Ujian Terberat Kuba: Krisis Minyak dan Tekanan AS

ORBITINDONESIA.COM – Ketika Kuba menghadapi krisis ekonomi terparah dalam beberapa dekade, tekanan dari Amerika Serikat semakin memperburuk situasi. Presiden Donald Trump telah memutus pasokan minyak dari Venezuela, sekutu lama Kuba, dan mengancam negara lain yang berani memasok minyak ke pulau itu dengan tarif tinggi.

Pemerintah komunis Kuba menghadapi tantangan besar sejak runtuhnya Uni Soviet. Dengan pemutusan minyak dari Venezuela dan ancaman tarif dari AS, Kuba kini berada dalam situasi genting. Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menolak menyerah dan bersedia berdialog dengan AS tanpa tekanan.

Akibat krisis ini, Kuba terpaksa menerapkan langkah-langkah darurat seperti pengurangan penjualan bahan bakar dan pemangkasan jam kerja perusahaan milik negara. Menurut Par Kumaraswami, situasi ini mengingatkan pada tahun 1990-an ketika Kuba harus bertahan tanpa dukungan Blok Timur. Namun, ancaman tarif AS telah mempersulit negara-negara untuk membantu Kuba.

Banyak warga Kuba merasa frustrasi dengan kesulitan hidup sehari-hari, namun mereka tetap teguh mempertahankan kedaulatan nasional. Helen Yaffe melihat situasi ini sebagai ujian penting bagi blok BRICS untuk melindungi anggotanya. Dukungan dari China dan Rusia menunjukkan bahwa Kuba tidak sendirian.

Krisis ini menempatkan pemerintah Kuba di bawah tekanan ekstrem untuk menemukan solusi yang dinegosiasikan. Meski begitu, sejarah menunjukkan bahwa Kuba pernah menghadapi situasi serupa dan berhasil bertahan. Pertanyaannya, apakah Kuba dapat mengulangi ketahanan tersebut di tengah tekanan global yang semakin meningkat?

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Februari 2026)