Chabibul Barnabas: Permainan Tradisional, Benteng Karakter di Era Digital

Congklak, salah satu permainan tradisional yang mulai surut (Foto: RRI).

Congklak, salah satu permainan tradisional yang mulai surut (Foto: RRI).

Opini

Oleh Chabibul Barnabas, Pemerhati Sosial Pendidikan dan Pegiat Literasi di Gerakan Beramal Baik.

ORBITINDONESIA.COM - Di banyak lingkungan, pemandangan anak-anak berlarian di lapangan kini semakin jarang ditemukan. Waktu bermain mereka lebih banyak dihabiskan di depan layar gawai daripada di ruang terbuka bersama teman sebaya.

Kemajuan teknologi memang menghadirkan berbagai kemudahan. Namun, perubahan pola bermain anak juga membawa tantangan baru bagi proses pembentukan karakter generasi muda.

Hari ini, banyak anak lebih mengenal game digital dibandingkan gobak sodor, bentengan, engklek, atau congklak. Bahkan, tidak sedikit yang belum pernah memainkan permainan tradisional yang dahulu akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Kondisi tersebut patut menjadi perhatian bersama. Sebab, permainan tradisional sesungguhnya bukan sekadar sarana hiburan, melainkan ruang belajar yang kaya akan nilai pendidikan karakter.

Dalam permainan tradisional, anak-anak belajar berinteraksi secara langsung. Mereka berlatih berkomunikasi, bekerja sama, menghargai aturan, dan menyelesaikan persoalan bersama teman-temannya.

Permainan gobak sodor, misalnya, mengajarkan strategi dan kekompakan tim. Sementara bentengan melatih keberanian, kepemimpinan, serta kemampuan membangun solidaritas kelompok.

Permainan congklak mengajarkan kesabaran dan kemampuan mengambil keputusan. Adapun engklek melatih ketekunan, keseimbangan, dan disiplin dalam mengikuti aturan permainan.

Nilai-nilai tersebut tumbuh secara alami melalui pengalaman. Anak-anak tidak merasa sedang diajari, tetapi sesungguhnya sedang belajar tentang kehidupan.

Di sinilah letak keunggulan permainan tradisional sebagai sarana pendidikan karakter. Pembelajaran berlangsung melalui praktik nyata, bukan sekadar nasihat atau teori.

Pendidikan karakter yang efektif membutuhkan pembiasaan. Seseorang tidak menjadi jujur hanya karena mendengar ceramah tentang kejujuran, tetapi karena terbiasa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Permainan tradisional menyediakan ruang yang ideal untuk proses tersebut. Setiap permainan menghadirkan situasi yang mengharuskan anak berlaku jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan sportif.

Ketika kalah, mereka belajar menerima kenyataan dengan lapang dada. Ketika menang, mereka belajar menghargai lawan dan mengendalikan rasa bangga secara proporsional.

Kemampuan seperti itu sangat dibutuhkan di era digital. Sayangnya, sebagian besar ruang interaksi anak kini bergeser ke dunia virtual yang memiliki karakteristik berbeda.

Teknologi memang mampu memperluas akses informasi. Akan tetapi, teknologi tidak selalu mampu menggantikan pengalaman sosial yang diperoleh melalui perjumpaan langsung.

Tidak sedikit anak yang semakin terampil menggunakan perangkat digital, tetapi mengalami kesulitan membangun komunikasi interpersonal. Mereka cepat menguasai teknologi, namun belum tentu terlatih dalam empati dan kerja sama.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pembangunan karakter tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada teknologi. Diperlukan ruang-ruang sosial yang memungkinkan anak belajar menjadi manusia seutuhnya.

Permainan tradisional menawarkan ruang tersebut. Melalui aktivitas sederhana, anak-anak belajar memahami perbedaan, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.

Lebih dari itu, permainan tradisional juga menjadi sarana pewarisan budaya. Setiap permainan mengandung nilai-nilai lokal yang mencerminkan kearifan masyarakat Indonesia.

Ketika permainan tradisional ditinggalkan, yang hilang bukan hanya sebuah aktivitas bermain. Bersamaan dengan itu, nilai, pengalaman, dan identitas budaya bangsa juga perlahan memudar.

Dalam konteks penguatan karakter, negara sesungguhnya memiliki instrumen yang sangat strategis. Salah satunya adalah Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang bertugas melaksanakan kebijakan dan program penguatan karakter berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda pada era digital. Penguatan karakter juga sejalan dengan arah pembangunan sumber daya manusia dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pendidikan dan pembentukan karakter sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Keberadaan Puspeka dapat menjadi motor penggerak revitalisasi permainan tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter nasional. Sebab, nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional memiliki keterkaitan yang kuat dengan pembentukan karakter Pelajar Pancasila.

Melalui permainan tradisional, peserta didik belajar bergotong royong, menghargai keberagaman, mandiri, bernalar kritis, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang menempatkan karakter sebagai fondasi pembangunan manusia Indonesia.

Permainan tradisional juga dapat menjadi media yang efektif untuk mendukung Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang saat ini didorong oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Berbagai kebiasaan positif seperti disiplin, aktif bergerak, membangun kepedulian sosial, dan membiasakan interaksi yang sehat dapat ditanamkan melalui aktivitas bermain yang menyenangkan.

Karena itu, permainan tradisional layak memperoleh ruang yang lebih besar dalam berbagai program penguatan karakter di sekolah. Puspeka dapat mendorong lahirnya Gerakan Nasional Permainan Tradisional yang menjadikan permainan rakyat sebagai bagian dari budaya belajar dan budaya sekolah.

Program tersebut dapat diwujudkan melalui pekan permainan tradisional, festival permainan rakyat antarsekolah, pengembangan modul pembelajaran berbasis permainan tradisional, hingga pelatihan guru sebagai fasilitator pendidikan karakter.

Dengan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan, permainan tradisional dapat menjadi salah satu instrumen strategis dalam membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berbudaya.

Indonesia memiliki kekayaan permainan tradisional yang sangat beragam. Jika dikelola secara sistematis, warisan budaya tersebut dapat menjadi instrumen pendidikan karakter yang efektif sekaligus sarana pelestarian budaya bangsa.

Karena itu, upaya menghidupkan kembali permainan tradisional perlu menjadi gerakan bersama. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga warisan tersebut.

Orang tua dapat mulai mengenalkan permainan tradisional di lingkungan keluarga. Langkah sederhana ini dapat menjadi sarana mempererat hubungan sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.

Sekolah juga dapat mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Dengan cara itu, pendidikan karakter berlangsung lebih menyenangkan dan membumi.

Pemerintah daerah serta komunitas masyarakat dapat mendukung melalui festival budaya, lomba permainan tradisional, maupun penyediaan ruang publik yang ramah anak. Upaya tersebut akan membantu memperluas ruang interaksi sosial bagi generasi muda.

Tentu, menghidupkan permainan tradisional bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan agar teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan dapat tumbuh secara bersamaan.

Generasi masa depan harus mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan karakter. Mereka perlu cerdas secara intelektual sekaligus kuat secara moral dan sosial.

Pada akhirnya, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari kecanggihan perangkat digital yang dimiliki. Kemajuan sejati juga ditentukan oleh kualitas karakter manusia yang menggunakannya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, permainan tradisional tetap relevan sebagai benteng karakter. Dari permainan-permainan sederhana itulah lahir nilai kejujuran, kerja sama, tanggung jawab, dan kepedulian yang akan menjadi fondasi masa depan bangsa. ***