Strategi Storytelling yang Membawa Brand Lokal hingga ke Panggung Festival Film

Sumber: Kolase Orbit

Sumber: Kolase Orbit

Rekomendasi Produk

Ketika banyak brand lokal berlomba menggelar flash sale dan menawarkan diskon besar-besaran demi mendongkrak penjualan, ada satu brand yang memilih jalan berbeda. Alih-alih mengejar perhatian lewat perang harga, brand ini membangun kedekatan dengan konsumennya melalui strategi storytelling yang konsisten.

Hasilnya pun tak main-main. Meski koleksi-koleksinya dibanderol hingga jutaan rupiah, Sejauh Mata Memandang tetap memiliki pelanggan setia dan terus menjadi salah satu brand fesyen lokal yang diperhitungkan.

Pencapaian tersebut menjadi contoh bahwa kekuatan sebuah brand tidak hanya diukur dari angka penjualan, tetapi juga dari kemampuannya membangun hubungan emosional dengan audiens. Selama lebih dari satu dekade, Sejauh Mata Memandang tidak dikenal sebagai brand yang mengandalkan perang harga atau promosi besar-besaran. Sebaliknya, Chitra Subyakto memilih membangun identitas merek melalui cerita yang autentik.

Cerita itu hadir dalam setiap koleksi yang diluncurkan. Sejauh Mata Memandang mengangkat perjalanan para pengrajin lokal, memperkenalkan teknik pengerjaan yang masih dilakukan secara handmade, menggunakan material yang lebih ramah lingkungan, serta menghadirkan motif-motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Indonesia. Produk yang dijual bukan sekadar pakaian, melainkan nilai tentang keberlanjutan, pelestarian budaya, dan penghargaan terhadap karya para perajin.

Pendekatan tersebut membuat konsumen tidak lagi melihat harga sebagai satu-satunya pertimbangan.

Strategi storytelling itu mencapai babak baru pada 2025 ketika Sejauh Mata Memandang memperkenalkan film pendek Pulang. Film berdurasi 27 menit hasil kolaborasi dengan Lynx Films itu pertama kali ditayangkan dalam Plaza Indonesia Fashion Week 2025 sebelum kemudian terpilih dalam program kuratorial Resonance di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20. Program tersebut secara khusus menampilkan karya berbasis jenama yang memiliki kualitas artistik dan mampu menyampaikan pengalaman emosional, bukan sekadar materi promosi.

Dalam wawancaranya dengan Marketeers, Chitra Subyakto mengungkapkan bahwa Pulang lahir dari rasa cinta sekaligus kegelisahannya terhadap kondisi bumi yang semakin rapuh. Melalui film tersebut, ia ingin mengajak masyarakat kembali melihat hubungan manusia dengan alam serta menyadari bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah yang membuat strategi storytelling Sejauh Mata Memandang berbeda. Mereka tidak memisahkan antara pemasaran dan nilai yang diperjuangkan. Setiap kampanye, koleksi, hingga film yang diproduksi selalu mengarah pada pesan yang sama: menghargai budaya Indonesia, mendukung pengrajin lokal, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Di era ketika banyak brand berlomba mengejar perhatian melalui diskon dan promosi instan, Sejauh Mata Memandang justru membuktikan bahwa cerita yang kuat mampu menciptakan loyalitas jangka panjang. Ketika konsumen percaya pada nilai yang dibawa sebuah merek, produk tidak lagi dipandang sebagai barang konsumsi semata, tetapi sebagai bagian dari identitas yang ingin mereka dukung.

Perjalanan Sejauh Mata Memandang menjadi pelajaran penting bagi pelaku UMKM maupun brand lokal. Storytelling bukan sekadar teknik komunikasi, melainkan fondasi dalam membangun kepercayaan. Dan ketika cerita itu dijaga secara konsisten, sebuah brand tidak hanya mampu menjual produk, tetapi juga dapat menembus ruang-ruang kreatif yang lebih luas, bahkan hingga panggung festival film.