Kerusuhan Indonesia 2025: Krisis Kepemimpinan dan Aksi Penjarahan

ORBITINDONESIA.COM – Penjarahan rumah pejabat dan bentrokan antara massa dengan aparat mengguncang Indonesia, mengingatkan kita pada krisis 1998.

Sejak akhir Agustus, Indonesia dilanda kerusuhan akibat aksi penjarahan rumah pejabat dan protes yang berujung kekerasan. Korban jiwa berjatuhan, termasuk mahasiswa Rheza Sendy Pratama di Yogyakarta, mengindikasikan kevakuman kepemimpinan dan ketidakpuasan publik yang membuncah.

Pengamat politik mencatat bahwa krisis saat ini berakar pada kevakuman kepemimpinan dan ketidakpekaan pejabat. Ekonom Bhima Yudhistira memperingatkan potensi krisis multi dimensi jika situasi ini berlarut. Pasar saham, nilai tukar rupiah, dan iklim investasi sudah terkena imbas, menunjukkan kekhawatiran serupa krisis 1998.

Kritikus menyoroti kebijakan pemerintah yang lebih menekankan kekerasan daripada dialog. Vidhyandika Djati Perkasa dari CSIS menyarankan evaluasi kebijakan dan mendengarkan suara rakyat. Ketegangan elite dan kontestasi politik memperparah situasi, memicu anarki yang meluas.

Situasi ini menjadi wake-up call bagi pemerintah untuk bertindak tegas namun bijaksana. Kepemimpinan yang kuat dan responsif diperlukan untuk menghindari krisis lebih lanjut. Akankah Indonesia belajar dari masa lalu, atau kembali terjebak dalam siklus krisis yang sama? (Orbit dari berbagai sumber, 16 Februari 2026)