Rambut Batin Tikal: Dari Mitos Desa Gudang hingga Kajian Ilmiah Kampus Unsri
Oleh Datuk Kulul, Ketua Lembaga Adat Melayu Bangka Selatan.
ORBITINDONESIA.COM - Kisah perjuangan Batin Tikal, pejuang Bangka Belitung yang dikenal gigih melawan penjajahan di Pulau Timah, hingga kini tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Bangka. Namanya tidak sekadar hadir dalam sejarah lisan, tetapi juga menjelma menjadi simbol identitas dan kebanggaan lokal.
Di antara berbagai cerita tentangnya, satu kisah yang paling sering diwariskan dari generasi ke generasi adalah tentang rambut gimbal Batin Tikal yang dipercaya memiliki kekuatan “sakti”.
Bagi masyarakat Desa Gudang, Kecamatan Simpang Rimba, dan sekitarnya, rambut tersebut bukan sekadar bagian tubuh. Ia dipandang sebagai simbol perlawanan, keberanian, dan pengorbanan seorang pemimpin pribumi yang menentang dominasi kolonial di sektor timah.
“Rahasia rambut Batin Tikal mengingatkan kita pada sejarah masa Hindia Belanda, tentang seorang pejabat pejuang timah yang menolak monopoli. Ia bahkan rela melepaskan jabatannya demi membela kepentingan pribumi,” ujar Dr. Rita Zahara Rebuin, pengasuh Sanggar Buluh Perindu Pangkalpinang.
Salah satu kisah paling populer terkait ‘kesaktian’ Batin Tikal adalah peristiwa meninggalnya Kapten DW Backing, seorang perwira Belanda yang disebut-sebut mencoba memotong rambut sang pejuang.
Menurut penuturan warga Desa Gudang, ketika gunting menyentuh rambut Batin Tikal, tiba-tiba petir menyambar sang kapten hingga “mati berdiri”, padahal cuaca saat itu digambarkan cerah. Kisah ini terus hidup dalam tuturan masyarakat, diperkuat oleh berbagai versi kesaksian yang dipercaya secara turun-temurun.
Terlepas dari dimensi mitologisnya, kepercayaan terhadap rambut Batin Tikal kini juga menjadi objek kajian ilmiah.
Mahasiswi Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Salsabilla Mutiara Maharani, mengangkat tema ini dalam skripsinya yang berjudul “Persepsi Masyarakat terhadap Mitos Rambut Batin Tikal di Desa Gudang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.”
Melalui penelitiannya, Salsabilla menemukan bahwa persepsi masyarakat tidak bersifat tunggal. Sebagian warga, terutama yang berusia di atas 40 tahun, masih memandang rambut Batin Tikal sebagai benda sakral yang memiliki dimensi spiritual. Sementara generasi muda cenderung menempatkannya sebagai warisan sejarah dan simbol budaya.
Meski berbeda dalam penafsiran, kedua kelompok tersebut memiliki kesamaan sikap: penghormatan terhadap Batin Tikal sebagai pejuang daerah tetap kuat dan tidak tergoyahkan.
Atas keberhasilan menyelesaikan karya ilmiah tersebut, Salsabilla resmi dikukuhkan dan menyandang gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Senin (10/2/2026) setelah diyudisium di Gedung Graha Sriwijaya bersama 152 sarjana lainnya.
Sebelumnya, kajian tentang Batin Tikal juga telah melahirkan karya akademik tingkat doktoral. Disertasi berjudul “Kuasa Simbolik Rambut Keramat Batin Tikal di Kampung Gudang Basel” mengantarkan Rita Zahara Rebuin meraih gelar doktor pada 17 Juli 2025.
Dari cerita rakyat hingga ruang seminar akademik, rambut Batin Tikal menunjukkan bagaimana simbol lokal dapat menjembatani mitos dan ilmu pengetahuan. Ia tidak lagi sekadar kisah sakti, tetapi telah menjadi bahan refleksi tentang identitas, kuasa simbolik, dan daya tahan memori kolektif masyarakat Bangka Selatan.***