Cerpen Syaefudin Simon: Anakku Indra

Cerpen Syaefudin Simon

ORBITINDONESIA.COM - Seminar itu berlangsung lewat layar. Ratusan kotak kecil wajah manusia berjejer di monitor, sebagian menyimak, sebagian mencatat, sebagian hanya memandang dengan tatapan setengah hadir. 

Biasa. Sudah dua tahun lebih aku terbiasa berbicara dengan kamera, dengan keheningan yang sesekali dipecah notifikasi. 

Ya. Aku "seminaris zooming." Jonminofri dan Amel dari Satupena Jakarta yang sering mengundangku untuk mengisi  seminar zooming. 

Malam itu tema seminar zoomingnya reinkarnasi. Sebuah topik yang selalu membuatku bersemangat, karena ia berada di persimpangan antara spiritualitas, filsafat, dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh sains mana pun.

"Kalian pasti pernah bertanya," kataku di seminar, memulai sesi -- "mengapa ada anak yang karakternya sama sekali tidak mirip ayah atau ibunya secara biologis. Ada anak yang tumbuh menjadi penyair ulung, padahal kedua orang tuanya buta huruf. Ada anak yang jiwanya lembut seperti embun, padahal ia lahir dari keluarga yang keras dan dingin."

Aku berhenti sejenak. Meneguk air agar tenggorokanku basah. Lanjut. 

"Dalam tradisi pewayangan Jawa, kita mengenal konsep ini tanpa menyebutnya reinkarnasi secara eksplisit. Ingat Arjuna? Ia lahir dari rahim Kunti, seorang perempuan bangsawan. Namun karakternya — kehalusannya, keberanian batinnya, sifatnya yang romantis namun setia pada dharma — itu bukan dari Pandu, ayah biologisnya. Itu adalah pantulan jiwa Dewa Indra, yang bersemayam dalam hati Kunti saat ia mengandung. Karena saat itu, jiwa dan hati Kunti sedang tertuju kepada Dewa Indra."

Beberapa kotak wajah di layar tampak mengangguk. 

"Begitu pula Adipati Karna. Lahir dari Kunti yang masih remaja, dibuang ke sungai karena malu. Tapi Karna tumbuh menjadi ksatria paling mulia dan paling tragis dalam Mahabharata. Keberaniannya, kedermawanannya, kesetiaannya yang melampaui logika — itu adalah cerminan jiwa Dewa Surya, yang hadir dalam hati Kunti saat ia mengucap mantra. Bukan DNA. Tapi jiwa."

Aku melanjutkan bicara. 

"Maka percayalah — karakter seorang anak tidak semata-mata ditentukan oleh DNA orang tuanya. Ia dibentuk oleh jiwa dan hati sang ibu saat mengandung. Saat ke mana arah cinta sang ibu mengalir. Saat siapa yang paling sering hadir dalam ruang hatinya yang paling dalam. Jangan kaget bila anakmu karakternya mirip orang yang kau cintai, meski suamimu orang lain."

Sejenak setelah kalimat-kalimat itu meluncur dari mulutku, aku  tidak tahu mengapa ada rasa berat yang tiba-tiba hinggap di dadaku. Aneh. 

Seminar selesai pukul sembilan malam. Dua jam aku bicara tentang reinkarnasi. Aku teringat buku karya Lia Aminudin  yang menyebut reinkarnasi dengan istilah regulasi ruh. Reinkarnasi sulit menjelaskan fenomena Arjuna dan Adipati Karna. Tapi regulasi ruh mampu menjelaskannya dengan elegan. 

Aku akan menutup laptop ketika layar ponselku berkedip. Ada japri di WhatsApp dari nomor yang sudah lama tidak muncul, tapi tidak pernah benar-benar aku hapus dari kontak. 

Japri dari  Dewi. Dewi Rina Anggraini. Mantan pacarku di Tokyo University Jepang yang masih sering japri denganku di ponsel. Dewi kini menjadi dosen kimia radiasi di universitas terbaik  Negeri Sakura itu. 

"Mas, bisa aku bicara? Soal yang tadi kamu sampaikan di seminar?" -- tulis Dewi. 

Aku kaget bukan main. Lama kutatap layar ponsel itu. Nama itu. Nama yang dulu pernah kutulis di halaman catatan harianku dengan tinta merah jambu yang kulingkari dengan tiga helai bunga mawar merah. 

"Bisa Dewi," balasku.

Beberapa menit kemudian, hapeku berdering. Dewi  berbicara. Suaranya masih sama. Bening dan indah. Seperti suara  penyanyi Rossa. 

Tapi kali ini Dewi bicara agak hati-hati. Sepertinya ia mempertimbangkan setiap kata sebelum disampaikan kepadaku. 

"Mas... aku mau bicara sesuatu tentang seminar tadi."

"Ya, Dewi. Monggo." 

Hening sebentar. Lalu ia bercerita.

Dewi bicara tentang Indra, anaknya yang kini berusia 11 tahun. Tentang betapa anak itu tumbuh menjadi sosok yang aneh di antara keluarganya — cerewet dan penuh cerita, padahal ayahnya pendiam seperti batu karang. Suka menulis, suka mendongeng, suka merangkai kata-kata menjadi sesuatu yang indah, padahal tidak ada seorang pun di keluarga suaminya yang seperti itu.

"Guru kelasnya di Tokyo bilang, Indra punya bakat menulis yang luar biasa untuk anak seusianya," cerita Dewi. 

"Kemarin dia menulis puisi untuk aku, ibunya. Aku mbrebes mili bacanya, Mas. Usia 11 tahun. Nulis puisi dengan bahasa yang sangat indah. Aku tidak tahu bakat  itu dari mana."

Aku tahu -- batinku. 

Tapi aku diam dulu. 

"Suamimu bagaimana, Dewi?"

"Dia baik. Bertanggung jawab. Tapi ya, dia tidak banyak omong. Tidak suka baca, tidak suka nulis. Kerjanya di lapangan, fisik. Dan Indra... Indra seperti berasal dari dunia lain." 

Aku menarik nafas dalam-dalam. 

"Dewi, boleh aku bilang sesuatu?"

"Boleh, Mas. Bilanglah."

"Indra itu anakku."

Sunyi. Lama sekali. Aku hampir mengira sambungan telepon terputus, kalau bukan karena sayup-sayup kudengar nafas Dewi yang tidak beraturan di ujung sana. 

"Mas... kita tidak pernah menikah. Kita tidak pernah... kita tidak pernah berhubungan badan layaknya suami istri."

"Betul, Dewi, " kataku.

 "Kita tidak pernah berhubungan badan. Tidak pernah. Tapi hati kita, Dewi — hati dan jiwa kita pernah menjadi satu. Dan kau menikah dalam keadaan masih mencintaiku. Kau menikah karena desakan orang tua. Bukan karena pilihan hatimu."

Ia diam. Ia tidak menyangkal.

Aku melanjutkan dengan suara yang kujaga agar tetap tenang, meski di dalam dadaku ada badai yang berputar.

"Aku ingin tanya sesuatu, Dewi. Dan aku mohon kau jujur."

"Apa, Mas?"

"Malam pertamamu. Saat kau bersama suamimu untuk pertama kali... siapa yang hadir dalam hatimu?"

Diam. Suasana hening. Kali ini lebih panjang. Aku lama menunggu jawaban Dewi dengan gemetar. 

Ketika jawaban itu akhirnya datang, suara Dewi terdengar penuh getaran. 

"Kamu, Mas. Yang ada di pikiranku hanya kamu. Waktu... waktu aku mencapai puncak dengan suamiku di malam pertama,  yang kurasakan adalah kamu. Yang kurasakan adalah tanganmu. Pelukanmu. Jarimu. Kecupanmu."

Aku menutup mata. Kaget, meski sudah kuduga. 

"Nah, Dewi. Itu jawaban yang jujur."

"Mas..."

"Indra dibentuk bukan oleh tangan dan pelukan suamimu Dewi. Ia dibentuk oleh jiwa yang mengisi hatimu malam itu. Dan malam-malam berikutnya, selama kau mengandung dia, ke mana hatimu mengalir? Siapa yang paling sering hadir di dalam ruang yang paling sunyi dalam dirimu?"

Terdengar di ponsel, Dewi menangis. Isak tangisnya berkali-kali ia tahan.

"Jadi benar kata seminar tadi..." ucapnya dengan suara gemetar..

"Ya," kataku. 

"Indra adalah anakku, Dewi. Bukan secara hukum. Bukan secara biologis. Tapi secara jiwa — ia membawa hatiku. Ia membawa semua yang pernah ada antara kita, yang tidak sempat kita wujudkan, yang tidak sempat kita hidupi bersama — semua itu mengalir ke dalam dirinya."

Lama kami terdiam. Batinku berkata, 
tidak ada yang perlu diputuskan. Tidak ada yang perlu diubah. Dewi tetap istri suaminya. Indra tetap anak lelaki yang memanggil suami  Dewi dengan sebutan ayah.  Aku? Aku tetap sendiri, dengan catatan harian lama yang masih menyimpan namanya. Dewi Rina Anggraini. 

Malam itu, sebelum menutup telepon, Dewi mengucapkan satu kalimat yang kuingat sampai sekarang.

"Mas, nanti kalau Indra sudah dewasa dan dia tanya kenapa dia suka menulis fiksi dan puisi... aku akan bilang — karena ada seseorang yang dulu sangat mencintai ibunya. Dan cinta itu tidak kemana-mana. Ia hanya berpindah tempat tinggal. Tempat jasad yang menampungnya. Dan jasad yang menampungnya adalah kau, Indra."

Mendengar kata-kata Dewi, aku  tersenyum sendiri. Bahagia. Betul dugaanku. Dewi tak pernah memutus tali cinta denganku. Seperti ditulis dalam surat terakhirnya sebelum ia menikah: I love you forever. 

"Sampaikan salam padanya, Dewi. Dari seseorang yang tidak pernah bersamamu, tapi tidak pernah benar-benar pergi."

Pukul 12 malam. Dewi pamit. Good night. Ujarnya dengan suara terisak. 

Aku duduk lama di depan laptop yang sudah gelap layarnya. Di luar, langit malam terasa lebih cerah dari biasanya. Dan di suatu tempat, di sebuah kota yang  jauh dari Bekasi, tampak dalam bayanganku seorang anak bernama Indra sedang tidur pulas dengan selembar kertas di sampingnya yang penuh bait-bait puisi. 

Anakku Indra, aku membatin. Semua yang kita cintai dengan sungguh-sungguh, tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menemukan wadah baru untuk tinggal. Kau adalah anakku karena jiwaku tinggal di jasadmu. 

Bekasi 23 Mei 2026 ***