Jam Gadang di Bukittinggi: Renungan tentang Bentuk-bentuk Kreativitas dan Tantangan Masa Depan

Ceramah Berthold Damshäuser (Pak Trum) dalam rangka International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) bulan Juni 2026 bertemakan 100 years of Jam Gadang - From Literacy to Legacy: Building Wealth, Peace, and Sustainability Learning

ORBITINDONESIA.COM - Hadirin sekalian,

Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya berada di sini, di Bukittinggi, untuk merayakan 100 tahun Jam Gadang – simbol kota ini yang bukan hanya sekadar menara jam, tetapi juga lambang budaya Minangkabau.

Seperti saya sendiri, Jam Gadang membawa sepotong Jerman di dalamnya. Mekanisme jamnya dibuat oleh Turmuhrenfabrik (pabrik jam menara) Bernard Vortmann dari Recklinghausen, sebuah kota di kawasan Ruhr, yang bertetangga dengan kota kelahiran saya, Wanne-Eickel. Dengan kata lain, kami berasal dari daerah yang sama—hanya saja Jam Gadang datang beberapa generasi lebih awal.

Sekitar 30 tahun yang lalu, saya pertama kali mengunjungi Bukittinggi bersama istri dan kedua anak kami yang masih kecil. Saya berkata kepada mereka: “Lihat, di mana-mana bendera Jerman dikibarkan untuk menyambut kita.” Mereka mempercayainya dan merasa bangga.

Sebenarnya, itu adalah bendera Minangkabau, sang Marawa, hitam-merah-kuning, tetapi sangat mirip dengan bendera Jerman yang hitam-merah-kencana. Bagi anak-anak saya, itu terasa ajaib. Bagi saya, pengalaman itu menjadi semacam isyarat awal: hubungan antarbudaya sering kali tampak jelas—seperti yang dilihat anak-anak saya—namun pada kenyataannya bersifat ambigu, terselip secara halus di balik simbol-simbol yang mirip dan pertemuan budaya yang tidak langsung terlihat.

Jam Gadang di Bukittinggi: Menaranya menjulang di tengah kota sebagai simbol identitas dan kebanggaan kolektif, dengan fasad yang elegan dan jam besar yang terus menandai waktu bagi warga dan pengunjung. Atapnya yang khas, meniru gaya Minangkabau, menciptakan kesan harmonis dengan bentuk Eropa dari menara itu sendiri, seolah membentuk sebuah simbiosis estetis antara dua tradisi arsitektur.

Namun di balik keindahan itu muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah Jam Gadang benar-benar merupakan hasil kesatuan antara teknologi dan budaya, atau justru memperlihatkan bahwa keduanya tetap terpisah?

Pertanyaan ini bukan sekadar retoris. Ia menyentuh persoalan yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat memahami kreativitas, produksi, dan makna dalam dunia modern.

Dengan hampir satu abad keberadaannya, Jam Gadang tetap menonjol sebagai ikon visual sekaligus artefak teknologi yang presisi, membuka ruang refleksi tentang hubungan antara bentuk, fungsi, dan secara khusus perihal kreativitas.

Dua Jenis Kreativitas

Jam Gadang menunjukkan dua bentuk kreativitas: teknologi dan estetika atau keindahan. Kedua bentuk kreativitas ini hadir di semua budaya, namun distribusinya berbeda. Dalam budaya Jerman, kedua jenis kreativitas ini seringkali seimbang dan sama kuat: inovasi teknologi, seperti yang misalnya terlihat pada prestasi perintis awal pembangunan otomobil Gottlieb Daimler atau Ferdinand Porsche, berjalan seiring dengan kedalaman dan keabadian ekspresi artistik, misalnya dalam karya sastra Johann Wolfgang von Goethe. Tradisi panjang dan sistematis memungkinkan kedua bentuk kreativitas berkembang secara seimbang dan saling memperkaya.

Pertanyaannya kemudian: apakah hal yang sama juga berlaku untuk budaya Minangkabau atau lebih luas, Indonesia? Apakah prestasi di bidang teknologi dan estetika berkembang secara seimbang?

Tidak dapat disangkal bahwa budaya Indonesia juga telah menghasilkan prestasi luar biasa di bidang teknologi, misalnya dalam arsitektur. Rumah adat Minangkabau yang memesona hanyalah salah satu contoh dari kekayaan imajinasi dan kecanggihan bentuk yang telah berkembang selama berabad-abad. Tradisi ini menunjukkan tingkat kreativitas teknologis yang sangat tinggi.

Namun, kesan bahwa Indonesia pada masa kini tidak lagi menonjol karena inovasi teknologi sulit dihindari. Tampaknya kreativitas saat ini lebih menonjol dalam bidang kesenian dan estetika.

Sebagai seseorang yang bergerak di bidang sastra—baik sebagai peneliti, penerjemah, maupun penulis—saya secara naluriah mendekati persoalan kreativitas melalui karya-karya susastra.

Dari sudut pandang inilah tadi saya menyebut nama Johann Wolfgang von Goethe sebagai contoh kreativitas dalam budaya Jerman. Maka, ketika berbicara tentang kreativitas di Indonesia, saya pun cenderung melihatnya melalui lensa sastra.

Dalam hal ini, tidak ada keraguan bahwa Indonesia memiliki kekayaan kreativitas estetis dan artistik yang luar biasa. Hal ini tampak dengan sangat jelas dalam budaya Minangkabau, yang secara khusus menonjol di bidang sastra. Budaya Minangkabau yang melahirkan tokoh-tokoh sastra penting seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Hamka, dan terutama Sutan Takdir Alisyahbana (STA) (1 ).

STA menonjol karena ia tidak hanya sastrawan, tetapi arsitek kebudayaan yang gelisah, yang menjadikan sastra sebagai alat intelektual untuk mendorong modernitas. Lewat Pudjangga Baru, ia berani menantang nostalgia masa lalu dan menyerukan adopsi semangat Barat: ilmu, rasio, dan teknologi. (2)

Bagi STA, keindahan pantun atau adat tidak cukup tanpa kemampuan membangun sistem dan teknologi. Ia ingin bangsa ini memiliki “otak rasional” tanpa kehilangan identitasnya. STA memaksa kita melihat Jam Gadang bukan sekadar pemandangan indah, tetapi sebagai tantangan mekanis yang harus dikuasai. Bersama tokoh lain, ia membangun fondasi jiwa Indonesia modern dan menuntut agar bahasa dan budaya bertransformasi menjadi aksi dan inovasi, menyatukan estetika dan rasionalitas dalam visi yang sama.

Merantau sebagai Laboratorium Inovasi

Mengapa tanah Minangkabau mampu melahirkan begitu banyak tokoh, baik sastrawan maupun pemikir? Rahasianya, saya percaya, terletak pada tradisi merantau. Merantau bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan laboratorium eksistensial. Seorang pemuda Minang yang pergi ke tanah asing dipaksa keluar dari zona nyamannya, bertemu bahasa baru, hukum baru, dan tantangan yang belum dikenal. Dari ketegangan inilah bunga kreativitas mekar, lahir dari interaksi antara identitas asal dan pengalaman baru.

Perlu saya sebutkan dua tokoh perantau yang saya kenal secara pribadi: Taufiq Ismail dan almarhum Hamid Jabbar. Kedekatan saya dengan keduanya memberi pandangan langsung yang sangat personal tentang bagaimana pengalaman merantau membentuk kreativitas dan intelektualitas. Puisi-puisi mereka, yang juga telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Jerman (3), bukan sekadar karya seni bahasa, melainkan refleksi mendalam tentang posisi manusia di tengah dunia yang terus berubah. Mereka menunjukkan bahwa kreativitas tumbuh dari ketegangan antara tradisi dan pengalaman baru, antara akar budaya dan keterbukaan terhadap dunia luar.

Pertanyaan yang Tidak Nyaman dan Perspektif Kreativitas Ganda

Dari semua energi kreatif yang melimpah ini muncul pertanyaan yang sulit dihindari—dan relevan bagi seluruh Indonesia: mengapa kekuatan budaya yang begitu besar jarang melahirkan inovasi teknologi?

Pertanyaan ini bukan tuduhan, melainkan cara untuk menyingkap pola distribusi kreativitas dalam masyarakat. Ia menyoroti dikotomi yang nyata antara kreativitas teknologis dan non-teknologis—antara kemampuan membangun sistem, mesin, atau proses teknis, dan kemampuan menghasilkan karya estetis, sastra, atau pemikiran yang mendalam.

Di tanah Minangkabau—dan di Indonesia secara luas—kreativitas non-teknologis bersinar terang: bahasa, narasi, simbol, dan refleksi kultural tumbuh dengan intensitas luar biasa.

Sebaliknya, inovasi teknologi jarang muncul dari tanah sendiri; ia lebih sering hadir melalui adopsi atau adaptasi dari luar. Masalahnya bukan kurangnya energi kreatif, tetapi ketidakseimbangan antara dua jalur ekspresi ini.

Jam Gadang menjadi simbol yang hidup untuk memahami ketegangan ini. Mekanisme presisinya berasal dari tradisi industri Eropa, sementara bentuk arsitektural dan mahkota atap yang khas lahir dari kreativitas lokal. Kedua elemen berdampingan, namun berkembang melalui logika yang berbeda. Jam Gadang bukan sekadar monumen; ia adalah representasi visual dari dua jalur kreativitas yang berjalan beriringan namun terpisah—pengingat bahwa inti teknologis masih berasal dari luar, sementara keindahan dan estetika lahir dari pikiran lokal yang kreatif.

Tantangan bagi Indonesia, juga bagi Jerman

Perbandingan lintas konteks semakin menegaskan hal ini. Jerman sering dianggap simbol inovasi teknis dan presisi. Namun, beberapa dekade terakhir menunjukkan gejala stagnasi: daya inovasi teknologis tidak lagi sekuat dahulu, sehingga dalam sektor ekspor produk teknologi semakin terdesak oleh Asia Timur, terutama Cina. Cina tidak lagi hanya mengejar,

tetapi dalam banyak sektor telah melampaui. Maka, jika hari ini pihak Indonesia hendak mengimpor sebuah sistem penunjuk waktu — sebuah “Jam Gadang” versi kontemporer — besar kemungkinan tidak lagi akan memesan mekanisme dari Jerman, melainkan sistem digital dari Cina.

Sementara itu, Indonesia sendiri belum menonjol dalam hal kreativitas teknologis. Keterbatasan ini tidak hanya terlihat pada rendahnya inovasi produk, tetapi juga pada lemahnya ekosistem riset, keterhubungan antara dunia akademik dan industri, serta kurangnya keberlanjutan dalam pengembangan teknologi. Sebagian besar masalah ini berakar pada sistem pendidikan nasional, yang selama ini belum mampu membekali generasi muda dengan keterampilan kritis, pemahaman ilmiah mendalam, dan pengalaman praktis yang dibutuhkan untuk mendorong inovasi berskala besar. Akibatnya, banyak inisiatif tidak pernah melampaui tahap awal dan gagal berkembang menjadi sistem yang matang.

Dalam konteks ini, jarak Indonesia dengan berbagai negara Asia bahkan semakin melebar, bukan hanya dalam hal output teknologi, tetapi juga dalam kemampuan membangun dan mengelola sistem inovasi secara konsisten. Di Asia Timur, Cina menonjol sebagai pusat inovasi teknologi, digitalasisasi, sementara Jepang dan Korea Selatan menunjukkan integrasi kuat antara kapasitas teknis, perencanaan jangka panjang, dan disiplin sistemik.

Dan kini muncul dimensi baru: kecerdasan buatan (AI). AI menunjukkan bahwa produksi kreatif—baik teknologis maupun non-teknologis—tidak lagi terpisah. Mesin tidak sekadar mengeksekusi instruksi teknis, tetapi juga memproses, merekombinasi, dan mencipta karya dan gagasan, bahkan meniru ekspresi manusia. Namun di sinilah letak peringatan yang tidak boleh diabaikan.

Kemampuan AI menghasilkan teks, rencana, dan gagasan tidak berarti ia memiliki kesadaran, pengalaman, atau tanggung jawab batin. Kreativitas yang dihasilkannya adalah simulasi (4) —meyakinkan secara bentuk, tetapi kosong secara eksistensial. Jika manusia tidak waspada, kemudahan ini dapat membuat kita berhenti mencipta secara mendalam dan hanya menjadi penyunting dari hasil mesin.

Dalam jangka panjang, hal ini berisiko melemahkan daya refleksi, mengikis kedalaman berpikir, dan menjerumuskan budaya ke dalam mediokritas yang luas namun dangkal. Dengan demikian, batas antara kreativitas teknologis dan non-teknologis memang semakin kabur; tetapi yang dipertaruhkan justru semakin besar: bukan hanya bentuk kreativitas, melainkan juga “roh”-nya.

Dalam konteks ini, prinsip merantau semakin relevan. Kreativitas lahir dari keterbukaan terhadap dunia luar, tetapi juga dari kemampuan menjaga jarak kritis terhadap sistem. Merantau hari ini berarti memasuki dunia teknologi tanpa kehilangan pusat diri—terbuka terhadap yang asing, namun tidak larut dalam dunia simulasi yang membentuk cara kita berpikir dan berkarya. Sebagai penutup dari ceramah ini, izinkan saya merangkum pesan utama dalam bentuk sebuah pantun:

Perahu berlayar menembus batas jiwa,

Ombak tinggi selalu menantang;

Mesin dan keindahan harus berdampingan,

Daya cipta lahir dari langkah panjang.

Jerman dan Indonesia di gelombang tantangan,

Angin pembaruan meniup layar harapan;

Hanya yang berani merantau dalam pikiran,

Dapat menyatukan kedua jalur cipta nan dalam.

Alhamdulillah, tarimo kasih jo awak sadonyo. Bendero kita sajo nan sarupo, tapi jangan salah—urang masih punya jo banyuak persamaan lain nan lebih penting. Semoga harapan jo cita-cita urang baralek baramo, jo sambil senyum-senyum lihat bendero kita yang mirip itu.”

(Alhamdulillah, terima kasih untuk kalian semua. Bendera kita saja yang serupa, tapi jangan salah—kita masih punya banyak persamaan lain yang lebih penting. Semoga harapan dan cita-cita kita berjalan bersama, sambil tersenyum melihat bendera kita yang mirip itu.) #

=============-

Catatan Kaki:

(1) Ternyata tokoh Minangkabau ini memiliki hubungan pribadi dengan Jerman melalui pernikahannya dengan Dr. Margaret Axer di Bonn, Jerman Barat, pada tahun 1953. Dari pernikahan ini lahir empat anak, dan hubungan tersebut berlangsung hingga akhir hayatnya.

(2) Dalam kolom Majalah Tempo tahun 2012 berjudul Humboldt, Takdir, dan Bahasa Indonesia, saya menulis tentang sebuah pertemuan dan percakapan saya dengan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang berlangsung di Jakarta pada awal tahun 1990-an. Kolom ini dapat diakses di https://www.tempo.co/kolom/humboldt-takdir-dan-bahasa-indonesia-933411. Kolom tersebut juga termuat dalam buku saya: Ini dan Itu Indonesia.

(3) Terjemahan saya atas puisi-puisi Taufiq Ismail dan Hamid Jabbar diterbitkan dalam majalah Orientierungen (https://www.ioa.uni-bonn.de/soa/de/pers/personenseiten/berthold-damshaeuser/zeitschrift-orientierungen) serta dalam antologi besar puisi modern Indonesia berjudul Sprachfeuer, yang disunting oleh Agus R. Sarjono dan saya sendiri. Antologi ini diterbitkan oleh Regiospectra-Verlag, Berlin 2015.

(4) Lihat tulisan saya “AI dan Roh Kreativitas: Tantangan Spiritualitas dan Kemanusiaan di Era Simulasi”, dalam: OrbitIndonesia, 23 September 2024, dapat diakses di: https://orbitindonesia.com/detail/28868/AI-dan-Roh-Kreativitas-Tantangan-Spiritualitas-dan-Kemanusiaan-di-Era-Simulasi

=============

*Berthold Damshäuser, akrab dipanggil “Pak Trum”, lahir pada tahun 1957 di Wanne-Eickel, Jerman. Sejak 1986 hingga 2023, ia mengabdikan dirinya sebagai pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Bonn. Ia adalah koeditor Orientierungen, jurnal bergengsi yang mengkaji kebudayaan Asia. Damshäuser dikenal luas sebagai penerjemah puisi—mengalihkan karya-karya Jerman ke dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya—serta beberapa kali dipercaya menjadi penerjemah Presiden Suharto dalam kunjungan kenegaraan. Bersama Agus R. Sarjono, ia menyunting Seri Puisi Jerman yang diterbitkan sejak 2003. Pada 2010, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menunjuknya sebagai Presidential Friend of Indonesia. Pada 2014 dan 2015, ia diundang menjadi anggota Komite Nasional Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt. Esai-esainya dalam bahasa Indonesia telah menghiasi halaman Majalah Tempo, Jurnal Sajak, dan berbagai media terkemuka. Karya-karya tulisnya dihimpun dalam buku Ini dan Itu Indonesia – Pandangan Seorang Jerman. Salah satu karya terbarunya, Eksegesis Pancasila: Membaca Ulang Lima Sila. Amatan Seorang Jerman, diterbitkan di Jakarta pada tahun 2025. Sejak 2023, ia menjadi anggota Persatuan Penulis Indonesia (Satupena). Ia menetap di Bonn, Jerman. Websitenya: https://www.ioa.uni-bonn.de/soa/de/pers/personenseiten/berthold-damshaeuser/berthold-damshaeuser ***