Anggota DPR RI Muhammad Nur Purnamasidi Ajak Menghidupkan Kembali Sejarah di Mata Anak Muda

ORBITINDONESIA.COM — Upaya menjembatani generasi muda dengan sejarah bangsa menjadi sorotan dalam kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Cagar Budaya yang dilakukan Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Nur Purnamasidi, di Kompleks Candi Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Rabu, 11 Februari 2026.

Ia menilai pelestarian cagar budaya tidak cukup hanya dengan perawatan fisik, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang relevan agar diminati generasi masa kini.

Dalam kunjungan tersebut, ia menilai kondisi cagar budaya di lokasi tersebut terlihat terawat dengan baik. Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Daerah Jambi dalam memulai pengelolaan kawasan secara lebih terstruktur, baik dari sisi sumber daya manusia (SDM) maupun kemasan penyajian yang lebih menarik bagi pengunjung.

“Hari ini kita melihat bahwa anak-anak kita ini memang tidak nyambung dengan sejarah masa lalu. Dengan cagar budaya yang ada hari ini, menurut saya ini bisa menjadi hal yang menarik kembali mereka untuk bisa belajar, mempelajari sesuatu menjadi Indonesia itu seperti apa,” ujar Politisi Fraksi Partai Golkar itu.

Menurutnya, dukungan terhadap upaya daerah menjadi hal yang penting agar semangat pelestarian terus terjaga dan berkembang. Ia juga menekankan perlunya mendorong promosi nilai-nilai yang terkandung dalam cagar budaya agar dapat menginspirasi daerah lain serta generasi mendatang.

Ia menjelaskan, tantangan terbesar dalam pelestarian cagar budaya saat ini adalah membangun keterhubungan antara generasi muda dengan sejarah bangsa. Menurutnya, pendekatan yang digunakan tidak boleh lagi terlalu rumit atau hanya menggunakan sudut pandang akademis semata.

“Jadi kalau anak-anak kita sekarang itu kan mereka tidak butuh sesuatu yang terlalu rumit. Mereka butuh ditampilkan sesuatu yang menarik. Apakah itu menjadi sesuatu yang penting, sesuatu yang berpengaruh dalam dunia,” katanya.

Karena itu, Komisi X berkomitmen untuk mendorong pengenalan cagar budaya melalui perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

“Nah karena itu menurut saya memang kami di Komisi 10 akan mendorong bagaimana kemudian kita perkenalkan tempat-tempat cagar budaya seperti ini dalam sudut pandang mereka. Bukan dalam sudut pandang sejarawan, bukan dalam sudut pandang arkeolog, tapi dalam sudut pandang kehidupan mereka,” tegas legislator daerah pemilihan Jawa Timur IV itu.

Ia menilai keberlangsungan pelestarian menjadi kata kunci utama. Tanpa adanya jembatan antara generasi sebelumnya dan generasi saat ini, cagar budaya dikhawatirkan hanya akan dikunjungi kalangan tertentu dan tidak memiliki kesinambungan minat di masa depan. “Menurut kami di Komisi 10, keberlangsungan itu menurut saya kata kuncinya. Nah sehingga harus ada jembatan,” ungkapnya.

Terkait kendala anggaran, dirinya mengakui bahwa dalam jangka pendek dukungan anggaran dari pemerintah untuk perlindungan cagar budaya belum tentu optimal. Ia mendorong adanya kolaborasi dengan pihak swasta maupun komunitas internasional yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya.

“Ya, dalam jangka pendek memang saya tidak terlalu optimis. Pemerintah kita akan menanggarkan anggaran yang cukup bagi perlindungan cagar budaya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sektor budaya perlu diyakinkan sebagai sektor penting yang sejajar dengan sektor kesehatan dan pendidikan, sehingga memiliki porsi anggaran yang layak dan wajib dijaga keberlangsungannya.

Melalui kunjungan ini, Komisi X berharap pengelolaan cagar budaya di Indonesia, khususnya di Kompleks Candi Muaro Jambi, dapat menjadi contoh praktik baik dalam membangun kolaborasi, inovasi penyajian, serta peningkatan kesadaran generasi muda terhadap warisan sejarah bangsa. ***