Pengangguran Pemuda Inggris: Tantangan dan Solusi di Era AI
ORBITINDONESIA.COM – Angka pengangguran kaum muda di Inggris mencapai 16,1%, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 5,1%.
Kaum muda di Inggris menghadapi tantangan besar dalam memasuki pasar kerja. Sektor seperti ritel dan perhotelan, yang dulu menjadi tempat kerja pertama bagi banyak anak muda, kini mengurangi tenaga kerja karena kenaikan biaya. Ini semakin diperparah oleh kebutuhan pengalaman kerja yang membuat lulusan baru kesulitan mendapatkan posisi entry-level.
Peran AI dalam proses rekrutmen semakin signifikan, dengan banyak perusahaan menggunakannya untuk menyaring CV dan bahkan melakukan wawancara. Sementara itu, lulusan universitas, seperti Lucy Gabb, berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka, dengan lebih dari 50 lamaran yang hanya membuahkan satu wawancara tatap muka.
AI bisa menjadi pedang bermata dua dalam rekrutmen, memberikan efisiensi namun juga mengurangi peluang bagi pencari kerja pemula. Kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk menekan biaya perusahaan, seperti kenaikan upah minimum, justru membebani sektor yang banyak memperkerjakan pemuda. Solusi seperti Skema Jaminan Pemuda perlu diperluas agar mencakup lulusan universitas.
Apakah kita siap untuk mengintegrasikan lulusan baru dengan lebih baik ke dalam pasar kerja? Dukungan terhadap kaum muda dan lulusan universitas harus diperkuat untuk memastikan investasi pendidikan mereka tidak sia-sia. Bagaimana kita bisa menjamin bahwa derajat mereka benar-benar termanfaatkan?