Driver Ojol yang Menyisihkan Penghasilannya untuk Menyekolahkan Anak-Anak Jalanan
Di tengah hiruk-pikuk jalanan dan dering notifikasi pesanan yang silih berganti, seorang driver ojek online bernama Mas Erwin menjalani hidup yang mungkin tak jauh berbeda dengan jutaan pekerja harian lainnya. Ia bekerja dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ada satu hal yang membuat perjuangannya berbeda. Setiap kali menerima penghasilan, Mas Erwin selalu menyisihkan sebagian rezekinya untuk menyekolahkan anak-anak jalanan, dhuafa dan yatim piatu.
"Saya hanya ingin mereka sukses dan tak bernasib sepertiku yang putus sekolah karena ekonomi."
Kalimat sederhana itu menjadi alasan di balik langkah panjang yang ia tempuh selama bertahun-tahun.
Masa kecil Mas Erwin tidak berjalan mudah. Keterbatasan ekonomi keluarga memaksanya berhenti sekolah sebelum cita-citanya sempat tumbuh dengan sempurna. Saat teman-teman seusianya masih belajar di ruang kelas, ia harus menerima kenyataan bahwa kemiskinan telah menutup salah satu pintu penting dalam hidupnya. Pengalaman itu meninggalkan luka yang begitu dalam dihatinya.
Namun alih-alih menyimpan kepahitan, Mas Erwin memilih mengubah luka tersebut menjadi harapan bagi orang lain.
Sebagai driver ojek online, penghasilannya tidak selalu menentu. Ada hari-hari ketika pendapatan yang ia bawa pulang bahkan tidak mencapai Rp100 ribu. Cuaca buruk, sepinya pesanan, hingga tingginya kebutuhan hidup menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Namun meski demikian, ia tetap berupaya konsisten menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu pendidikan anak-anak kurang mampu. Jumlah mereka bahkan tidak sedikit. Hampir sekitar 150 anak, kini mendapatkan bantuan pendidikan melalui perjuangan yang dirintis Mas Erwin bersama rekan-rekannya.
Baginya, pendidikan bukan sekadar soal nilai rapor atau ijazah. Pendidikan adalah kesempatan untuk memutus rantai kemiskinan yang selama ini menjerat begitu banyak keluarga. Karena itu, bantuan yang diberikan tidak berhenti pada biaya sekolah semata. Mas Erwin dan para relawan juga mendirikan Wadah Kelompok Belajar, ruang pendidikan gratis yang menjadi tempat anak-anak tersebut belajar, bertanya, dan membangun mimpi-mimpi mereka.
Di tempat sederhana itulah anak-anak yang sebelumnya nyaris kehilangan harapan kembali menemukan alasan untuk bercita-cita. Mungkin bagi sebagian orang, membantu 150 anak membutuhkan kekayaan besar, jaringan luas, atau dukungan lembaga yang kuat.
Namun Mas Erwin membuktikan bahwa kepedulian tidak selalu lahir dari kelimpahan. Kadang ia lahir dari seseorang yang pernah merasakan kondisi yang sama dan pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan kesempatan karena keadaan.
Mas Erwin bukanlah pengusaha besar, atau tokoh terkenal. Ia hanyalah seorang driver ojek online yang setiap hari berjuang mencari nafkah di jalanan. Tetapi dari balik helm dan jaket yang dikenakannya, tersimpan mimpi besar untuk masa depan anak-anak yang nyaris dilupakan keadaan. Kisah Mas Erwin mengingatkan kita bahwa perubahan sering kali tidak dimulai dari orang yang memiliki segalanya.
Perubahan justru kerap lahir dari mereka yang pernah kehilangan sesuatu yang berharga, lalu bertekad agar orang lain tidak mengalami kehilangan yang sama. Dan mungkin, itulah bentuk keberhasilan yang paling bermakna.