(Orbit dari berbagai sumber, 6 September 2026)