Bukan Sekadar Bangun Kampung, KKP Siapkan 1.100 Desa Nelayan Mandiri dan Berkelanjutan

ORBITINDONESIA.COM — Pagi itu, suara ombak pelan menyapu bibir pantai di berbagai pelosok Indonesia. Di sana, kehidupan nelayan berjalan seperti biasa—melaut sebelum matahari terbit, kembali dengan harapan hasil tangkapan yang cukup untuk menghidupi keluarga.

Namun di balik rutinitas itu, ada persoalan yang terus berulang: akses terbatas, infrastruktur yang belum memadai, hingga ketergantungan pada sistem ekonomi yang belum sepenuhnya berpihak.

Dari realitas itulah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencoba menghadirkan pendekatan baru melalui program Kampung Nelayan Merah Putih.

Bukan sekadar membangun deretan fasilitas di pesisir, program ini dirancang sebagai upaya menyeluruh—mengubah kampung nelayan menjadi pusat ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.

Staf Khusus Menteri KKP, Doni Ismanto Darwin, menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada pembangunan fisik.

Yang ingin dibangun, menurutnya, adalah sistem kehidupan.

Sebuah ekosistem di mana aktivitas ekonomi nelayan tidak hanya berlangsung sesaat, tetapi terus tumbuh dan memberi dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.

Minat daerah terhadap program ini pun sangat tinggi. Tercatat, sekitar 910 proposal dari berbagai wilayah di Indonesia telah diajukan untuk menjadi bagian dari Kampung Nelayan Merah Putih.

Namun tidak semua bisa langsung diwujudkan.

Setiap usulan harus melalui proses telaah mendalam—mulai dari potensi ekonomi, kesiapan masyarakat, hingga kejelasan status lahan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap kampung yang dibangun benar-benar siap untuk berkembang, bukan sekadar menjadi proyek sesaat.

Staf Ahli Menteri KKP, Trian Yunanda, menjelaskan bahwa pada tahap awal, sekitar 100 kampung akan dipilih sebagai prioritas pembangunan pada 2025. Sisanya akan dilanjutkan secara bertahap hingga mencapai target 1.100 kampung pada 2027.

Namun tantangan tetap ada.

Di sejumlah daerah, persoalan lahan menjadi kendala utama. Banyak lokasi yang diusulkan belum memiliki kejelasan status kepemilikan, sehingga tidak bisa langsung dibangun.

Meski demikian, pemerintah tetap optimistis.

Program ini tidak hanya menyasar nelayan tangkap di pesisir, tetapi juga kampung-kampung budidaya yang menjadi tulang punggung produksi perikanan nasional. Dalam pengelolaannya, koperasi akan dilibatkan sebagai motor penggerak ekonomi lokal.

Lebih dari itu, pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada pembangunan sarana dan prasarana.

KKP menyiapkan pendampingan intensif melalui ribuan penyuluh perikanan. Mereka akan hadir langsung di tengah masyarakat, membantu membangun sistem usaha dari hulu hingga hilir—mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran.

Pendekatan ini sering disebut sebagai rekayasa sosial: memastikan bahwa masyarakat tidak hanya menerima fasilitas, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengelolanya secara mandiri.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari berbagai pihak.

Dari sektor swasta, Pertamina Patra Niaga menyatakan kesiapan untuk mendukung pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), termasuk memastikan distribusi BBM bersubsidi lebih mudah diakses oleh nelayan.

Bagi nelayan di lapangan, dukungan ini bukan sekadar tambahan fasilitas.

Carno, seorang nelayan dari Pandeglang, Banten, melihat program ini sebagai harapan baru. Selain membantu akses bahan bakar, ia berharap pembangunan kampung nelayan juga dapat menjawab persoalan abrasi yang mengancam permukiman mereka.

Di tengah segala tantangan, semangat yang muncul justru sederhana: keinginan untuk hidup lebih layak.

Program Kampung Nelayan Merah Putih mencoba menjawab itu—dengan cara yang lebih menyeluruh.

Bukan hanya membangun dermaga atau gudang, tetapi membangun kemandirian. Bukan hanya menyediakan alat produksi, tetapi menciptakan sistem ekonomi yang berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, masa depan nelayan tidak hanya ditentukan oleh hasil tangkapan hari ini.

Tetapi oleh bagaimana kampung mereka dibangun—dan bagaimana mereka tumbuh bersama di dalamnya.