BREAKING NEWS: Pentagon Memindahkan Marinir AS dan Kapal Perang Tambahan dari Jepang ke Timur Tengah

ORBITINDONESIA.COM - Pentagon memindahkan Marinir dan kapal perang tambahan ke Timur Tengah seiring dengan meningkatnya serangan Iran di Selat Hormuz, menurut tiga pejabat AS.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah menyetujui permintaan dari Komando Pusat AS, yang bertanggung jawab atas pasukan Amerika di Timur Tengah, untuk elemen kelompok siap amfibi dan unit ekspedisi Marinir yang tergabung, yang biasanya terdiri dari beberapa kapal perang dan 5.000 Marinir dan pelaut, kata para pejabat tersebut.

Kapal USS Tripoli yang berbasis di Jepang dan Marinir yang tergabung di dalamnya kini sedang menuju Timur Tengah, kata dua pejabat tersebut. Marinir sudah berada di Timur Tengah untuk mendukung operasi Iran, kata para pejabat tersebut.

Perang yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari 2026 tampaknya tidak akan mereda, dengan AS menjanjikan serangan paling intens hingga saat ini pada hari Jumat, 13 Maret 2026.

Sementara itu, Iran tidak mundur, dan beberapa pemimpin bahkan turun ke jalan dalam pawai menentang rezim, menunjukkan penentangan mereka terhadap Presiden Donald Trump dan serangannya.

Berita Pentagon menyetujui pengiriman Marine Expeditionary Unit (MEU) berisi sekitar 2.500 Marinir ke Timur Tengah atas permintaan CENTCOM merupakan perkembangan penting dalam eskalasi perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran.

Langkah ini dilakukan karena konflik regional semakin meluas, termasuk serangan rudal dan drone Iran, gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz, meningkatnya operasi militer AS di Iran dan Lebanon.

Beberapa laporan menyebut unit yang bergerak kemungkinan terkait dengan kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA‑7) dan Marinir dari 31st Marine Expeditionary Unit yang berbasis di Jepang.

Kelompok ini biasanya datang bersama Amphibious Ready Group, yaitu formasi kapal perang yang dapat membawa pasukan darat, helikopter, dan pesawat tempur STOVL seperti F-35B.

MEU adalah salah satu unit tempur cepat (rapid-response force) paling fleksibel militer AS. Struktur MEU biasanya terdiri dari empat elemen utama: Ground Combat Element (Batalyon infanteri Marinir sebagai kekuatan tempur utama); Aviation Combat Element (helikopter serang, tilt-rotor MV-22 Osprey, dan kadang F-35B); Logistics Combat Element (dukungan logistik, medis, dan transportasi); dan Command Element (staf komando untuk operasi gabungan).

Total kekuatan sekitar 2.200–2.500 personel, tetapi jika dihitung bersama awak kapal perang, jumlahnya bisa mencapai 5.000 orang.

Misi yang kemungkinan akan dijalankan

Pengiriman MEU ke kawasan konflik biasanya bertujuan untuk: Operasi amfibi (pendaratan pasukan di pantai atau pelabuhan strategis); pengamanan jalur laut (terutama di Selat Hormuz, jalur minyak paling vital dunia); evakuasi warga negara (mengeluarkan warga AS atau sekutu dari zona perang); operasi serangan terbatas (raid cepat terhadap fasilitas militer atau pangkalan musuh); penguatan pangkalan AS (mengamankan instalasi militer di negara Teluk).

Pengiriman MEU menandakan eskalasi tahap baru dalam konflik. Beberapa implikasi strategisnya: Persiapan kemungkinan operasi darat terbatas (selama ini operasi AS terhadap Iran didominasi serangan udara dan rudal); perlindungan kepentingan energi global (Iran telah menyerang kapal dan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz); Deterrence terhadap Iran dan milisi pro-Iran (MEU sering dipakai sebagai sinyal bahwa AS siap meningkatkan konflik); fleksibilitas militer tinggi (MEU bisa digunakan untuk berbagai skenario, dari bantuan kemanusiaan hingga operasi tempur).

Pengiriman Marinir ini merupakan bagian dari penumpukan kekuatan militer AS di kawasan yang meliputi: kapal induk, kapal perang bersenjata rudal, pesawat pengebom strategis, sistem pertahanan udara Patriot, dan pasukan khusus. Semua berada di bawah komando CENTCOM, yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di Timur Tengah.

Bagi para analis militer, pengerahan MEU ini menunjukkan tiga hal: 1) Konflik belum mendekati akhir, AS justru menambah pasukan; 2) Risiko eskalasi regional meningkat, terutama di Irak, Lebanon, dan Teluk Persia; 3) Kemungkinan operasi amfibi atau raid terhadap Iran mulai dipertimbangkan. ***