Ali Samudra: Formalisme Agama dan Kemunduran Umat Islam
Oleh Ali Samudra
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan Taurat kepada mereka kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.” (QS. Al-Jumu‘ah: 5)
ORBITINDONESIA.COM - Di antara ayat Al-Qur’an yang paling tajam mengkritik manusia beragama adalah Surat Al-Jumu‘ah ayat 5. Ayat ini menghadirkan metafora yang tidak biasa: manusia yang membawa kitab suci tetapi gagal menghayatinya disamakan dengan seekor keledai yang memikul buku-buku tebal.
Bahasanya keras, bahkan terasa tidak nyaman. Namun justru di situlah kekuatan Al-Qur’an: ia tidak selalu menenangkan, kadang ia mengguncang.
Ayat ini sering dipahami sebagai kritik terhadap komunitas masa lalu. Padahal, jika dibaca secara jujur, ia juga merupakan cermin bagi umat beragama di setiap zaman -termasuk umat Islam hari ini.
Pertanyaannya mengapa masyarakat yang semakin religius secara simbolik tidak otomatis menjadi masyarakat yang semakin maju secara moral dan intelektual?
Paradoks Religiusitas Modern
Dalam beberapa dekade terakhir, ekspresi keagamaan di dunia Islam meningkat secara signifikan. Masjid bertambah, simbol religius semakin tampak di ruang publik, kegiatan keagamaan semakin ramai, dan identitas keislaman semakin kuat.
Namun pada saat yang sama, banyak negara mayoritas Muslim masih menghadapi persoalan serius: korupsi sistemik, rendahnya kualitas pendidikan riset, konflik sosial berkepanjangan, dan ketertinggalan teknologi. Paradoks ini jarang dibahas secara jujur.
Keledai Membawa Kitab: Kritik terhadap Formalisme
Metafora “keledai membawa kitab” bukan kritik terhadap agama, melainkan kritik terhadap religiusitas yang dangkal.
Keledai mampu membawa beban berat, tetapi tidak memahami nilai dari apa yang dipikulnya. Analogi ini menggambarkan kondisi ketika wahyu hadir secara fisik, tetapi tidak hadir dalam kesadaran.
Di sinilah formalisme agama ketika:
· ritual dipertahankan tanpa refleksi,
· simbol lebih penting daripada etika,
· hafalan mengalahkan pemahaman,
· identitas menggantikan transformasi moral.
Agama tetap dijalankan, tetapi tidak lagi mengubah manusia.
Di sinilah letak ironi terbesar kehidupan beragama: aktivitas meningkat, tetapi kedalaman menurun.
Dari Kesadaran Menuju Kebiasaan
Para pemikir Islam klasik telah lama mengingatkan bahaya ini. Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa kemerosotan spiritual sering terjadi bukan karena manusia meninggalkan agama, tetapi karena agama berubah menjadi kebiasaan sosial.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahaya yang sama: ilmu agama dapat menjadi kosong ketika ia hanya berhenti pada lisan dan tidak menembus hati. Pada titik itu, agama berubah menjadi simbol sosial, bukan jalan penyucian jiwa.
Agama tetap hidup secara institusi, tetapi mati secara makna.
Fenomena ini tidak asing di zaman modern. Agama sering hadir sebagai identitas politik, simbol sosial, atau bahkan komoditas budaya. Yang berkurang justru pengalaman batin yang menjadi inti ajaran itu sendiri.
Mengapa Formalisme Mudah Terjadi?
Jawabannya tidak hanya teologis, tetapi juga psikologis.
Manusia adalah makhluk kebiasaan. Tindakan yang diulang terus-menerus cenderung menjadi otomatis. Ritual yang awalnya penuh kesadaran perlahan berubah menjadi rutinitas mekanis.
Gerakan tetap dilakukan. Bacaan tetap dilafalkan. Namun kesadaran tidak lagi hadir.
Tanpa refleksi yang terus diperbarui, ibadah berubah dari pengalaman spiritual menjadi aktivitas administratif.
Al-Qur’an hadir bukan sekadar untuk mengatur tindakan manusia, tetapi untuk menjaga kesadaran manusia tetap hidup.
Ketika Spiritualitas Melemah, Peradaban Mengikuti
Sejarah Islam menunjukkan bahwa spiritualitas dan kemajuan intelektual pernah berjalan beriringan.
Tauhid melahirkan keberanian berpikir. Keyakinan akan keteraturan ciptaan mendorong lahirnya sains. Masjid menjadi pusat diskusi ilmu, filsafat, dan penelitian.
Namun dalam fase sejarah tertentu, dinamika ini melemah. Tradisi kritik digantikan imitasi. Pertanyaan dianggap ancaman. Kreativitas menyusut.
Ibn Khaldun menyebut fenomena ini sebagai melemahnya energi moral kolektif - kondisi ketika institusi masih berdiri tetapi kehilangan daya hidupnya.
Peradaban tidak runtuh karena kekurangan ritual, melainkan karena kehilangan makna yang memberi arah pada ritual tersebut.
Kesalahan Membaca Kemunduran Umat
Salah satu kesalahan besar dalam diskursus umat adalah menganggap bahwa solusi kemunduran cukup dengan meningkatkan simbol religiusitas.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa kemajuan Islam klasik lahir bukan dari kuantitas ritual, tetapi dari kualitas kesadaran.
Religiusitas yang hidup melahirkan manusia yang jujur, ingin tahu, dan berani berpikir. Sebaliknya, religiusitas formalistik cenderung sebagai legitimasi status quo, defensif terhadap perubahan dan curiga terhadap pemikiran baru.
Kritik yang Harus Dimulai dari Dalam
Al-Qur’an tidak pernah memulai perubahan sosial dengan menyalahkan pihak luar. Ia selalu memulai dari transformasi internal manusia.
“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka.” (QS. Ar-Rad:11)
Ayat ini bukan sekadar pesan moral, tetapi hukum sejarah.
Kemunduran bukan hanya persoalan struktur ekonomi atau politik; ia adalah krisis kesadaran kolektif.
Ketika agama tidak lagi melahirkan integritas moral dan keberanian intelektual, masyarakat kehilangan fondasi peradabannya.
Penutup: Sholat Khusyu Melampaui Formalisme Menuju Kesadaran
Di tengah bahaya formalisme agama, Islam sesungguhnya telah menyediakan mekanisme pembaruan kesadaran yang paling mendasar: sholat khusyu (QS. Al-Mu'minun: 1-2) Sholat tidak hanya dirancang sebagai kewajiban ritual, tetapi sebagai proses pendidikan batin yang berulang setiap hari.
Ketika sholat dipahami melalui apa yang dapat disebut sebagai anatomi sholat khusyu: kesadaran niat, kehadiran hati, kerendahan diri, dan dialog eksistensial dengan Allah — ibadah tidak lagi menjadi gerakan mekanis, melainkan latihan kesadaran yang terus memperbarui manusia dari dalam.
Dalam anatomi sholat khusyu, manusia belajar menempatkan dirinya secara benar di hadapan realitas. Ia berdiri bukan sebagai pusat dunia, tetapi sebagai hamba yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Pengalaman ini secara perlahan meruntuhkan kesombongan spiritual, identitas kosong, dan ilusi moralitas semu yang sering lahir dari religiusitas formalistik.
Orang yang benar-benar khusyu tidak hanya merendahkan diri di hadapan Allah, tetapi juga menjadi rendah hati di hadapan manusia, karena ia menyadari keterbatasan dirinya sendiri.
Lebih dari itu, sholat khusyu melahirkan manusia pembelajar. Kesadaran akan kelemahan diri membuka ruang bagi pencarian ilmu, refleksi, dan koreksi diri yang terus menerus.
Di sinilah ibadah kembali menjadi sumber dinamika peradaban: bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi membentuk manusia yang sadar, ingin memahami, dan terus bertumbuh. Ketika sholat kehilangan kekhusyukan, agama berisiko menjadi formalitas; tetapi ketika kekhusyukan hidup, ritual kembali menjadi energi transformasi pribadi dan sosial.***
Pondok Kelapa, 3 April 2026
(Pengantar Diaskusi Ba'da Sholat Jumat, 3 April 2026 Masjid Baitul Muhajirin - Pondok Kelapa - Jakarta Timur)
*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin. ***