Abdul Aziz: Kurban, Kontroversi, dan Suara Hati Domba

Oleh Dr. Abdul Aziz, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta

ORBITINDONESIA.COM - Setiap tahun, pada pagi hari raya Idul Adha, pisau-pisau diasah di seluruh penjuru dunia Muslim. Di Afrika, Asia, Timur Tengah, hingga gang-gang sempit Jakarta — suara takbir berpadu dengan suara yang lain: gemericik air, langkah kaki cepat, dan hewan-hewan yang tak tahu bahwa pagi ini adalah pagi terakhir mereka.

Sekitar satu miliar umat Islam merayakan hari ini. Jutaan kambing, sapi, domba, dan unta akan disembelih dalam rentang tiga hari. Ini adalah ritual terbesar pembunuhan hewan terorganisir di muka bumi — dilakukan bukan atas nama industri makanan, melainkan atas nama Tuhan.

Di sinilah pertanyaan besar muncul: Apakah “pembantaian hewan” ini masih masuk akal?

Ibrahim di Batas Cinta

Untuk memahami Idul Adha, kita harus kembali ke padang pasir Arabia ribuan tahun silam — ke satu momen yang tersimpan bersama dalam tiga kitab suci agama Ibrahim: Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Seorang bapak tua bernama Ibrahim menerima perintah dari langit untuk menyembelih putranya sendiri. Dalam Islam, putra itu adalah Ismail. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Ishak.

"Maka tatkala anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?' Ia menjawab: 'Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. As-Saffat [37]: 102)

Yang luar biasa dari kisah ini bukan semata perintahnya — tapi bagaimana Ismail menyambut perintah itu. Bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kerelaan. Ia bahkan yang mendorong ayahnya untuk melaksanakan perintah Tuhan.

Ini bukan kisah tentang kekerasan. Ini kisah tentang cinta yang melampaui naluri mempertahankan diri, tentang penyerahan diri yang paling total kepada Yang Maha Ada.

Namun tepat saat pisau hendak menyentuh leher Ismail, malaikat turun. Tuhan menghentikan segalanya. Seekor domba dikirimkan dari langit sebagai tebusan. "Sungguh ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar," demikian Al-Qur'an mencatat (QS. As-Saffat [37]: 106-107).

Pesan teologisnya dramatis: Tuhan tidak menginginkan darah manusia. Tuhan tidak haus nyawa anak-anak Ibrahim. Yang diinginkan hanyalah hati yang tunduk — dan domba itu menjadi simbol dari penyerahan tersebut. Sejak saat itu, umat Ibrahim menandai momen tersebut setiap tahun. Inilah Idul Adha. Inilah asal kurban.

Suara Penghujat

Tapi abad ke-21 punya pertanyaannya sendiri. Setiap tahun menjelang Idul Adha, media sosial berubah menjadi medan perang. Para aktivis hak-hak binatang mengunggah foto hewan yang ketakutan, video penyembelihan yang tak layak, dan angka-angka yang mengagetkan.

Jutaan hewan dipotong dalam tiga hari, miliaran liter darah mengalir tak terbendung, dan ladang-ladang berubah menjadi rumah jagal yang menyeramkan. Mereka bertanya dengan nada yang semakin keras: mengapa Tuhan yang katanya Maha Pengasih memerlukan darah makhluk tidak bersalah?

Pertanyaan itu tidak mudah diabaikan. Peter Singer, filsuf utilitarian Australia yang memopulerkan gerakan hak-hak binatang, berpendapat bahwa kapasitas untuk merasakan sakit adalah dasar dari pertimbangan moral — bukan akal, bukan bahasa, bukan pula jiwa.

Seekor kambing yang ketakutan, yang berdarah, yang menggelepar merasakan rasa sakit yang tak terkira -- dalam kerangka Singer adalah persoalan moral manusia. Moralitas itu tak bisa direduksi dengan doa dan takbir.

Para penggugat juga membawa argumen yang lebih modern: kita hidup di zaman di mana donasi uang bisa langsung menjangkau anak kelaparan di Sudan atau Yaman tanpa perantara hewan apa pun. Mengapa tidak mengalihkan dana kurban langsung ke rekening badan pangan dunia? Mengapa harus melalui ritual darah yang tak bermoral seperti tradisi zaman batu?

Kegelisahan itu nyata dan jujur. Farid Mustofa, dosen Filsafat Universitas Gadjah Mada, mengabadikannya dalam sebuah cerpen yang mengguncang: "Domba-Domba Menatap Langit." (Cerpen bisa dibaca di https://hatipena.com/cerpen/domba-domba-yang-menatap-langit/)

Dalam cerpen itu, seorang tokoh duduk di depan kandang domba malam sebelum kurban, memeluk lututnya, menangis, dan bertanya kepada domba-domba yang besok akan disembelih. Pertanyaannya bukan pertanyaan orang kafir — justru pertanyaan orang beriman yang jujur, yang tidak mau berpura-pura paham ketika sesungguhnya ia terguncang.

Ketika Domba Menjawab

Yang membuat cerpen Farid Mustofa menjadi karya yang berbobot secara filosofis adalah pilihan naratifnya yang berani: ia membiarkan domba itu menjawab. Bukan dengan mulut, bukan dengan kata-kata yang terdengar telinga — melainkan melalui semacam bisikan yang mengalir dari tatapan mata ke relung jiwa. Sebuah device sastra sufistik yang mengingatkan pada tradisi fabel mistik Persia dari Rumi dan Attar.

"Kami bukan korban, kami adalah kurban. Tuhan sendiri berkata, 'Bukan daging-daging hewan itu dan bukan darahnya yang sampai kepada-Ku, melainkan ketakwaanmu. (QS. Al-Hajj [22]: 37)

Perbedaan antara "korban" dan "kurban" dalam bahasa Indonesia ternyata bukan sekadar permainan kata. "Korban" mengandung nuansa pasivitas — sesuatu yang jatuh, yang kalah, yang tak berdaya. "Kurban" berasal dari bahasa Arab qurb — kedekatan, keintiman, keterhubungan. Hewan kurban dalam kerangka teologis Islam bukanlah makhluk yang dikalahkan, melainkan makhluk yang dimuliakan: ia menjadi jembatan antara niat manusia dan hadirat ilahi.

Cerpen Farid Mustofa mengangkat dimensi ini dengan cara yang tak biasa dalam literatur Islam Indonesia. Domba dalam cerpen itu tidak takut, tidak meratap, tidak merasa disia-siakan. Ia hadir dengan ketenangan yang melampaui ketenangan manusia yang menggenggam pisau. Ada ironi yang dalam dan sengaja di sini: manusia yang menangis, domba yang tenang. Manusia yang bertanya-tanya tentang makna, domba yang sudah tahu jawabannya.

Tradisi Agama Ibrahim

Kisah Ibrahim dan penyembelihan putranya hadir dalam tiga tradisi besar yang masing-masing memberi penekanan berbeda. Dalam tradisi Yahudi, kisah ini dikenal sebagai Akedah — pengikatan. Ishak diikat di atas altar batu Moriah (yang kelak menjadi lokasi Bait Suci Yerusalem). Tradisi Yahudi menekankan ujian kesetiaan Ibrahim kepada perjanjian dengan Yahweh, dan ketaatan Ishak sebagai proto-martir.

Dalam tradisi Kristen, kisah Akedah dibaca sebagai prefigurasi — bayangan awal dari kisah yang lebih besar: Tuhan Bapa yang "mengorbankan" Putra-Nya, Yesus, di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Darah Ishak yang tak tertumpah menjadi bayangan dari darah Yesus yang tertumpah. Kurban digantikan bukan oleh domba, melainkan oleh Anak Domba Allah.

Dalam Islam, kisah yang sama hadir dengan warna berbeda. Ismail — bukan Ishak — yang diuji. Dan tidak ada teologi penebusan di sini. Pengorbanan Ibrahim dan Ismail bukan untuk menebus dosa, melainkan sebagai bukti cinta dan penyerahan. Tuhan tidak perlu darah siapapun untuk mengampuni. Yang diinginkan adalah taqwa — kesadaran penuh akan hadirat Tuhan yang menggerakkan setiap tindakan, termasuk pisau yang diasah dengan tangan gemetar tapi hati yang kokoh.

"Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. (QS. Al-Hajj [22]: 37)

Ayat ini adalah argumen teologis paling kuat terhadap tuduhan bahwa Islam menyembah Tuhan yang haus darah. Al-Qur'an secara eksplisit memutus kaitan antara nilai ritual dengan kuantitas darah yang tertumpah. Daging boleh dibagikan, darah boleh mengalir — tapi Tuhan tidak menghitungnya. Yang dihitung adalah niat di balik semua itu.

Filosofi Qurb

Sufisme, tradisi mistik Islam, menawarkan pembacaan yang paling radikal dan paling puitis tentang kurban. Bagi para sufi, ritual penyembelihan hewan hanyalah lapisan terluar dari sebuah ajaran yang jauh lebih dalam. Setiap detail ritual adalah metafor dari perjalanan batin.

Dalam kerangka sufi, hewan yang disembelih adalah representasi dari ego — nafs — yang harus "disembelih" agar jiwa bisa mendekati Tuhan. Kambing yang keras kepala, domba yang merumput tanpa henti, sapi yang kuat dan keras — semua ini adalah bayangan dari sifat-sifat dalam diri manusia yang menghalangi qurb, kedekatan dengan Yang Ilahi. Pisau yang tajam adalah kesadaran, dan yang disembelih bukanlah hewan di luar sana, melainkan sifat-sifat rendah di dalam diri.

Jalaluddin Rumi, sang penyair sufi terbesar, menulis tentang kurban bukan hanya sebagai ritual tahunan tapi sebagai kondisi jiwa yang terus-menerus. Dalam Masnawi-nya, ia berbicara tentang kematian ego sebagai prasyarat kebangkitan spiritual: "Mati sebelum mati, agar kau tidak mati ketika mati."

Setiap momen ketika seorang manusia melepaskan keinginannya demi kehendak yang lebih tinggi adalah sebuah kurban — dan kurban Idul Adha adalah perayaan dari semua momen tersebut, dikristalisasi dalam satu ritual yang terlihat dan terasa.

Farid Mustofa dalam cerpennya menulis: "Tangisanmu gema cinta yang hidup. Sebab cinta sejati tidak kaku, tidak tega, tidak diam. Tuhan lebih dekat kepada hati yang lembut dibanding kepada dada yang keras. Air matamu bukan penghalang ibadah, tapi pengingat bahwa ibadah yang tak disertai cinta hanyalah kebiasaan kosong."

Ini adalah momen paling sufistik dalam cerpen Farid Mustofa: air mata si tokoh bukan kelemahan iman, melainkan justru tanda bahwa imannya hidup. Farid menempatkan kelembutan hati — kemampuan untuk merasa sedih melihat makhluk lain menderita meski dalam konteks ritual yang diyakini suci — sebagai bagian dari iman yang otentik. Ini bukan kesimpulan yang mudah. Tapi jujur.

Etika Penyembelihan

Para penggugat kurban kadang lupa — atau tidak tahu — bahwa Islam memiliki sistem etika penyembelihan yang jauh lebih ketat daripada industri daging modern. Hadis Nabi yang dikutip dalam cerpen Farid Mustofa bukan retorika: "Saat kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik. Tajamkan pisaumu, dan tenangkan hewanmu." (HR. Muslim)

Dalam fikih Islam klasik, penyembelihan yang sah memerlukan: pisau yang sangat tajam agar kematian secepat mungkin, hewan tidak boleh melihat hewan lain disembelih, hewan harus diberi minum dan ditenangkan sebelum proses, dan niat yang disertai kesadaran penuh bahwa ini adalah amanah, bukan kekuasaan. Konsep rahmah — kasih sayang — berlaku bahkan dalam momen paling keras sekalipun.

Bandingkan dengan kondisi di rumah jagal industri modern — di mana hewan disembelih dalam skala masif tanpa perhatian individual, dengan kondisi kandang yang jauh dari kata layak, demi memenuhi kebutuhan daging sepanjang tahun. Para aktivis hak binatang yang menyerang kurban Idul Adha jarang dengan keras yang sama menyerang industri daging yang beroperasi 365 hari setahun. Ada ironi yang seharusnya tidak luput dari perhatian kita.

Keadilan Sosial

Dimensi yang paling sering terlupakan dari kurban adalah dimensi redistributif-nya. Dalam fikih kurban, daging dibagi tiga: sepertiga untuk yang berkurban, sepertiga untuk kerabat, dan sepertiga untuk fakir miskin. Di banyak komunitas Muslim, Idul Adha adalah satu-satunya momen dalam setahun di mana keluarga-keluarga termiskin bisa menikmati daging.

Domba dalam cerpen, Farid Mustofa berkata: "Daging kami akan sampai ke anak yatim. Ibu-ibu miskin akan memasaknya sambil berdoa untukmu. Mereka akan kenyang bukan hanya oleh daging kami, tapi oleh cinta, doa dan niatmu."

Ini bukan sentimentalisme. Ini menggambarkan fungsi sosial yang nyata dari institusi kurban — sebuah mekanisme redistribusi protein dan kesetaraan yang telah berjalan jauh sebelum konsep welfare state lahir.

Lembaga-lembaga amil zakat modern bahkan telah mengembangkan sistem kurban jarak jauh: seseorang di Jakarta bisa berkurban untuk keluarga di Somalia, Yaman, atau Palestina, di mana kebutuhan daging jauh lebih mendesak.

Ini adalah kurban yang melampaui geografi, yang menjawab tantangan para penggugat bahwa kurban bisa direduksi menjadi sekadar transfer uang — karena kurban modern sudah jauh melampaui sekadar ritual lokal.

Yang Tersisa dari Tatapan Domba

Kita kembali ke cerpen Farid Mustofa — ke kandang yang lembab, ke malam sebelum kurban, ke tokoh yang menangis memeluk lutut di hadapan domba-domba yang tenang. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam gambar itu: seorang manusia yang percaya kepada Tuhannya tapi tidak sanggup mematikan rasa kasihannya kepada ciptaan Tuhan.

Mungkin memang itulah inti dari seluruh cerpen ini — bukan untuk membuktikan bahwa kurban itu benar atau salah, melainkan untuk menunjukkan bahwa iman yang otentik selalu bergulat dengan pertanyaan.

Ibrahim sendiri pasti bergulat. Ismail yang menyetujui disembelih pasti bergulat. Yang membedakan mereka dari yang lain bukan ketiadaan pergulatan, melainkan bahwa mereka tetap melangkah meski gemetar.

Farid Mustofa, sang dosen filsafat, menulis cerpen ini bukan sebagai pembelaan buta atas tradisi. Ia menulis sebagai filsuf yang tahu bahwa pertanyaan yang tidak diajukan adalah iman yang rapuh. Bahwa agama yang tidak mau diperiksa adalah agama yang takut pada cahaya.

Dan bahwa air mata di depan kandang — air mata yang lahir dari rasa kasih, dari keadaban, dari ketidaksanggupan berpura-pura bahwa kematian makhluk lain adalah perkara remeh — justru merupakan tanda bahwa ibadah masih berdenyut dalam nadi yang hangat, bukan mengeras menjadi kebiasaan kosong.

"Kalau begitu, bimbing aku. Ajari aku bagaimana mencintai Tuhan tanpa kehilangan kasih pada ciptaan-Nya." Kata sang tokoh dalam cerpen itu.

Pernyataan yang diucapkan seorang manusia kepada domba dalam fiksi Farid Mustofa, mungkin adalah pernyataan terdalam yang bisa diucapkan manusia kepada agamanya. Bagaimana mencintai Tuhan tanpa kehilangan kasih pada ciptaan-Nya? Bagaimana taat tanpa menjadi mesin? Bagaimana ritual bisa tetap hidup dan tidak menjadi fosil?

Dan domba-domba itu tidak menjawab dengan kata-kata. Mereka hanya menatap langit. Seolah tahu arah pulang. Seolah dalam ketenangan mereka tersimpan jawaban yang jauh melampaui apa yang bisa dirumuskan filsafat manapun — bahwa makna sebuah pengorbanan tidak pernah terletak pada darah yang tertumpah, melainkan pada hati yang hadir penuh dalam setiap momen perpisahan yang suci.

Setiap Idul Adha, jutaan pisau diasah. Di antara suara takbir yang bergema, ada pertanyaan yang seharusnya terus diasah: sudahkah kita benar-benar tahu apa yang sedang kita lakukan? Sudahkah kurban kita lebih dari sekadar ritual — apakah ia telah menjadi jembatan menuju qurb, kedekatan yang sesungguhnya?

Domba-domba itu menatap langit. Dan langit, seperti biasa, diam — tapi bukan kosong.***