NASA dan Tantangan Kebocoran Hidrogen: Menjelang Artemis II

ORBITINDONESIA.COM – NASA mengubah pendekatannya terhadap kebocoran hidrogen dalam persiapan misi Artemis II. John Honeycutt menjelaskan bahwa pengurangan batas keamanan didasarkan pada data pengujian yang menunjukkan hidrogen tidak mudah menyala pada konsentrasi 16 persen.

Kebocoran hidrogen menjadi masalah rumit bagi NASA karena sifat molekuler hidrogen yang mudah lolos. Hidrogen cair, yang didinginkan hingga minus 423 derajat Fahrenheit, memerlukan perhatian khusus dalam penanganannya. Masa antara Artemis I dan II digunakan untuk memahami lebih baik kebocoran ini, bukan untuk memperbaikinya secara langsung.

Pengeluaran besar NASA untuk sistem pendukung darat di Kennedy Space Center menjadi sorotan. Pada tahun 2024 saja, hampir $900 juta dihabiskan untuk infrastruktur pendukung Artemis. Ini menambah beban biaya program SLS, yang oleh inspektur jenderal NASA diperkirakan lebih dari $2 miliar per roket.

Isaacman, Administrator baru NASA, mengkritik biaya tinggi dan lambatnya peluncuran SLS. Dia menyarankan penggunaan roket yang lebih baru dan lebih murah di masa depan. Ini menunjukkan kebutuhan akan efisiensi dan inovasi dalam program Artemis yang berkelanjutan.

Seiring persiapan misi Artemis II yang semakin dekat, NASA menekankan pentingnya keselamatan. Kesempatan peluncuran berikutnya dimulai 3 Maret, dengan cadangan di bulan April dan Mei. Komitmen NASA untuk kembali ke Bulan tetap menjadi prioritas utama, meski tantangan teknologi terus menguji batas kemampuan mereka.

(Orbit dari berbagai sumber, 16 Februari 2026)