Harapan Baru Tunas Sastra yang Tumbuh dari Ajang FLS3N Bangka Selatan
Oleh Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali.
ORBITINDONESIA.COM - “Sembilan belas, Pak,” jawab Khoiriah Apriza saat saya menanyakan jumlah peserta lomba menulis cerpen pada ajang FLS3N tingkat Kabupaten Bangka Selatan, Rabu, 22 April 2026 lalu.
“Wow… keren. Mantap!” saya spontan menimpali.
“Luar biasa pelajar Bangka Selatan,” sambung Kulul, yang sejak awal tampak antusias.
Di hadapan kami, tumpukan naskah cerpen tersusun rapi. Halaman demi halaman seolah menyimpan imajinasi, harapan, dan suara-suara muda yang siap menemukan jalannya.
Saya bersama pegiat literasi Bangka Selatan, Kulul, dan cerpenis muda Khoiriah Apriza dipercaya menjadi juri lomba menulis cerpen pada ajang FLS3N tingkat kabupaten. Sebuah amanah yang bukan hanya soal penilaian, tetapi juga menyaksikan tumbuhnya generasi baru penulis.
Tahun ini terasa istimewa. Jumlah peserta mencapai 19 orang—terbanyak dalam tiga tahun terakhir. Biasanya hanya sekitar sepuluh peserta. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah tanda: minat menulis di kalangan pelajar mulai bertumbuh kembali.
Padahal, jika ditarik ke belakang, tradisi menulis di Bangka Selatan bukanlah sesuatu yang baru. Banyak penulis lahir dari bangku sekolah.
Khoiriah Apriza sendiri adalah contoh nyata. Saat masih berseragam putih abu-abu, ia sudah aktif menulis cerpen, bahkan telah menerbitkan buku kumpulan cerpen. Kini, ia kembali ke ajang yang sama sebagai juri—sebuah siklus yang indah dalam dunia literasi.
Nama lain yang patut disebut adalah Putri Rahmawati, yang mulai menulis sejak di bangku SMA, tepatnya di SMAN 1 Simpang Rimba. Ada pula Musda Quratul Aini, yang bahkan telah menulis sejak SMP. Buku kumpulan cerpennya, Disleksia, menjadi salah satu tonggak penting lahirnya karya dari penulis pelajar.
Sesungguhnya, hampir setiap sekolah di Bangka Selatan memiliki bibit penulis. Dari SMAN 1 Toboali, misalnya, ada Karya Arnando, Arsi, dan Hikmah Tul. Dari SMAN 2 Toboali, muncul nama Sari Andini, juara lomba cerpen FLS2N tingkat kabupaten tahun 2024.
Dari Tanah Pering, lahir Maria Sareng Putri dan Saskia Puspita Sari, yang dulu aktif di tim jurnalistik SMAN 1 Payung. Kini, mereka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, baik di Bangka Belitung maupun di luar daerah.
Karya-karya mereka mulai menghiasi media massa. Ini yang patut kita syukuri—bahwa dari daerah, lahir suara yang mampu menembus ruang publik yang lebih luas.
Yang penting dipahami para pelajar: menulis itu keren. Menulis itu membanggakan. Memiliki karya tulis berarti meninggalkan jejak—jejak pikiran, rasa, dan gagasan yang bisa dibaca lintas waktu.
Lewat tulisan, kita mewariskan sesuatu. Seperti para pendahulu yang meninggalkan karya untuk kita baca hari ini.
Dari ajang FLS3N tahun ini, kita kembali menyaksikan lahirnya tunas-tunas baru. Penulis-penulis muda yang kelak mungkin akan mengisi halaman-halaman sastra Indonesia.
Di tengah proses penilaian, azan Zuhur berkumandang. Suaranya syahdu, menembus kesibukan kami. Perut mulai “bersuara”, namun tangan Kulul dan Khoiriah tetap bergerak, menilai setiap karya dengan saksama.
Ada tanggung jawab di sana. Ada harapan yang harus dijaga.
Selamat datang, para penulis muda Bangka Selatan. Teruslah menulis. Hiasi dunia sastra dengan karya-karya terbaik kalian. Warnai literasi daerah dan Indonesia dengan suara kalian.
Dan ingat satu hal: kalian pacak—kalian bisa. ***