Israel Kuasai Beaufort Castle, Serangan Terjauh ke Lebanon

ORBITINDONESIA.COM – Bendera Israel berkibar di puncak Beaufort Castle, kastel abad pertengahan di Lebanon selatan, menandai dorongan militer terdalam Israel ke wilayah itu dalam 26 tahun. Rekaman video memperlihatkan asap hitam membubung dari kota Arnoun, sementara operasi darat dan udara Israel terus meluas.

Pasukan Israel dilaporkan merebut Beaufort Castle yang berusia sekitar 900 tahun, peninggalan era Perang Salib, lalu menjadikannya titik dominan di punggung bukit strategis. Israel pernah menguasai kastel ini selama pendudukan militer 18 tahun yang berakhir pada 2000, dan kini kembali bertempur melawan Hezbollah yang didukung Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, Israel mempercepat pengerahan pasukan darat dan meningkatkan serangan udara, meski gencatan senjata yang dimediasi AS secara resmi masih berlaku. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan mengancam akan “menghancurkan” Hezbollah, sebuah retorika yang mempersempit ruang kompromi.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam invasi dan menyebut Israel menjalankan “kebijakan bumi hangus, hukuman kolektif, dan perampasan desa-desa serta kota-kota.” Ia menuntut gencatan senjata segera dan penarikan Israel, sembari menegaskan negosiasi tetap jalan paling realistis untuk mencegah kerusakan lebih besar.

Beaufort Castle dibangun pada abad ke-12 dan disebut UNESCO sebagai salah satu contoh kastel abad pertengahan yang paling terawat di Timur Dekat. Letaknya memberi pandangan luas ke Lebanon selatan dan Israel utara, sehingga secara militer berfungsi sebagai menara pengawas alami sekaligus simbol dominasi medan.

Israel menyatakan perebutan kembali kastel itu karena area tersebut dipakai Hezbollah untuk melancarkan serangan ke Israel utara. Kastel ini berjarak sekitar 9 mil dari perbatasan, dan Israel juga mengintensifkan operasi di sekitar Nabatiyeh yang lebih dari 20 mil dari garis batas.

Netanyahu mengatakan pasukannya telah menyeberangi Sungai Litani, sebuah klaim yang mengindikasikan penetrasi sekitar 20 mil ke dalam Lebanon selatan. Jika benar, ini bukan sekadar operasi taktis, melainkan sinyal bahwa Israel sedang membangun kedalaman operasi yang berpotensi menjadi zona penyangga baru.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan, “Prajurit pemberani kami telah merebut Beaufort sekali lagi—dan mereka akan tetap di sana sebagai bagian dari zona keamanan di Lebanon.” Pernyataan “akan tetap” menggeser narasi dari serangan sementara menjadi penempatan yang lebih panjang, dengan konsekuensi politik dan kemanusiaan yang jauh lebih berat.

Data korban dan pengungsian memperlihatkan biaya perang yang meningkat tajam. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut lebih dari 3.300 orang tewas, sekitar 20% di antaranya perempuan, anak-anak, dan petugas tanggap darurat, serta lebih dari 1,2 juta orang mengungsi.

Israel melaporkan dua warga sipil dan 23 tentara, ditambah seorang kontraktor militer, tewas akibat serangan Hezbollah, dan hampir semua tentara tewas di dalam Lebanon. Ketimpangan angka bukan hanya statistik, melainkan indikator perbedaan daya hancur, skala operasi, dan dampak struktural pada masyarakat sipil.

Pasukan penjaga perdamaian PBB menyatakan Israel meluncurkan ratusan serangan per hari dalam sepekan terakhir. Angka PBB yang diberikan kepada NPR mencatat lebih dari 3.300 proyektil dan serangan udara Israel dari 24 Mei hingga sore 30 Mei, sementara Hezbollah dan sekutunya meluncurkan 187 proyektil pada periode yang sama.

Hezbollah membalas dengan jumlah serangan yang lebih kecil, termasuk drone fiber-optik yang sulit dicegat Israel dan dilaporkan menewaskan beberapa tentara Israel. Ini menunjukkan adaptasi taktik Hezbollah menuju teknologi murah namun efektif, yang dapat memperpanjang konflik sekalipun intensitas tembak-menembak tidak simetris.

Di Washington, pejabat Israel dan Lebanon tetap bertemu meski kedua negara secara resmi telah lama berada dalam status perang. Pemerintah Lebanon menyatakan Hezbollah seharusnya dilucuti dan digantikan tentara nasional, tetapi mengakui tidak memiliki kemampuan untuk memaksakannya, sementara Hezbollah menolak melucuti senjata selama Lebanon diserang.

Dimensi regional menambah lapisan risiko. Iran, yang membantu membentuk Hezbollah pada 1980-an untuk melawan invasi Israel, menegaskan upaya damai harus mencakup perang di Iran dan konflik di Lebanon, sehingga medan Lebanon menjadi kartu tawar dalam negosiasi yang lebih besar.

Perebutan Beaufort Castle adalah kemenangan simbolik sekaligus eskalasi strategis yang berbahaya. Ketika sebuah situs sejarah dijadikan pos militer dan bendera dikibarkan di atasnya, pesan yang dikirim bukan hanya ke Hezbollah, tetapi juga ke warga Lebanon bahwa medan dan memori kolektif mereka sedang direbut.

Israel tampak menguji batas gencatan senjata, lalu mengubahnya menjadi ruang manuver, bukan pagar pembatas. Jika “zona keamanan” kembali dipraktikkan seperti era sebelum 2000, maka sejarah menunjukkan ia cenderung melahirkan perlawanan berkepanjangan, bukan stabilitas permanen.

Di sisi Lebanon, tuntutan melucuti Hezbollah terdengar logis di atas kertas, namun runtuh di lapangan karena negara tidak memonopoli kekuatan bersenjata. Selama serangan masih berlangsung, seruan perlucutan justru mudah dibaca sebagai pelemahan pertahanan internal, sehingga memperkeras posisi Hezbollah.

Konflik ini juga menyingkap paradoks diplomasi: pertemuan di Washington berjalan, tetapi artileri di selatan Lebanon tetap berbicara lebih keras. Ketika kanal politik tidak menghasilkan jeda nyata, setiap “kemajuan” hanya menjadi jeda retoris yang dibayar mahal oleh warga sipil.

Beaufort Castle berdiri selama sembilan abad, namun kini kembali menjadi panggung perang modern yang mengikis batas antara simbol sejarah dan target militer. Angka 1,2 juta pengungsi dan ribuan korban jiwa menegaskan bahwa “keamanan” yang dipaksakan lewat pendudukan dan penghancuran desa berisiko menciptakan dendam baru yang diwariskan.

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa menguasai puncak bukit, melainkan siapa yang sanggup membangun jalan turun menuju de-eskalasi. Jika para pihak terus menganggap kemenangan taktis sebagai solusi, Lebanon selatan bisa berubah menjadi “zona keamanan” bagi satu pihak, tetapi zona ketidakpastian bagi semua yang lain. (Orbit dari berbagai sumber, 6 Juni 2026)