IAEA Desak Inspeksi Nuklir Iran, Deal AS-Iran Diuji

NBC News

NBC News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Inspeksi IAEA atas program nuklir Iran kembali jadi pusat perhatian setelah Rafael Grossi menegaskan ada nota kesepahaman yang ditandatangani kedua presiden. Dalam narasi “pengawasan penuh” itu, kata Grossi, inspeksi bukan pilihan, melainkan konsekuensi yang “akan terjadi”.

Terjemahan akurat artikel sumber: Grossi mengatakan ia memahami pernyataan politik, tetapi mengingatkan bahwa ada memorandum of understanding yang ditandatangani kedua presiden. Di konferensi pers di PLTN Fukushima Daiichi yang terdampak tsunami, ia menegaskan kesepakatan itu secara eksplisit menyebut aktivitas nuklir terkait fasilitas bahan nuklir akan diawasi IAEA.

Grossi menambahkan bahwa untuk mengawasi, IAEA harus melakukan inspeksi, entah lusa, seminggu, atau 10 hari lagi. Ia menekankan waktunya penting, tetapi bukan inti, karena inspeksi “akan terjadi”.

Inspeksi itu krusial karena kesepakatan menuntut stok uranium Iran “diturunkan kadar pengayaannya” dari level sangat tinggi. Wakil Menlu Iran Kazem Gharibabadi menanggapi dengan menyebut Teheran tidak bertemu Grossi saat berada di Swiss.

Gharibabadi menulis di X bahwa isu-isu itu hanya akan ditinjau dan diputuskan dalam kerangka kesepakatan final. Ia menyaratkan adanya tindakan nyata pihak lain untuk mengakhiri semua sanksi dan langkah-langkah lain.

Ia juga menuduh tidak mungkin mendorong kebijakan “mengaduk dan mengambil alih” lewat sensasi media. Sementara itu, IAEA memang diizinkan mengunjungi situs lain di Iran sejak perang 12 hari pada 2025, misalnya PLTN Bushehr.

Namun tanpa akses ke lokasi pengayaan, IAEA menyatakan tidak bisa memverifikasi status stok uranium Iran atau memeriksa rangkaian sentrifugal. Iran dan IAEA sama-sama mengatakan Teheran tidak sedang memperkaya uranium, tetapi pakar nonproliferasi khawatir stok dipindahkan ke lokasi yang tidak dideklarasikan.

Pekan lalu, AS dan Iran sepakat pada kesepakatan yang meminta Teheran mengencerkan stok uranium yang diperkaya. Kesepakatan itu juga melonggarkan sanksi yang didukung AS atas minyak Iran, serta memberi waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merumuskan perjanjian yang lebih luas.

Gencatan senjata yang rapuh sudah diuji ketika Iran mengatakan menutup lagi selat itu akibat pertempuran antara Israel dan milisi Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Kekerasan kembali pecah di Lebanon pada Selasa, namun tidak meningkat.

Pembicaraan tingkat teknis AS-Iran diperkirakan berlanjut awal pekan depan di resor Bürgenstock, Swiss, menurut Kementerian Luar Negeri Pakistan. Pakistan disebut menjadi mediator kunci.

Pernyataan Grossi muncul saat Menlu AS Marco Rubio tiba di Teluk Persia untuk tur tiga negara. Ia memulai dengan pertemuan tertutup dan makan siang kerja privat di Abu Dhabi bersama Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Kata kunci kesepakatan ini adalah “inspeksi IAEA” dan “downblending uranium”, karena keduanya menentukan apakah deal AS-Iran hanya berhenti sebagai deklarasi. Grossi sengaja menekankan frasa “secara eksplisit” dan “di semua huruf”, untuk menutup ruang tafsir yang biasa dipakai dalam diplomasi nuklir.

Masalahnya, akses IAEA yang parsial menciptakan blind spot pada titik paling sensitif: fasilitas pengayaan dan konfigurasi sentrifugal. Tanpa itu, verifikasi stok uranium dan kemampuan pengayaan Iran menjadi dugaan, bukan kepastian.

Di sinilah ketegangan antara “jadwal inspeksi” dan “kredibilitas kesepakatan” muncul. Grossi mengatakan kapan inspeksi dilakukan tidak esensial, tetapi bagi rezim verifikasi, keterlambatan justru membuka peluang pemindahan material.

Pakar nonproliferasi yang khawatir stok dipindah ke lokasi tak dideklarasikan membaca situasi ini sebagai risiko klasik. Jika pengawasan tertinggal dari pergerakan material, maka laporan kepatuhan bisa selalu datang terlambat.

Deal yang memberi waktu 60 hari terdengar seperti jendela diplomasi, tetapi juga jendela manuver. Selama periode itu, setiap pihak bisa mengunci narasi: AS menonjolkan “pembatasan nuklir”, Iran menonjolkan “akhir sanksi minyak”.

Ujian gencatan senjata melalui penutupan selat memperlihatkan betapa isu nuklir tak pernah berdiri sendiri. Jalur energi dan keamanan regional menjadi tuas tekanan yang bisa mengubah ritme negosiasi kapan saja.

Fakta bahwa pembicaraan teknis dijadwalkan di Bürgenstock menandakan fase berikutnya akan lebih rinci dan lebih rapuh. Di level teknis, perbedaan kecil tentang prosedur inspeksi, rantai pengawasan, dan akses data bisa menggagalkan keseluruhan paket.

Kehadiran Marco Rubio di Teluk menambah lapisan sinyal politik. Negara-negara Teluk akan menuntut jaminan bahwa pelonggaran sanksi minyak tidak dibayar dengan meningkatnya risiko proliferasi.

Pernyataan Grossi tampak seperti penegasan netral, tetapi ia sebenarnya sedang mempertaruhkan otoritas IAEA. Jika MoU sudah ditandatangani namun inspeksi tetap tersendat, maka pesan yang tertinggal adalah lembaga pengawas bisa dinegosiasikan.

Respons Gharibabadi memperlihatkan strategi Iran yang konsisten: memindahkan pembahasan teknis ke arena politik “kesepakatan final” dan “pencabutan sanksi”. Ini bukan sekadar bantahan, melainkan cara mengubah inspeksi dari kewajiban menjadi alat tawar.

Namun, framing “media hype” juga berisiko memukul balik Teheran. Semakin inspeksi diperlakukan sebagai propaganda, semakin besar kecurigaan bahwa ada sesuatu yang ingin ditutup rapat.

Di sisi AS, pelonggaran sanksi minyak adalah insentif yang nyata, tetapi juga taruhan reputasi. Jika verifikasi IAEA tak solid, Washington akan dituduh memberi konsesi ekonomi tanpa kepastian teknis.

Karena itu, inti persoalan bukan siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang paling mau membuka pintu fasilitas pengayaan. Dalam isu nuklir, transparansi bukan hadiah, melainkan mata uang utama.

Kesepakatan AS-Iran bisa menjadi jalan menurunkan risiko, tetapi hanya jika inspeksi IAEA berjalan penuh dan cepat. Tanpa akses ke lokasi pengayaan, “downblending uranium” tinggal janji yang tak bisa diukur.

Pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah kedua pihak siap membayar harga politik demi verifikasi yang kredibel. Jika tidak, gencatan senjata yang rapuh akan terus memproduksi krisis baru, sementara dunia hanya menunggu laporan yang selalu terlambat. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)