Denny JA: Paris yang Berubah dan Kisah Fashion Activism dalam Industri Mode

PARIS YANG BERUBAH DAN KISAH FASHION ACTIVISM DALAM INDUSTRI MODE

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Malam itu hujan turun tipis di Avenue Montaigne, Paris.

Lampu butik-butik mewah memantul di trotoar basah seperti cahaya emas yang mulai kehilangan keyakinannya sendiri.

Di depan etalase Dior, seorang perempuan muda berdiri lama sambil memegang telepon genggamnya. Ia bukan sedang memilih tas.

Ia sedang bersedih sambil merekam video pendek untuk TikTok. Di layar kecil itu, ia berkata pelan dalam bahasa Prancis: “Apakah mungkin tampil cantik tanpa menghancurkan bumi?”

Dua puluh tahun lalu, pertanyaan dunia mode adalah: “Siapa paling glamor?” Kini pertanyaannya berubah: “Apakah kemewahan masih punya hati nurani?”

Paris yang dulu saya kenal adalah kota aristokrasi mode. Kota yang percaya keindahan lahir dari eksklusivitas, jarak, dan status sosial.

Tetapi Paris yang saya lihat kali ini berbeda. Ia tampak lebih gelisah. Lebih politis. Lebih sadar luka bumi.

Di café kecil dekat Seine, anak-anak muda berdiskusi soal fast fashion dan krisis iklim. Di runway, model dengan tubuh non-konvensional berjalan tanpa rasa malu.

Di media sosial, AI mulai menciptakan desain busana yang bahkan belum pernah disentuh tangan manusia.

Dan tiba-tiba saya sadar:

Paris bukan lagi sekadar ibu kota fashion dunia. Ia sedang berubah menjadi laboratorium besar tentang masa depan identitas manusia.

-000-

Kunjungan saya ke Paris kali ini terasa semakin personal karena beberapa malam sebelumnya saya menonton kembali The Devil Wears Prada edisi keduanya.

Saya ingin melihat bagaimana nasib Miranda Priestly, tokoh editor fashion legendaris yang diperankan luar biasa oleh Meryl Streep.

Di film itu, Miranda masih elegan. Masih tajam. Masih memiliki aura aristokrasi budaya lama. Tetapi kekuasaannya tidak lagi mutlak seperti dulu. Zaman sudah berubah. Berubah pula otoritas industri fashion.

Dulu, satu tatapan Miranda bisa menentukan hidup seorang desainer. Satu halaman majalah fashion bisa mengangkat atau menghancurkan karier.

Dunia mode pernah berada di tangan segelintir elite yang menentukan selera global dari ruang redaksi eksklusif di New York, Milan, atau Paris.

Tetapi ketika saya berjalan di Paris hari ini, saya merasa sedang menyaksikan keruntuhan sunyi dari dunia itu. Kini mode tidak lagi sepenuhnya dikendalikan editor majalah atau rumah mode besar.

Algoritma TikTok bisa menciptakan tren global hanya dalam hitungan jam. Influencer dari Seoul, Jakarta, bahkan Lagos bisa lebih menentukan arah mode dibanding kritik fashion senior di Paris.

Miranda Priestly mewakili era aristokrasi budaya. Tetapi dunia digital sedang mengubah fashion menjadi republik besar yang liar, cepat, demokratis, sekaligus brutal.

Setiap orang kini bisa menjadi trendsetter. Tetapi justru karena semua orang berbicara, dunia kehilangan pusat gravitasinya.

Dan mungkin di situlah kesedihan terbesar Paris hari ini: otoritas lama sekarat, walau belum sepenuhnya mati, tetapi juga tak lagi benar-benar berkuasa.

-000-

Dalam lima tahun terakhir, saya melihat tiga model baru dunia fashion lahir di Paris.

Model pertama adalah quiet luxury.

Model kedua adalah fashion activism. Model ketiga adalah AI fashion culture.

Ketiganya bukan sekadar tren pakaian. Mereka adalah refleksi psikologi manusia modern yang sedang kehilangan keseimbangan antara identitas, teknologi, dan makna hidup.

Model pertama adalah quiet luxury.

Setelah pandemi, dunia mengalami kelelahan psikologis terhadap budaya pamer. Selama era Instagram awal, manusia berlomba menunjukkan logo terbesar. Fashion berubah menjadi kompetisi visual tentang siapa paling kaya.

Tetapi pandemi mengubah sesuatu dalam jiwa manusia. Ketika jutaan orang kehilangan keluarga, pekerjaan, dan rasa aman, kemewahan yang terlalu demonstratif mulai terasa vulgar.

Muncul estetika baru: kemewahan yang diam. Brand seperti Hermès, The Row, dan Loro Piana menjadi simbol status baru.

Bukan karena logonya besar. Justru karena hampir tak terlihat. Quiet luxury adalah bahasa kaum elite baru yang ingin berkata: “Orang yang benar-benar berkelas tak perlu berteriak.”

Paris sangat cocok dengan filosofi ini karena DNA budaya Prancis memang selalu percaya: elegansi sejati adalah keheningan.

Namun di balik keheningan itu sebenarnya tersembunyi kegelisahan besar.

Generasi kaya baru dunia sedang mencari cara tampil mewah tanpa terlihat rakus. Mereka ingin tetap eksklusif, tetapi tidak ingin tampak arogan di tengah dunia yang dipenuhi perang, krisis iklim, dan ketimpangan sosial.

Quiet luxury pada akhirnya bukan hanya soal mode. Ia adalah rasa bersalah yang dijahit menjadi estetika.

-000-

Model kedua adalah fashion activism. Ini perubahan paling filosofis. Fashion kini tidak lagi sekadar bertanya:

“Apakah pakaian ini indah?”

Tetapi: “Apakah pakaian ini bermoral?”

Industri mode dipaksa menghadapi kritik besar: eksploitasi buruh murah, limbah tekstil, konsumsi berlebihan, diskriminasi tubuh, hingga emisi karbon.

Data UNEP mengonfirmasi kegelisahan ini: industri fashion menyumbang hingga delapan persen emisi karbon global, menjadi konsumen air terbesar kedua dunia, dan menghasilkan dua puluh persen limbah air industri.

Karena itu runway Paris berubah.

Model dengan berbagai warna kulit tampil lebih dominan. Tubuh plus size mulai diterima. Identitas gender menjadi lebih cair.

Bahkan rumah mode besar mulai berbicara soal: krisis iklim, feminisme, migrasi, hingga hak LGBTQ. Fashion berubah menjadi arena moral modern.

Namun di sinilah paradoks besar muncul. Saya masih ingat percakapan dengan seorang mahasiswa mode asal Maroko di sebuah café kecil dekat Saint-Germain.

Ia tertawa pahit sambil berkata:

“Paris ingin menyelamatkan bumi. Tetapi tas sustainability di sini harganya setara gaji tahunan buruh tekstil Bangladesh.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya. Karena memang di situlah kontradiksi besar dunia mode hari ini: moralitas sering tetap dijual sebagai kemewahan.

Dan mungkin itu ironi terbesar kapitalisme modern: bahkan rasa bersalah pun kini bisa dikemas menjadi produk premium.

Maka pertanyaan sinis muncul:

apakah sustainability sungguh idealisme? Atau sekadar strategi marketing baru bagi kapitalisme modern?

Paris menjadi pusat perdebatan itu.

-000-

Model ketiga adalah AI fashion culture.

Ini revolusi yang paling sunyi tetapi mungkin paling besar dampaknya.

Dulu Paris menentukan tren dunia.

Kini tren bisa lahir dari TikTok.

Anak muda di Jakarta, Lagos, atau São Paulo dapat memengaruhi estetika global hanya lewat video 15 detik.

AI juga mulai memasuki dunia mode:

desain otomatis, prediksi tren, virtual fitting, hingga model digital.

Beberapa rumah mode Paris bahkan mulai bereksperimen dengan avatar virtual dan AI-generated couture.

Saya sempat melihat layar besar di sebuah showroom digital di Paris yang menampilkan model AI berjalan di runway virtual. Wajahnya sempurna. Tubuhnya sempurna. Gerakannya sempurna.

Terlalu sempurna. Dan justru karena itu terasa mengerikan. Untuk pertama kalinya saya bertanya:

jika kecantikan bisa sepenuhnya diciptakan mesin, apa yang tersisa dari jiwa manusia?

Namun menariknya, justru di tengah digitalisasi ekstrem itu, Paris tetap bertahan sebagai simbol kemewahan dunia.

Mengapa? Karena Paris bukan hanya soal pakaian. Ia adalah sejarah.

Ia adalah seni. Ia adalah aroma café tua setelah hujan.

Ia adalah arsitektur yang menyimpan memori peradaban.

Ia adalah tangan artisan tua yang menjahit perlahan dengan kesabaran yang nyaris punah di zaman algoritma.

AI bisa meniru desain. Tetapi ia belum bisa meniru nostalgia manusia terhadap makna.

Dan mungkin di situlah kekuatan terakhir Paris: ia masih mampu membuat manusia merasa bahwa keindahan memiliki jiwa.

-000-

Dua buku ini memperkaya wawasan soal berubahnya industri fashion di Paris, juga di pusat mode lain.

Buku pertama berjudul “Deluxe: How Luxury Lost Its Luster,” ditulis oleh Dana Thomas, 2007.

Buku ini menjelaskan bagaimana industri luxury global berubah dari dunia craftsmanship menjadi mesin kapitalisme massal.

Dana Thomas menunjukkan bahwa banyak rumah mode besar yang dulu dibangun atas dasar seni, kualitas tangan, dan eksklusivitas perlahan berubah menjadi korporasi raksasa yang mengejar volume penjualan global.

Yang paling relevan dengan Paris hari ini adalah analisisnya tentang bagaimana luxury kehilangan “jiwa aristokratiknya.” Dulu tas mewah dibuat perlahan oleh artisan terlatih.

Kini banyak produk diproduksi dalam skala jauh lebih besar demi memenuhi pasar Asia dan budaya konsumsi global.

Thomas juga memperlihatkan paradoks moral industri fashion:

merek menjual citra keanggunan Eropa, tetapi sebagian rantai produksinya dibuat di Cina.

Buku ini penting karena membantu kita memahami mengapa generasi muda Paris mulai mencari quiet luxury dan sustainability. Mereka lelah pada kemewahan yang terlalu industrial dan terlalu bising.

Inti buku ini sederhana tetapi mengguncang: ketika kemewahan menjadi terlalu massal, ia kehilangan aura spiritualnya.

-000-

Buku kedua berjudul “Fashionopolis: The Price of Fast Fashion and the Future of Clothes.” Penulisnya sama: Dana Thomas, 2019.

Buku ini memperlihatkan sisi gelap industri fashion modern:

limbah tekstil, eksploitasi tenaga kerja murah, polusi air, dan budaya konsumsi cepat yang menghancurkan bumi.

Dana Thomas menunjukkan bahwa fashion adalah salah satu industri paling merusak lingkungan setelah energi dan konstruksi. Fast fashion membuat manusia membeli pakaian terlalu cepat dan membuangnya terlalu cepat pula.

Namun buku ini juga memberi harapan. Ia memperlihatkan munculnya generasi baru desainer dan rumah mode yang mencoba membangun fashion berkelanjutan:

menggunakan recycled fabric, produksi etis, dan teknologi rendah emisi.

Yang paling penting dari buku ini adalah gagasannya bahwa masa depan fashion bukan hanya soal estetika, tetapi soal etika.

Pakaian kini menjadi keputusan moral. Apa yang kita pakai mencerminkan bagaimana kita memandang bumi, buruh, dan masa depan manusia.

Buku ini membantu menjelaskan mengapa Paris hari ini berubah menjadi pusat fashion activism dunia.

-000-

Apa pelajaran penting dari semua ini untuk Indonesia? Sangat besar.

Indonesia sering memandang fashion hanya sebagai industri konsumsi.

Padahal fashion adalah soft power budaya. Paris memahami bahwa mode bukan sekadar pakaian. Ia adalah identitas nasional. Karena itu Indonesia perlu belajar: budaya lokal bisa menjadi kekuatan global jika diberi narasi yang kuat.

Batik, tenun, dan kerajinan Nusantara tidak cukup hanya dijual sebagai produk tradisional.

Ia harus diangkat menjadi simbol filosofi hidup Indonesia: keberagaman, kesabaran tangan manusia, dan harmoni dengan alam.

Beberapa nama sudah memulai jalan ini. Sejauh Mata Memandang karya Chitra Subyakto mengangkat batik dengan etos berkelanjutan. Toton Januar membawa estetika Nusantara ke panggung New York Fashion Week.

Indonesia juga harus sadar bahwa generasi muda global kini mencari produk yang bermakna. Bukan hanya murah.

Di tengah dunia yang semakin artifisial, justru yang paling dicari adalah sesuatu yang terasa manusiawi.

Karena itu masa depan fashion Indonesia bukan meniru Barat.

Tetapi menemukan cara agar tradisi Nusantara berbicara dengan bahasa global modern tanpa kehilangan jiwanya sendiri.

Paris mengajarkan bahwa kemewahan sejati bukan lagi tentang imitasi, melainkan otentisitas. Di sinilah Indonesia berdiri; bukan untuk mengekor tren dunia, melainkan menawarkan narasi Nusantara sebagai jawaban atas kegelisahan bumi

-000-

Pada akhirnya saya memahami sesuatu ketika berjalan malam di Paris. Fashion ternyata bukan soal pakaian. Ia adalah cermin kecemasan zaman.

Quiet luxury lahir dari kelelahan terhadap budaya pamer.

Fashion activism lahir dari rasa bersalah terhadap bumi.

AI fashion lahir dari dunia yang semakin digital dan kehilangan batas antara manusia dan mesin.

Paris berubah karena manusia modern juga berubah. Dan mungkin pertanyaan terbesar dunia mode hari ini bukan lagi:

“Siapa paling elegan?”

Tetapi: “Nilai apa yang ingin kita kenakan di tubuh kita?”

Sebab pada akhirnya manusia tidak hanya memakai pakaian. Manusia sedang memakai identitas, luka, harapan, dan kecemasan zamannya sendiri.

Dan mungkin suatu hari nanti, yang paling mewah bukan lagi gaun paling mahal, melainkan keberanian untuk tetap manusia di tengah dunia yang semakin artifisial.*

Jakarta, 28 Mei 2026

REFERENSI

1. Deluxe: How Luxury Lost Its Luster

Dana Thomas

Penguin Press, 2007

2. Fashionopolis: The Price of Fast Fashion and the Future of Clothes

Dana Thomas

Penguin Press, 2019

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World

https://www.facebook.com/share/18gF9Gy9E8/?mibextid=wwXIfr ***