Drama Politik Tarif: Tantangan untuk Kepemimpinan Johnson
ORBITINDONESIA.COM – Ketidakmampuan Speaker Mike Johnson untuk memulihkan larangan pada kemampuan anggota parlemen untuk menantang tarif Presiden Donald Trump menyoroti ketegangan politik yang mendalam dalam tubuh legislatif AS.
Ketegangan terjadi di DPR AS ketika tiga anggota Partai Republik bergabung dengan Demokrat untuk menolak pemungutan suara prosedural yang bertujuan untuk memblokir upaya menantang tarif Trump hingga Juli. Langkah ini membuka jalan bagi Demokrat untuk melanjutkan upaya mencabut tarif presiden, yang dianggap merugikan ekonomi. Dalam konteks ini, perpecahan dalam tubuh GOP menjadi sorotan utama.
Keputusan tiga anggota GOP – Thomas Massie, Don Bacon, dan Kevin Kiley – untuk menentang rekan-rekan partai mereka menunjukkan keretakan internal yang signifikan. Dengan mayoritas yang tipis, Johnson hanya dapat kehilangan satu suara Republik untuk melanjutkan legislasi. Senat telah mengeluarkan setidaknya tiga resolusi yang menentang tarif Trump, tetapi sering menghadapi hambatan di DPR. Pernyataan Bacon bahwa tarif adalah 'net negatif' bagi ekonomi menyoroti ketidakpuasan yang berkembang terhadap kebijakan perdagangan eksekutif.
Argumentasi Bacon bahwa Kongres harus merebut kembali otoritas atas tarif dari cabang eksekutif mencerminkan pandangan konstitusional yang lebih luas. Sementara GOP berharap untuk memberi Trump keleluasaan dalam kebijakan dagangnya, penolakan ini menunjukkan bahwa tidak semua anggota partai setuju. Johnson mengakui tantangan yang dihadapinya dengan margin yang sempit, tetapi tetap berkomitmen untuk mendukung presiden.
Perpecahan ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Kongres akan menyeimbangkan kekuasaan antara legislatif dan eksekutif di masa depan. Apakah ini awal dari perubahan kebijakan yang lebih besar atau hanya sebuah insiden terisolasi? Keputusan dalam beberapa bulan mendatang akan menjadi penentu arah kebijakan perdagangan AS.
(Orbit dari berbagai sumber, 13 Februari 2026)