Mudik Bandung–Garut: Nyaman karena Motor Honda
Dalam tradisi orang Sunda, menjelang Ramadan selalu ada satu kebiasaan yang terasa hangat: Munggahan, waktu berkunjung ke sanak kerabat, berkumpul, bersilaturahmi, dan makan bersama sebelum bulan puasa tiba. Bukan sekadar pertemuan keluarga, tetapi juga cara pelan untuk saling mendekat dan saling memaafkan sebelum menunaikan ibadah puasa.
Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, langkah saya kembali menuju Garut, tempat kerabat tinggal untuk Munggahan bersama keluarga. Perjalanan itu saya tempuh dengan sepeda motor Honda CB150X, kendaraan yang beberapa waktu terakhir menjadi teman setia perjalanan jauh saya.
Pagi itu di Bandung, langit masih berwarna putih kebiruan, dan dingin yang halus merayap dari sela pintu rumah yang saya buka pelan. Di dapur, termos air panas sudah saya siapkan sejak semalam, kebiasaan lama setiap kali akan berangkat jauh. Saya menuang sedikit ke gelas enamel, meniup uapnya, lalu meneguk perlahan. Hangatnya turun ke dada, menyatu dengan kesadaran bahwa perjalanan menuju pulang segera dimulai.
Di halaman, motor sudah menunggu dengan embun tipis menempel di joknya. Saya menyapunya dengan telapak tangan, refleks seperti menepuk bahu teman perjalanan. Tas kecil diikat di belakang, sarung tangan dikenakan, dan mesin dinyalakan. Suaranya tenang, tidak memecah pagi, hanya memberi tanda bahwa jalan menuju Garut, menuju keluarga, perlahan bergerak mendekat.
Bandung saya tinggalkan pelan-pelan. Jalanan masih setengah lengang, hanya beberapa warung yang baru membuka pintu dan aroma gorengan pertama hari itu, mulai tercium di udara dingin. Motor melaju stabil, dan tubuh saya segera menemukan ritme yang akrab: duduk tegak, bahu rileks, tangan ringan di setang. Ada rasa bersandar nyaman pada perjalanan.
Memasuki jalur Nagreg, langit mulai menghangat. Kabut tipis menggantung di lereng, dan garis jalan berkelok. Di tanjakan yang panjang, laju tetap terjaga tanpa perlu memaksa mesin. Tarikannya halus dan cukup, seolah ada dorongan sabar dari belakang. Angin pagi menerpa helm, tetapi motor tetap tenang di jalurnya.
Sesekali saya berpapasan dengan pemudik lain: motor bebek dengan kardus diikat di belakang, skutik dengan anak kecil yang tertidur di depan, dan wajah-wajah yang tampak menahan kantuk. Di antara mereka, saya merasa beruntung, bukan karena kendaraan ini lebih besar, tetapi karena tubuh saya masih santai, tidak dipaksa menahan pegal. Kenyamanan itu hadir tanpa disadari: pada posisi duduk yang bersahabat, getaran yang halus, dan kendali yang ringan di tikungan-tikungan panjang menuju Limbangan.
Saya sempat berhenti di bahu jalan yang menghadap lembah. Dari sana, Garut tampak sangat indah: hamparan hijau, garis sungai, dan sawah yang belum sepenuhnya terang. Perjalanan dengan motor selalu terasa lebih jujur, tidak ada kaca yang memisahkan kita dari bau tanah, suhu udara, atau suara desa yang pelan-pelan bangun. Saya menarik napas panjang, lalu kembali menyalakan mesin. Jalan menuju keluarga tinggal beberapa puluh kilometer lagi.
Menjelang memasuki jalan desa, matahari sudah cukup tinggi. Aroma padi dan tanah basah semakin kuat. Saya melepas gas perlahan, membiarkan motor mengalir seperti air yang pulang ke muaranya. Rumah kerabat muncul di tikungan kecil, pagar bambu yang sama, halaman yang sama, dan pohon yang dulu sering saya panjat saat kecil.
Saya berhenti, mematikan mesin, dan suasana kembali sunyi. Saat kaki menapak tanah, saya baru sadar: punggung tidak pegal, tangan tidak kebas, kepala masih ringan. Seolah perjalanan ratusan tikungan tadi hanya percakapan panjang yang menyenangkan.
Mudik sering kita ukur dengan jarak dan waktu tempuh. Padahal ada yang lebih halus: bagaimana perjalanan memperlakukan tubuh dan perasaan kita. Di jalur Bandung–Garut yang berkelok, naik-turun, dan berangin, saya menemukan bahwa mudik dengan motor Honda bisa terasa begitu bersahabat, tenang, stabil, tidak melelahkan, seakan setiap kilometer diberi bantalan sabar.
Dan ketika pintu rumah terbuka dan kerabat menyambut di ambang, saya tahu: kenyamanan perjalanan tadi bukan sekadar soal kendaraan. Ia adalah jembatan yang membuat pulang terasa utuh, dari jalan, ke tubuh, lalu ke rumah.