Abdul Aziz: Ramadan “Satiris” ala Indonesia
Dr. Abdul Aziz, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta
ORBITINDONESIA.COM - Setiap tahun, ketika hilal terlihat dan beduk ditabuh, Indonesia berubah wajah. Spanduk ucapan “Marhaban Ya Ramadan” membentang di jalan protokol. Iklan sirup berlomba menghadirkan keluarga harmonis. Politisi mendadak fasih mengutip ayat.
Negeri dengan sekitar 90 persen penduduk Muslim ini memasuki bulan suci dengan gegap gempita. Masjid penuh. Pengajian ramai. Buka puasa bersama digelar dari gang sempit hingga hotel berbintang.
Namun di luar pagar masjid, realitas tak sesuci poster. Poster-poster seakan hanya menampilkan narasi satiris yang mengungkapkan realitas sebenarnya.
Inilah realitasnya. Kita baru saja melewati tahun-tahun yang menyesakkan. Korupsi gigantik bernilai triliunan rupiah terbongkar satu per satu. Uang publik menguap seperti embun pagi, berpindah ke rekening tersembunyi. Pajak digelapkan oleh mereka yang paling keras berpidato tentang cinta tanah air. Hutan dibabat, sungai diracuni, lalu bencana ekologis datang seperti tamu tak diundang—banjir, longsor, kebakaran lahan—seolah alam ikut berpuasa dari kesabaran.
Tahun 2006 pernah mencatat deretan bencana besar yang mengguncang nurani bangsa. Namun dua dekade setelahnya, kita masih akrab dengan ironi yang sama: kerusakan sosial dan ekologis berjalan beriringan dengan kesalehan simbolik.
Di Senayan, sidang-sidang terhormat sering kali lebih riuh oleh manuver politik ketimbang keberpihakan pada rakyat. Di Istana, pidato tentang moralitas kadang terdengar seperti musik latar yang indah, tetapi tak menyentuh kebijakan nyata. Rakyat diminta sabar, sementara elite sibuk mengatur kursi dan koalisi.
Lalu Ramadan datang.
Pertanyaannya sederhana, tapi getir: apakah Ramadan akan memperbaiki kekacauan ini? Atau justru menjadi bulan kamuflase paling efektif?
Tiba-tiba para pejabat yang biasanya alergi pada kritik menjadi dermawan. Kamera merekam momen mereka menyantuni anak yatim. Feed media sosial penuh foto bersarung dan berpeci. Ayat-ayat suci mengalir lancar dari bibir yang setahun penuh piawai merangkai janji kosong.
Seolah-olah takwa bisa dikenakan seperti busana musiman.
Ironinya, Al-Quran dengan tegas menyebut tujuan puasa: “la’allakum tattaqun”—agar kamu bertakwa. Takwa bukan soal busana, bukan soal intensitas unggahan religi, bukan soal seberapa sering buka puasa bersama di hotel mewah.
Takwa adalah keberanian menolak suap ketika tak ada kamera. Takwa adalah integritas saat menandatangani anggaran triliunan rupiah. Takwa adalah menjaga hutan dan sungai karena merasa diawasi Tuhan, bukan sekadar diawasi KPK.
Namun di negeri ini, Ramadan sering kali berubah menjadi panggung. Yang dipertontonkan bukan pertobatan, melainkan pencitraan. Masjid penuh oleh jamaah, tetapi penjara juga penuh oleh koruptor yang dulu rajin duduk di saf depan.
Kita menyaksikan paradoks yang nyaris komikal: negeri religius dengan indeks korupsi yang memalukan. Rakyat antre zakat fitrah dengan tulus, sementara sebagian elite mengutak-atik regulasi untuk meloloskan kepentingan sendiri. Anak muda diajari pentingnya kejujuran, tetapi menyaksikan kebohongan politik diputar seperti drama berseri tanpa akhir.
Ramadan, dalam kondisi seperti ini, menjadi cermin besar. Ia memantulkan wajah asli kita. Jika setelah sebulan menahan lapar, kita tetap rakus pada kekuasaan dan uang, maka yang berpuasa mungkin hanya perut, bukan hati.
Sarkasme sejarah akan mencatat: di negeri mayoritas Muslim ini, azan berkumandang lima kali sehari, tetapi keadilan sering datang terlambat. Mimbar-mimbar penuh nasihat, tetapi ruang sidang penuh siasat.
Apakah ada harapan?
Selalu ada. Ramadan menyimpan kemungkinan revolusi sunyi. Ia mengajarkan disiplin, empati, dan pengendalian diri. Jika nilai itu benar-benar meresap—bukan sekadar menjadi dekorasi—maka perubahan bisa dimulai, bahkan dari lorong kekuasaan.
Tetapi perubahan itu menuntut kejujuran nir kompromi: mengakui bahwa problem Indonesia bukan kurangnya simbol agama, melainkan kurangnya moral dalam praktik bernegara.
Ramadan bukan bulan kamuflase. Ia bulan pembongkaran. Ia menelanjangi kepalsuan dan menguji konsistensi. Jika para politisi Senayan dan penghuni Istana hanya memanfaatkan bulan ini untuk mencuci citra, sejarah akan mencatatnya dengan tinta sinis.
Sebab Tuhan, tak seperti pemilih, tidak bisa dibohongi lima tahunan.
Pada akhirnya, Ramadan di Indonesia adalah pertarungan antara dua wajah: kesalehan sejati dan kesalehan kosmetik. Kita akan tahu hasilnya bukan dari ramainya buka puasa bersama, melainkan dari sepi atau tidaknya ruang tahanan koruptor setelah bulan suci berlalu.
Di situlah ukuran takwa yang sebenarnya. ***