Sel Sintetis SpudCell: Pabrik Biologi atau Sekadar Hype?
ORBITINDONESIA.COM – Sel sintetis SpudCell diklaim bisa “makan, tumbuh, dan membelah” mirip sel hidup, memicu harapan baru bagi biomanufaktur dan produksi obat. Namun riset ini masih berstatus preprint di bioRxiv (2 Juli) dan belum melewati peer review, sehingga euforia publik berhadapan dengan tanda tanya ilmiah.
Para ilmuwan melaporkan mereka membangun “sel sintetis” yang mampu makan, tumbuh, dan membelah dengan cara yang sangat mirip sel hidup. Naskahnya diunggah ke bioRxiv pada 2 Juli dan belum ditinjau sejawat, sehingga klaimnya belum mendapat verifikasi formal.
Sistem itu dinamai SpudCell, dan disebut sebagai langkah besar menuju pembuatan sel hidup dari nol. Namun salah satu penulis, Kate Adamala dari University of Minnesota, menegaskan, “Saya tidak percaya [SpudCell] itu hidup,” melainkan kerangka untuk memproduksi bahan kimia penting bagi peradaban.
Di titik ini, “sel sintetis” menjadi kata kunci yang mudah memantik imajinasi publik dan investor. Kontroversi pun muncul karena pengumuman riset berbarengan dengan peluncuran nonprofit Biotic, yang bertujuan menghimpun dana untuk mengembangkan platform SpudCell.
Adamala tidak menampik bahwa sorotan media dan pendanaan memang dibutuhkan. Ia mengaitkan urgensi riset ini dengan krisis iklim, karena produksi bahan kimia modern masih sangat bergantung pada produk minyak bumi.
Menurut preprint, tim Adamala menggabungkan 36 enzim murni, membran lemak, dan genom “dipangkas” yang ukurannya sekitar 50 kali lebih kecil dari genom bakteri rata-rata. Dari komponen buatan itu, mereka menyusun sistem yang menunjukkan siklus sel lengkap di cawan petri: makan, tumbuh, lalu membelah.
Adamala menekankan sistemnya “sepenuhnya terdefinisi secara kimia,” sehingga tidak ada “bahan penyusun misterius” di dalamnya. Nama SpudCell muncul karena bentuknya mirip kentang, dan sekaligus merujuk pada satelit Sputnik menurut laporan media.
Gagasan mengejar “siklus sel” di laboratorium bukan hal baru. Paper “minimal cell” dari J. Craig Venter Institute pada 2016 memangkas gen bakteri seminimal mungkin agar tetap bisa bereplikasi, tetapi pendekatannya bersifat top-down, bukan merakit dari nol.
Di sinilah SpudCell diposisikan sebagai terobosan bottom-up: fungsi hidup disusun dari bagian-bagian terpilih. Mauro Rinaldi dari University of Hull menyebutnya “kemajuan besar,” karena pembelahan adalah salah satu ciri kunci sel.
Namun daftar keterbatasannya panjang dan menentukan makna klaim. SpudCell belum bisa menciptakan energi sendiri seperti sel manusia yang memakai mitokondria, dan masih bergantung pada pasokan lemak, gula, serta enzim dari luar.
Sistem ini juga tidak membuat ribosomnya sendiri, yaitu mesin yang menerjemahkan instruksi genetik menjadi protein fungsional. Artinya, protein tetap harus “dikirim” dari luar, sehingga otonomi biologisnya belum terbentuk.
Perbedaan lain ada pada genom yang tersebar di plasmid, bukan tersusun rapi dalam kromosom. SpudCell juga tidak memiliki “rangka” pembelahan yang lazim dipakai sel untuk membagi DNA secara presisi, sehingga pembagian DNA ke sel anak bisa acak.
Cees Dekker dari TU Delft menyatakan deskripsi hasil menyisakan “pertanyaan teknis substansial” tentang sifat dan ketahanan temuan. Ia menilai pendekatan ini memakai “trik rekayasa cerdik” sebagai jalan pintas, tetapi tantangan besar tetap ada: membuat sel yang benar-benar otonom tanpa bantuan eksternal.
Dekker juga mengkritik timing pemberitaan sebelum peer review. Menurutnya, jika temuan solid maka perhatian media pantas, tetapi jika peer review menemukan kelemahan, maka peliputan saat ini bisa prematur.
Di sisi aplikasi, Adamala melihat SpudCell sebagai “kertas kosong” yang bisa direkayasa total. Ia berargumen bahwa jika sel dibuat dari nol, maka sel itu dapat “sepenuhnya dapat direkayasa,” tidak terikat rem evolusi yang dimiliki sel alami.
Sel alami sudah lama dipakai untuk produksi kimia, termasuk insulin sintetis yang dibuat bakteri dan ragi. Masalahnya, sel alami cenderung menolak memproduksi senyawa yang merusak dirinya, karena evolusi membangun mekanisme perlindungan.
SpudCell digadang bisa menghindari hambatan tersebut, sehingga cocok menjadi platform biomanufaktur. Timnya juga menyasar obat generasi baru berbasis mRNA atau peptida, yang sering membutuhkan “blok bangunan” kimia yang dimodifikasi agar lebih stabil.
Jika SpudCell dapat diprogram untuk menghasilkan komponen termodifikasi itu langsung, proses yang kini dikerjakan di laboratorium kimia bisa dipangkas. Klaimnya: waktu pengembangan lebih singkat dan biaya bisa turun, meski bukti skala industri belum ada.
Ada pula visi “laboratorium yang bisa dikirim” dengan cara mengeringkan sel, mengirim tanpa pendingin, lalu mengaktifkannya di lokasi. Ini terdengar relevan untuk produksi vaksin, protein, atau bahan kimia di wilayah yang rantai dinginnya rapuh.
Namun Adamala sendiri mengakui jarak dari demo ke industri sangat panjang. Ia menyebut SpudCell “bukan platform rekayasa yang memberi produk berguna,” melainkan “langkah pertama,” dan memperkirakan butuh beberapa dekade untuk skala yang dapat menggantikan petrokimia.
Kisah SpudCell memperlihatkan dua dunia yang sering bertabrakan: sains yang bergerak pelan lewat verifikasi, dan narasi publik yang bergerak cepat lewat janji. Ketika istilah “sel sintetis” dipakai, publik mudah mengira “kehidupan baru” telah lahir, padahal penulis utamanya sendiri menolak label “hidup.”
Di sini, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar definisi hidup, tetapi kredibilitas. Pengumuman preprint yang dibingkai sebagai lompatan besar, lalu diikuti peluncuran lembaga penggalangan dana, menciptakan kesan bahwa perhatian media menjadi bagian dari strategi pengembangan teknologi.
Namun kritik “hype” juga tidak otomatis berarti risetnya kosong. Justru, dalam krisis iklim dan ketergantungan pada minyak bumi, ide membuat pabrik biologi yang dapat diprogram memang layak diuji, karena potensi dampaknya sangat besar.
Masalahnya, potensi bukan bukti, dan bukti bukan produk. Tanpa otonomi energi, tanpa ribosom internal, dan dengan pembagian DNA yang belum presisi, SpudCell saat ini lebih tepat dibaca sebagai prototipe sistem biokimia terintegrasi, bukan “sel baru” yang siap bekerja.
Karena itu, kunci berikutnya adalah transparansi metode, replikasi oleh lab lain, dan peer review yang ketat. Jika lolos, SpudCell bisa menjadi batu pijakan menuju biomanufaktur yang lebih bersih, tetapi jika tidak, ia menjadi pelajaran tentang bagaimana sains bisa tergelincir oleh framing.
SpudCell menempatkan kita pada pertanyaan yang lebih besar dari sekadar “apakah ini hidup.” Pertanyaannya adalah apakah kita mampu membangun mesin biologi yang dapat diprogram, aman, dan benar-benar mandiri untuk menggantikan rantai pasok kimia berbasis fosil.
Optimisme Adamala tentang solusi bioengineering untuk krisis iklim patut didengar, tetapi harus disaring lewat disiplin ilmiah yang sama kerasnya dengan urgensinya. Pada akhirnya, masa depan biomanufaktur akan ditentukan bukan oleh judul besar, melainkan oleh data yang tahan uji dan janji yang mau dipertanggungjawabkan. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juli 2026)