Denny JA: Bisakah Tetap Muslim, Tapi Juga Sepenuhnya Prancis?

BISAKAH TETAP MUSLIM, TAPI JUGA SEPENUHNYA PRANCIS?

- Renungan Setelah Merayakan Idul Adha dengan Masyarakat Indonesia di Prancis dan Presiden Prabowo

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Malam itu, Paris tampak seperti lukisan tua yang belum selesai.

Langit musim panas baru saja menelan matahari. Cahaya jingga masih tersisa tipis di atas Sungai Seine.

Menara Eiffel berdiri jauh di sana, seperti penjaga peradaban yang telah menyaksikan revolusi, perang, filsafat, dan kesepian manusia modern selama ratusan tahun.

Tetapi malam itu, yang paling saya ingat justru bukan Menara Eiffel.

Melainkan suara takbir.

Takbir itu tidak datang dari kampung kecil di Indonesia. Tidak juga dari lorong pesantren di Jawa atau Sumatera. Takbir itu datang dari jantung Eropa. Dari sebuah masjid di Paris yang dipenuhi wajah-wajah Muslim dari berbagai bangsa.

Ada perempuan berjilbab yang berbicara dalam bahasa Prancis. Ada anak kecil keturunan Aljazair yang bercanda sambil memegang roti baguette. Ada diaspora Indonesia yang membawa aroma sate dan rendang dari dapur kecil apartemen mereka.

Di tengah kota yang selama berabad-abad melahirkan Voltaire, Rousseau, dan gagasan sekularisme modern, malam itu saya menyaksikan sesuatu yang terasa mustahil: takbir bergema di bawah langit Paris, tetapi tidak menghadirkan ketakutan.

Islam tidak hilang. Tetapi juga tidak sedang menaklukkan. Ia sedang belajar hidup berdampingan.

Dan saya bertanya diam-diam dalam hati: bisakah manusia tetap setia pada imannya, tetapi juga sepenuhnya damai dan harmoni dengan peradaban yang berbeda?

-000-

Tahun 2026 memberi saya pengalaman yang sulit saya lupakan.

Saya berkesempatan salat dan merayakan Idul Adha bersama masyarakat Indonesia di Paris dan sekitarnya. Ada mahasiswa. Ada diplomat. Ada pekerja migran. Ada keluarga muda yang sudah bertahun-tahun tinggal di Prancis.

Ada pula anak-anak Indonesia yang lahir di Paris, berbicara bahasa Indonesia dengan aksen Prancis yang lembut.

Mereka hidup jauh dari tanah air. Tetapi justru karena jauh itulah, identitas terasa lebih penting.

Di Indonesia, suara azan begitu biasa hingga sering tak terdengar lagi oleh hati. Tetapi di Paris, suara takbir terasa seperti panggilan pulang.

Hari itu menjadi semakin istimewa karena di sela kunjungan kenegaraan, Presiden Prabowo Subianto juga hadir bersama masyarakat Indonesia. Salat bersama dan bersilaturahmi.

Tuan rumah Dubes Indonesia untuk Prancis, Mohamad Oemar, melayani tak hanya dengan makanan khas Indonesia, musik cinta tanah air, juga dengan keramahan dan percakapan intelektual di meja makan.

Saya melihat sesuatu yang jarang terlihat dalam ruang formal kenegaraan. Di sana, batas antara rakyat dan pemimpin terasa lebih cair.

Tak ada kemewahan istana.

Yang ada hanya sajadah, pelukan, dan wajah-wajah Indonesia yang sama-sama merindukan rumah. Saya menyadari satu hal:

diaspora bukan sekadar warga negara yang tinggal di luar negeri.

Mereka adalah penjaga ingatan bangsa.

Dan dalam perayaan Idul Adha di Paris, saya melihat Indonesia hadir bukan sebagai kekuatan politik, melainkan sebagai keluarga yang saling mencari kehangatan di negeri asing.

-000-

Namun yang paling menyentuh saya justru sebuah renungan besar yang kini sedang tumbuh di Prancis: bisakah seseorang tetap Muslim,

tetapi juga sepenuhnya Prancis?

Pertanyaan itu tampak sederhana. Tetapi sesungguhnya ia menyimpan pergulatan sejarah yang panjang.

Prancis adalah negeri yang dibangun di atas sekularisme radikal. Setelah Revolusi Prancis 1789, negara ini belajar dengan sangat keras bahwa kekuasaan agama yang terlalu dominan dapat melahirkan penindasan.

Karena itu lahirlah konsep laïcité: agama dihormati, tetapi dibatasi dari dominasi ruang publik negara.

Dalam imajinasi republik Prancis modern, warga ideal adalah warga yang identitas kewarganegaraannya lebih kuat daripada identitas agamanya.

Tetapi sejarah bergerak dengan caranya sendiri. Kolonialisme Prancis di Afrika Utara membawa jutaan Muslim masuk ke orbit budaya Prancis.

Setelah Perang Dunia II, gelombang migrasi besar dari Aljazair, Maroko, Tunisia, dan Afrika Muslim lainnya menjadikan Islam bagian permanen dari wajah Prancis.

Hari ini, Prancis memiliki salah satu komunitas Muslim terbesar di dunia Barat. Dan di situlah paradoks itu lahir.

Negeri yang dulu takut pada dominasi agama, kini hidup berdampingan dengan jutaan Muslim yang ingin tetap menjaga iman mereka.

Tahun 2020 hingga 2026 menjadi periode penting. Muncul gagasan besar tentang “Islam Prancis.”

Salah satu pusat percakapan itu berada di Grande Mosquée de Paris.

Masjid yang dibangun tahun 1926 itu awalnya merupakan penghormatan kepada tentara Muslim dari koloni Prancis yang gugur dalam Perang Dunia I.

Pada 10 Februari 2026, Grande Mosquée de Paris meluncurkan panduan setebal hampir 1.000 halaman berjudul Musulmans en Occident.

Panduan Musulmans en Occident lahir dari kegelisahan besar Prancis modern: bagaimana Muslim tetap setia pada Islam tanpa berbenturan dengan demokrasi sekuler Barat.

Hampir 1.000 halaman itu dibuat untuk membangun “Islam Prancis” yang damai, modern, dan kompatibel dengan nilai republik, setelah bertahun-tahun Prancis dilanda terorisme, ketegangan identitas, dan krisis integrasi sosial.

Pesannya jelas: Islam di Prancis tidak bisa terus hidup hanya sebagai identitas diaspora. Ia harus menemukan bentuk baru: tetap Muslim, tetapi juga sepenuhnya Perancis.

Saya merenungkan itu cukup lama.

Karena sesungguhnya ini bukan hanya soal Prancis. Ini soal masa depan dunia.

Abad ke-21 mempertemukan manusia dari berbagai iman, budaya, dan identitas dalam ruang yang sama. Tidak ada lagi masyarakat yang benar-benar homogen.

-000-

Maka pertanyaan terbesar peradaban modern bukan lagi: siapa yang paling kuat?

Tetapi: siapa yang paling mampu hidup bersama tanpa kehilangan jati diri? Paris hari ini menjadi laboratorium besar bagi pertanyaan itu.

Di satu sudut berdiri Notre-Dame de Paris yang telah menyaksikan sejarah Kristen Eropa selama berabad-abad.

Di sudut lain terdengar azan dari masjid.

Di café, orang mendiskusikan Voltaire dan kebebasan berpikir.

Di metro, anak muda Muslim membaca Al-Qur’an lewat telepon genggamnya.

Kadang mereka bertabrakan.

Kadang mereka saling curiga. Tetapi perlahan mereka juga belajar:

hidup bersama tidak harus berarti menjadi seragam.

Luka itu nyata. Pada 2020, guru Samuel Paty dipenggal karena menunjukkan karikatur Nabi di kelasnya. Tahun 2021 lahir UU separatisme yang memperketat pengawasan masjid.

Tahun 2023, abaya dilarang di sekolah. Setiap peristiwa membelah Prancis. Setiap kali, pertanyaan lama kembali: bisakah dua dunia ini benar-benar hidup bersama?

Dan mungkin justru di situlah kedewasaan peradaban diuji.

-000-

Merenungkan gagasan Tetap Muslim Tapi Sepenuhnya Prancis, saya sampai pada tiga inspirasi.

Inspirasi Pertama: Identitas Tidak Harus Menjadi Penjara

Selama berabad-abad, manusia sering dipaksa memilih identitas secara hitam-putih.

Jika Muslim, dianggap tidak Barat.

Jika Barat, dianggap meninggalkan agama. Tetapi pengalaman Muslim Prancis membuka kemungkinan baru.

Manusia ternyata bisa memiliki banyak lapisan identitas sekaligus.

Seorang perempuan bisa berjilbab dan sekaligus menjadi profesor universitas Prancis.

Seorang anak muda bisa membaca Al-Qur’an sekaligus mengagumi filsafat Prancis.

Ini pelajaran penting bagi dunia modern: identitas tidak harus menjadi tembok. Ia bisa menjadi jembatan.

Kita tidak kehilangan iman hanya karena menghargai demokrasi. Kita juga tidak kehilangan kebangsaan hanya karena memeluk agama.

Peradaban besar lahir bukan dari penyeragaman manusia, tetapi dari kemampuan mengelola perbedaan.

-000-

Inspirasi Kedua: Sekularisme Tidak Selalu Berarti Anti Agama

Banyak Muslim dunia memandang sekularisme dengan curiga. Tetapi pengalaman Prancis menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks.

Sekularisme lahir bukan semata untuk menghancurkan agama. Ia lahir dari trauma sejarah Eropa terhadap dominasi kekuasaan agama dalam politik.

Karena itu, tantangan besar abad ini adalah menemukan titik temu: bagaimana negara tetap netral,

tetapi warga tetap bebas beriman.

Muslim Prancis sedang menjalani eksperimen sejarah itu setiap hari.

Kadang berhasil. Kadang penuh konflik.

Namun dari sana kita belajar:

agama yang matang tidak membutuhkan pemaksaan negara untuk tetap hidup.

Iman yang dewasa justru mampu bertahan di tengah kebebasan.

-000-

Inspirasi Ketiga: Masa Depan Dunia adalah Koeksistensi

Abad ke-21 bukan lagi era tembok besar identitas. Migrasi, teknologi, dan globalisasi membuat manusia dari berbagai budaya hidup berdampingan.

Karena itu, kemampuan hidup bersama akan menjadi kompetensi peradaban paling penting.

Jika gagal, dunia akan tenggelam dalam politik kebencian. Tetapi jika berhasil, manusia mungkin memasuki tahap baru sejarah: peradaban global yang tetap menghormati akar budaya masing-masing.

Prancis hari ini memang penuh ketegangan. Namun justru karena itu, ia penting. Karena di sana dunia sedang diuji: bisakah manusia berbeda keyakinan, tetapi tetap berbagi kota, berbagi hukum, dan berbagi masa depan?

-000-

Salah satu buku paling penting untuk memahami persoalan ini adalah:

“Islam and the Republic: The French Case.” Penulisnya Jocelyne Cesari, 2004.

Buku ini menjelaskan bahwa persoalan Islam di Prancis bukan sekadar soal agama. Ia adalah persoalan identitas nasional.

Cesari menunjukkan bagaimana Prancis membangun model republik yang sangat menekankan universalitas warga negara.

Dalam model ini, negara tidak ingin membedakan warga berdasarkan agama atau etnis. Semua harus melebur menjadi “warga Prancis.”

Masalah muncul ketika komunitas Muslim membawa ekspresi identitas yang kuat ke ruang publik:

jilbab, makanan halal, dan simbol keagamaan lainnya.

Buku ini sangat penting karena tidak melihat konflik Islam dan Prancis secara simplistis.

Ia menunjukkan bahwa ketegangan itu lahir dari benturan dua sejarah: sejarah kolonialisme Prancis, dan sejarah pencarian identitas Muslim di Eropa.

Yang paling menggugah dari buku ini adalah kesimpulan implisitnya: integrasi tidak akan berhasil jika negara hanya menuntut Muslim berubah, tanpa masyarakat mayoritas juga belajar menerima keberagaman baru.

-000-

Buku kedua yang sangat relevan adalah: “Can Islam Be French? Pluralism and Pragmatism in a Secularist State,” oleh John R. Bowen, 2010.

Bowen melakukan riset lapangan mendalam terhadap kehidupan Muslim di Prancis: imam, mahasiswa, aktivis, hingga keluarga imigran generasi kedua.

Ia menemukan bahwa mayoritas Muslim Prancis sesungguhnya tidak ingin mendirikan negara Islam.

Mereka hanya ingin hidup normal: bekerja, berkeluarga, beribadah, dan diakui sebagai bagian sah dari bangsa Prancis.

Namun mereka terus menghadapi pertanyaan yang melelahkan: “Apakah Anda Muslim dulu atau Prancis dulu?”

Bowen menunjukkan bahwa pertanyaan itu sendiri sering salah arah. Karena identitas manusia tidak selalu tunggal. Seseorang bisa mencintai republik Prancis sekaligus mencintai Islam.

Buku ini penting karena menghadirkan wajah Muslim Prancis yang nyata:

bukan karikatur media, bukan ekstremis, tetapi manusia biasa yang sedang mencari rumah psikologis di antara dua dunia.

-000-

Akhirnya saya memahami sesuatu di Paris pada Idul Adha 2026 itu.

Peradaban tidak tumbuh dari kemenangan satu identitas atas identitas lain.

Ia tumbuh ketika manusia belajar hidup bersama tanpa saling meniadakan. Islam di Prancis mungkin belum selesai menemukan bentuknya.

Prancis pun belum selesai berdamai dengan keberagaman barunya.

Tetapi justru dalam ketidaksempurnaan itulah harapan lahir. Selama manusia masih mau berdialog, masih mau mendengar,

dan masih mau berbagi ruang bersama, masa depan belum benar-benar gelap.

Tetapi jujur saja: harmoni itu belum tiba. Ia hanya janji yang terus diuji setiap hari. Setiap takbir, setiap lonceng, setiap suara azan, adalah doa yang belum terjawab.

Indonesia, melalui spirit Pancasila, sejatinya memiliki modal batin untuk menjadi contoh, walau juga tak sempurna. Ia membuktikan bahwa iman tak perlu menyingkirkan kewarganegaraan, dan identitas nasional justru semakin kokoh saat perbedaan dirayakan dengan cinta.

Dan mungkin, suatu hari nanti, yang menyelamatkan dunia bukan kemenangan satu agama atas agama lain, melainkan kemampuan manusia mendengar takbir, lonceng gereja, dan suara kemanusiaan, dalam langit yang sama.*

Paris, 27 Mei 2026

REFERENSI

1. Islam and the Republic: The French Case

Jocelyne Cesari, Palgrave Macmillan, 2004

2. Can Islam Be French? Pluralism and Pragmatism in a Secularist State, John R. Bowen, Princeton University Press, 2010

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World

https://www.facebook.com/share/1EMvv1Jh37/?mibextid=wwXIfr ***